Remaja Sadis Buah Sistem Kapitalis, Nasib Generasi Semakin Miris


Oleh Dewi Soviariani

Ibu dan Pemerhati umat


Status pelajar hari ini semakin ternodai. Rusaknya moral remaja yang bergelar siswa semakin memperlihatkan potret buram yang melahirkan perbuatan kejam tak berperikemanusiaan. Publik dikejutkan dengan berita yang datang dari kota Borneo.


Seorang pelajar SMK berinisial J (17) menjadi pelaku pembunuhan satu keluarga di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.  Korban satu keluarga yang berjumlah lima orang itu ditemukan tewas terbunuh pada Selasa (6/2/2024/ Kompascom).


Remaja hari ini memiliki kepribadian yang rusak, berjiwa sadis tidak lagi memiliki rasa takut. Karena dendam pada keluarga korban  dan cintanya diputuskan sang kekasih yang juga menjadi korban, akhirnya hilang akal melakukan perbuatan keji tersebut.


Apalagi sebelum mengeksekusi para korban, pelaku minum-minuman keras. Bahkan aksi keji tersebut diakhiri dengan memperkosa kedua korban wanita yakni sang ibu yang berinisial SW (34) dan RJS (15) anak perempuan pertama, yang juga merupakan mantan pacar pelaku.


Apa sebenarnya yang membuat pelaku begitu nekat melakukan aksinya? Tentu ini bukan sekedar hanya didorong permasalahan pribadi semata. Namun peran lingkungan kehidupan yang saat ini jauh dari rambu-rambu aturan Allah Swt menjadi salah satu faktor utama. Kehidupan sekuler, merupakan cara menjalani hidup dengan memisahkan agama dari kehidupan kini diadopsi oleh kaum muslimin.


Apalagi kurikulum pendidikan yang meminggirkan Islam sebagai pedoman hidup tidak akan pernah menghasilkan generasi bertakwa. Padahal, takwa selalu bersanding dengan iman dan keimanan yang kuat akan mencegah seseorang berbuat jahat dan maksiat. Keimanan yang seperti ini tidak bisa terwujud dalam model kurikulum sekuler. Sekolah dengan kurikulum sekuler hanya mencetak generasi rusak.


Hidup masyarakat muslim saat ini begitu bebas tanpa mau terikat oleh aturan Al-Khaliq. Ditambah lagi negara mempertegas dengan hukum-hukum buatan akal manusia. Setiap tindak kriminal diputuskan dengan hukum yang berlaku oleh negara yang tidak menimbulkan efek jera.


Dalam kasus tersebut menurut penjelasan Kasat Reskrim Polres PPU, AKP Dian Kusnawan. Pelaku akan berusia 18 tahun atau memasuki usia dewasa pada 27 Desember 2024. Namun, status hukum pelaku sebagai anak di bawah umur tidak berubah dalam kurun waktu 20 hari ke depan. J tersangka pembunuhan satu keluarga di Penajam Paser dijerat pasal 340 KUHP subsider pasal 338 KUHP juncto pasal 60 ayat 3 juncto pasal 76 huruf C Undang-undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mati atau sekurang-kurangnya penjara seumur hidup.


Tentunya dari penjelasan tersebut dapat kita lihat bagaimana peluang hukum untuk pelaku tidak setimpal dengan perbuatan bejatnya. Jika ukuran hukuman paling minimal adalah hukuman seumur hidup, maka dengan demikian pelaku memiliki kesempatan bebas kemudian.


Hukuman yang tidak setimpal dengan perbuatan seolah sudah menjadi keadaan yang wajar dinegeri yang menganut demokrasi ini. Bahkan tidak sedikit berlindung dibawah payung HAM. Hukum bisa berubah haluan. Maka tak heran perbuatan kriminal akan terus bermunculan, malah mirisnya para pelaku semakin lama adalah mereka yang masih berusia belia.


Itulah fakta potret buram dunia pendidikan hari ini. Output generasi yang dihasilkan semakin tak berbudi. Perbuatan keji mewarnai kehidupan remaja kini. Apalagi budaya minum-minuman keras dijadikan tradisi, lengkap sudah semua menjadi alat perusak generasi.


Harapan masyarakat negara mengayomi, namun harapan tak sesuai kenyataan. Undang-undang gagal menangkal kejahatan. Kemana harus mencari perlindungan sejati. Semakin hari tindak kejahatan makin menjadi-jadi.


Remaja terpapar budaya sekuler barat. Kehidupan bebas dijadikan kiblat. Hidup hedonis mabuk-mabukan, pacaran, tawuran dan segala bentuk kebebasan bertingkah laku menjadi tuntunan yang membuahkan kerusakan. Negara tidak memperhatikan nasib generasi. Bahkan akses pornografi, serta tayangan rusak dengan adegan kekerasan terus dipertontonkan. Remaja yang paling pertama menyerap kerusakannya tanpa filter.


Berkaca dari kasus pelaku siswa SMK yang membunuh satu keluarga tadi, ternyata ia menyukai hal-hal berbau anime dan film anime bergenre dewasa yang mengandung unsur pornografi dan penyimpangan seksual. Budaya asing masuk begitu mudah dan memengaruhi perilaku generasi. Jika akses internet demikian bebas, bukan tidak mungkin generasi terpapar tindak kriminal dari aktivitas mereka di dunia maya. Di sinilah peran negara sangat penting. Mulai dari penyusunan kurikulum, sistem pendidikan, hingga pengawasan digital. 


Lantas apakah kita akan terus berdiam diri menyaksikan generasi kita hancur akibat sistem kehidupan yang rusak ini? Kita butuh sebuah solusi hakiki yang menyelamatkan remaja kita untuk menjadi pionir peradaban dunia. 


Sebagai negeri mayoritas muslim hanya dengan melanjutkan kehidupan Islam kita akan menemukan jalan keluar yang terbaik. Islam adalah sebuah agama sekaligus sistem kehidupan yang memiliki mekanisme lengkap untuk mengatur kehidupan manusia.


Islam pernah diterapkan dalam kehidupan bernegara selama 14 abad silam. Dalam penerapannya negara Islam merupakan negara yang berhasil membawa dunia dalam kemajuan peradaban. Bahkan sejarah mencatat minimnya angka kriminalitas sepanjang Islam berkuasa.


Sistem pendidikan dalam Islam diselenggarakan oleh negara. Sistem pendidikan berbasis akidah Islam untuk membentuk generasi berkepribadian Islam. Negara wajib memenuhi kebutuhan pokok rakyat sehingga masyarakat terhindar dari berbagai kejahatan. 


Ketakwaan individu menjadi salah satu pilar pengokoh nya. Pendidikan ini diawali dari lingkungan keluarga yang menanamkan akidah Islam sehingga terbentuk mafahim Islam yang benar. Ketakwaan individu yang dibentuk dari lingkungan keluarga ini akan membentuk karakter keimanan dan ketaatan sehingga mencegah setiap anak dari melakukan tindakan maksiat. Mereka akan memahami halal haram sebagai asas perbuatan. Sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi dewasa yang memiliki kepribadian Islam yang khas.


Kemudian adanya kontrol dari lingkungan masyarakat. Dalam negara yang menerapkan Islam, amar makruf nahi mungkar menjadi sebuah budaya yang senantiasa diamalkan dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Tentunya kebiasaan baik ini ikut menekan berkembangnya kejahatan. Kehidupan sosial dalam negara Islam terkontrol dengan baik.


Negara dalam hal ini memiliki peran penting dalam menjalankan syariat. Penerapan hukum syara dipastikan berjalan secara menyeluruh sehingga negara mampu menjalankan perannya dalam mengayomi masyarakat dari melakukan perbuatan kejahatan.


Hukum diberlakukan secara adil pada seluruh lapisan masyarakat. Islam memberikan sanksi tegas terhadap setiap pelanggaran hukum. Tanpa pandang bulu, apalagi berdasarkan perasaan dan hawa nafsu.


"Wahai manusia, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah jika ada orang yang mulia (memiliki kedudukan) di antara mereka yang mencuri, maka mereka biarkan (tidak dihukum), namun jika yang mencuri adalah orang yang lemah (rakyat biasa), maka mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya’” (HR. Bukhari no. 6788 dan Muslim no. 1688).


Tidak seperti sanksi hukum pada negara yang menganut sistem sekuler, selalu ada celah dengan dalih masih dibawah umur sehingga bisa terlepas dari jerat hukum. Berdasarkan UU 11/2012, kelompok usia yang digolongkan sebagai “anak” dalam ranah perkara hukum    adalah yang berusia 12—17 tahun. 


Sementara itu, Islam tidak mengenal penggolongan semacam ini. Dalam pandangan Islam, ketika anak sudah memasuki masa balig, ia terikat dengan hukum-hukum Islam. Artinya, ia sudah menjadi seorang mukalaf (orang yang terbebani hukum) atas setiap amal perbuatannya, termasuk konsekuensi sanksi yang akan menjeratnya jika ia terbukti berbuat kriminal.


Negara juga akan melakukan tindakan yang tegas terhadap sarana maupun prasarana yang menjadi wasilah pendukung berjalannya perbuatan maksiat. Seperti memblokir situs pornografi, melarang berdirinya tempat prostitusi, termasuk melarang industri miras yang menjadi induk kejahatan.


“Minuman keras itu induk dari hal-hal yang buruk, siapa yang meminumnya, maka salatnya tidak diterima selama empat puluh hari, jika ia meninggal sedangkan minuman keras berada di dalam perutnya, maka ia akan meninggal dunia dalam keadaan jahiliah.” (HR Thabrani)


Allah telah jelas melarang peredaran miras hingga yang terkena dosa bukan hanya peminumnya saja tetapi juga penjualnya dan orang-orang yang terlibat di dalam peredarannya, seperti sopir pengangkut miras, orang yang mengambil untung dari penjualan miras, kuli angkutnya, yang mengoplosnya, dan lain-lain.


Inilah mekanisme Islam yang begitu terperinci untuk menjaga generasi dari kerusakan moral. Dengan melanjutkan kehidupan Islam kita akan memperoleh solusi hakiki. Dalam sebuah sistem kehidupan yang begitu kita rindukan ditengah kubangan kerusakan yang diakibatkan oleh penerapan ideologi sekuler kapitalis. Sudah saatnya negeri mayoritas muslim ini mengambil pilihan tersebut untuk menyelamatkan generasi. Hagemoni kapitalisme yang telah bercokol kedalam tubuh umat Islam sudah saat nya ditinggalkan.


Wallahu A'lam Bishawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post