Remaja Pembunuh: Bukti Gagalnya Pendidikan Moral Kapitalisme




Oleh Triana Amalia 

Aktivis Muslimah


Sebuah berita mengegerkan, datang dari Kepolisian Penajam Paser Utara (PPU) Kalimantan Timur yang mengungkap kasus pembunuhan oleh seorang remaja berinisial J (16 tahun) terhadap satu keluarga yang berjumlah 5 orang. Motif pembunuhan diduga persoalan asmara dan dendam pelaku terhadap korban. 


Antara pelaku dengan korban saling bertetangga. Kejadian ini berlatar tempat di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu. Pelaku merupakan remaja masih di bawah umur kelas 3 SMK. (media online Republika, 08/02/2024). Selain membunuh, pelaku juga menyetubuhi jasad SW (34 tahun), istri korban Waluyo, dan RJ (15 tahun) anak pertama Waluyo. Aksi bejat J dilakukan tak lama setelah dia menghilangkan nyawa Waluyo sekeluarga. AKBP Supriyanto merinci kondisi korban saat ditemukan tewas, yakni mengalami luka parah di bagian kepala yang diduga akibat sabetan sebilah parang panjang. 


Berdasarkan aturan hukum pasal 340 KUHP subs pasal 338 KUHP subs Pasal 365 KUHP Jo Pasal 80 Ayat (3) Jo Pasal 76c UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup. Dengan kata lain, hukuman pelaku antara hukuman mati atau penjara seumur hidup. (media online Jawapos, 08/02/2024)


Berikut kronologi pembunuhan tersebut. Sebelum peristiwa penghilangan nyawa itu terjadi, keluarga tersangka dan korban sempat ada konflik sepele yaitu masalah ayam dan korban belum mengembalikan helm yang telah dipinjam selama tiga hari. 


Sementara dari keterangan keluarga korban, salah satu korban yakni RJS (15 tahun) pernah menjalin hubungan asmara dengan pelaku. Namun, mereka tak direstui oleh orang tua RJS karena remaja 15 tahun itu memiliki pasangan lain. Sebelum melakukan aksinya, pelaku sempat meminum minuman keras bersama temannya di lokasi yang tak jauh dari rumah korban. 


Tersangka sempat pulang ke rumahnya untuk mengambil parang, kemudian menuju rumah korban untuk melakukan aksinya. Pelaku sempat mematikan lampu di rumah korban lalu menebas korban pertama yaitu Waluyo di kepala menggunakan parang. (media online Kompas, 07/02/2024)


Usai melakukan aksi kejinya, J pulang ke rumah dan berganti baju. Dia lalu mengajak kakaknya melapor ke RT setempat mengenai kejadian pembunuhan. Namun, J beralibi melihat ada tiga hingga sepuluh orang melakukan aksi pembunuhan tersebut. Mendengar laporan itu, pihak RT pun menghubungi polisi. J awalnya dibawa ke Polres Penajam Paser Utara untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Namun, polisi menilai tidak sesuai dengan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP). Saat dilakukan penyelidikan lanjutan oleh pihak Polres Penajam Paser Utara, J akhirnya mengakui dirinya yang menghabisi keluarga tersebut. (Kompas.com, 08/02/2024)


Kasus ini penggambaran buram pendidikan Indonesia yang gagal mewujudkan siswa didik yang berkepribadian terpuji dan tega melakukan perbuatan sadis dan keji. Selain itu kasus ini menunjukkan potret lemahnya sistem sanksi yang tidak mampu mencegah individu melakukan kejahatan. 


Negara yang menerapkan sistem kehidupan kapitalisme menganut kebebasan dalam berperilaku. Pedoman hidup umat Islam yaitu Al-Qur'an hanya dijadikan pilihan bukan kewajiban. Sehingga banyak kerusakan moral di negara yang kita pijak ini. 


Arah pendidikan generasi di Indonesia ini malah berorientasi kepada manfaat atau material semata. Menciptakan mesin-mesin bagi penopang berjalannya sistem kapitalisme yang sangat jauh dari nilai-nilai agama dan moral yang luhur. Pembelajaran moral itu ada di mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), tetapi hanya dua jam setiap pekan. Itu pun mengajari gaya hidup ala kapitalisme. 


Berbuat baik itu hanya pilihan semata. Maraknya kasus-kasus perundungan, kekerasan fisik, bahkan pencurian, pemakaian narkoba, serta kebabasan seksual yang melahirkan banyak masalah kesehatan dan sosial masih mendominasi di kalangan pemuda. 


Remaja seolah tidak memiliki prinsip atau petunjuk dalam menjalani kehidupannya. Hidup hanya berasaskan manfaat. Selama pola pikirnya menjadikan manfaat sebagai tolok ukur, mereka akan bersikap oportunis, pragmatis, permisif, liberal, dan hedonis. Inilah ciri khas dari sebuah generasi yang diciptakan dari sistem sekuler kapitalistik. 


Berikut ini tiga faktor yang menyebabkan gagalnya pendidikan moral ala kapitalisme: 


1) Kurikulum. Kurikulum bisa menjadikan generasi itu rusak karena kurikulum menjadi ruh yang berpengaruh terhadap performa individu, generasi dan berpengaruh terhadap performa bangsa.

 

Melihat kurikulum saat ini yang senantiasa berubah ternyata tidak memiliki standar baku, tetapi sesuai keinginan pembuat kurikulum. Hanya saja, basisnya sama, yakni sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan. 


Kemudian yang menjadi tuntutan kurikulum ini tidak lain kepada hal-hal bersifat materi, menghasilkan produk, dan ketika lulus sekolah bisa bersaing di dunia kerja, tetapi miskin nilai dan moral agama. 


Hal ini dipaparkan oleh Dwi Hendriyanti, S.Pd. (31/12/2022) dikutip dalam Muslimah News.net. Ia menambahkan, kurikulum yang menganut sekularisme ini, contohnya tampak pada moderasi beragama yang diklaim mampu membentuk generasi yang cerdas, religius, dan humanis. Faktanya, yang terjadi sebaliknya. Cerdasnya tidak menjadikan agama sebagai landasan berpikirnya. Religius dan humanis juga faktanya mereka jauh dari unsur-unsur ketuhanan. 


2) Peran guru. Saat ini mulai terbaca adanya disorientasi mendidik. Guru menganggap ketika mengajar, yang penting selesai dan pulang. Ada juga yang menganggap, mengajar yang penting tercukupi 24 jam, atau yang penting selesai menyampaikan materi pelajaran sekian waktu. 


Sedangkan untuk menyampaikan pemahaman agama, memang mungkin ada yang memberikan, tetapi yang kurang memberikan pemahaman agama juga banyak. Guru disibukkan dengan berbagai administrasi yang sangat menguras energi. Ini tentunya transfer behaviour (perilaku) menjadi tidak ada. 


3) Lingkungan. Bisa jadi anak-anak di lingkungan keluarga sudah diberikan bekal pemahaman agama yang baik, kemudian diproteksi oleh keluarga dengan berbagai aturan yang kita anggap sudah sesuai dengan Islam. 


Faktanya, ketika mereka terjun ke lingkungan yang ternyata rusak, mereka bisa terpengaruh atau terwarnai. Artinya, lingkungan tidak bisa menjamin seorang anak itu saleh dan salihah, meskipun di keluarganya sudah diberikan pemahaman agama yang baik. 


Membaca semua kenyataan ini maka solusi yang ditawarkan hanya diterapkannya sistem pemerintahan Islam (Daulah Islam).  Aturan pendidikan dalam kehidupan Islam membentuk kepribadian Islam. Adab dan ilmu ditegakkan beriringan sehingga mewujudkan sebaik-baik manusia yang memiliki akhlak yang baik serta bermanfaat bagi banyak orang. 


Sejak dini, Islam sudah diajarkan dan dipraktikkan dalam kehidupan remaja dan pemuda. Tentu daya dukung dari penerapan syariat Islam di tengah kehidupan yang akan menjaga mereka untuk senantiasa menyelaraskan perbuatan atau sikapnya sesuai dengan aturan Islam yang luhur. 

Sistem Islam menciptakan generasi dengan moral yang luhur dan kuat secara fisik. Mereka menginternalisasikan ideologi yang berasal dari wahyu Allah Swt. yakni Islam. Dengan ini lahir insan demi insan yang bermental kuat seperti Ali bin Abi Thalib ra., Utsman bin Affan ra., Abu Bakar ra., Umar bin Khathab ra., dan generasi selanjutnya seperti Muhammad al-Fatih. 


Begitu juga dengan sistem sanksi dalam Islam. Sanksi dalam Islam berfungsi sebagai jawabir (penebus dosa pelaku) dan zawajir (pencegah orang lain berbuat yang serupa). Sanksi bagi pelaku kriminal tidak selalu penjara sebagaimana dalam sistem sekuler, melainkan sesuai dengan jenis kejahatannya misalnya kisas adalah hukuman untuk pembunuhan yang disengaja. 


Begitulah cara ideologi Islam bekerja agar keseimbangan dalam hidup terus berjalan. Nyawa manusia tidak akan melayang begitu saja hanya karena perkara perasaan. Pemimpin yang berideologi Islam sangat fokus menciptakan generasi masa depan dengan berbagai kebijakan dan fasilitas yang mendukung visi serta cita-cita mulia sesuai dengan apa yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. 


Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post