Pesta Demokrasi Rawan Gangguan Mental?


Oleh. Sri Sulhah


Tinggal beberapa hari lagi pesta demokrasi akan digelar, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2024. Pihak BAWASLU dan jajaranya sedang begitu sibuk menyiapkan pelaksanaan pemilu agar berjalan dengan lancar dan sesuai harapan. Namun ternyata tidak hanya pihak-pihak yang terkait dengan pesta demokrasi saja yang sibuk, tapi ada juga dari pihak Rumah Sakit yang ikut sibuk menyiapkan dokter dan ruangan rawat inap untuk pasien. Kira-kira apa hubunganya pesta demokrasi dengan Rumah Sakit? Apakah pihak Rumah Sakit menyediakan tempat untuk para petugas pemilu yang kelelahan dan diperlukan perawatan?

Anggota Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta menyiapkan layanan konseling maupun fasilitas kesehatan kejiwaan untuk calon anggota legislatif (caleg) Pemilu 2024 yang stres karena gagal terpilih.


Sejumlah RS/RSJ bersiap menangani caleg depresi akibat gagal terpilih.  Persiapan ini sebagai antisipasi berdasarkan pengalaman pemilu-pemilu sebelumnya.  


“Kita sebenarnya sudah memiliki dokter spesialis penyakit jiwa, jadi untuk kegiatan pasien-pasien yang kasus ringan itu bisa dilakukan dengan rawat jalan. Rencananya ada 10 ruangan VIP untuk persiapan Pemilu," kata Irfan Agusta, Wadir Pelayanan RSUD Oto Iskandar Dinata dalam tayangan Kompas Petang, Jumat (24/11/2023).


Layanan yang diberikan RS Oto Iskandar Dinata nantinya ditujukan bagi caleg yang mengalami gangguan kejiawaan seperti gelisah, gemetar dan susah tidur hingga cemas.

Tidak hanya di RS Oto Iskandar Dinata, RSUD dr. Abdoer Rahiem Situbondo, Jawa Timur juga sedang menyiapkan ruangan khusus rawat inap.

Direktur RSUD dr Abdoer Rahiem, Roekmy Prabarini mengatakan saat ini pihaknya sedang membangun ruang rawat inap jiwa untuk pasien dengan gangguan mental psikologis seperti caleg yang stres.


"Saat ini kami dalam pembangunan ruang rawat inap jiwa baik yang akut maupun kronis atau yang ringan," kata Roekmy (Jakarta, kompas ATV)

Fenomena ini membuktikan bahwa pemilu dalam sistem hari ini rawan mengakibatkan gangguan mental.


Pemilu hari ini berbiaya tinggi, sehingga pasti membutuhkan perjuangan dengan mengerahkan segala macam cara untuk meraih kemenangan.  Di sisi lain, hari ini jabatan menjadi impian, karena dianggap dapat menaikkan harga diri /prestise, juga jalan untuk mendapatkan keuntungan materi dan kemudahan/fasailitas lainnya.


Psikiater sekaligus Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional DR Dr Nova Riyanti Yusuf, SpKJ mengatakan calon legislatif (caleg) yang mencalonkan diri namun tanpa tujuan yang jelas rentan mengalami gangguan mental.


“Tapi kalau caleg mencalonkan diri tapi tujuannya tidak jelas, kemudian kalah, pasti kecewa berat,” kata Nova pada diskusi daring, Senin.


Nova mengatakan, banyak pasien yang pernah gagal saat mencalonkan diri sebagai caleg kemudian terlilit hutang atau kecewa berat hingga depresi dan mengakhiri hidupnya.


Kekuatan mental seseorang akan menentukan sikap seseorang terhadap hasil pemilihan. Pendidikan hari ini berpengaruh terhadap kekuatan mental seseorang.  Faktanya, Pendidikan hari ini gagal membentuk individu berkepribadian kuat, terbukti meningkatnya kasus gangguan mental di Masyarakat.


Mempersiapkan mental sebelum dan sesudah terjun ke dunia politik adalah modal utama bagi para pemimpin dan calon legislatif. Menanamkan dalam jiwa untuk siap kalah adalah sebuah keharusan.


Disamping membutuhkan modal yang besar, daftar calon tentu tidak sebanding dengan jumlah kursi yang tersedia. Untuk itu, para caleg harus mempersiapkan mental sematang mungkin

Islam memandang kekuasaan dan jabatan adalah Amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, dan harus dijalankan sesuai ketentuan Allah dan RasulNya. 

Rasulullah saw. bersabda:

فَاْلاِمَامُ الَّذِيْ عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Imam atas manusia adalah pengurus rakyat dan dia dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya (HR al-Bukhari).

Itulah amanah yang harus ditunaikan sebagaimana yang disebutkan dalam al-Quran bersamaan dengan tugas penegakan keadilan.

۞إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا ٥٨

Sesungguhnya Allah SWT memerintahkan kepada kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak menerimanya (QS an-Nisa’ [4]: 58).

amanah adalah perkara yang berat. Oleh karena itulah Rasulullah saw. mengingatkan Abu Dzar yang dinilai tidak cocok untuk tidak meminta jabatan:

يَا أبا ذَرَ إنّكَ ضَعِيفٌ وإنها أَمَانَةٌ، وإنها يوم الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إلا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقّهَا وَأَدّى الّذِي عَلَيْهِ فِيهَا

Wahai Abu Dzar, sungguh engkau itu lemah. Sungguh jabatan ini adalah amanah. Ia akan mendatangkan kehinaan dan penyesalan pada Hari Kiamat, kecuali orang yang mengambil amanah itu dengan haq dan menunaikannya dengan sebaik-baiknya (HR Muslim).


Para sahabat Rosulullah seperti Umar justru sangat takut ketika beliau diangkat sebagai khalifah. Karena beratnya beban yang akan dia tanggung dihadapan Allah SWT. Karena satu saja ada rakyat yang kelaparan maka seorang pemimpin akan mendapatkan dosanya. 


Sistem pendidikan Islam  menghantarkan individu emahami kekuasaan adalah amanah dan beriman pada qadha dan Qadar yang telah ditetapkan Allah, dan melahirkan individu yang selalu dalam kebaikan karena selalu bersyukur dan bersabar, terhindar dari gangguan mental. Yaitu kurikulum Pendidikan wajib berlandaskan akidah islam. Wallahua'lam bisowab

Post a Comment

Previous Post Next Post