Minim Antisipasi Kasus DBD Mengancam Keselamatan Generasi


Oleh : Iffa


DBD merupakan penyakit yang sangat berbahaya sebab tingkat kematiannya tinggi dan hingga kini belum ditemui obatnya. Indonesia masuk kedalam salah satu dari 30 negara endemic dengue dengan kasus tertinggi, terlebih sebagian besar yang terjangkit adalah anak-anak dan diprediksi akan semakin meningkat. Oleh karena itu DBD harus menjadi perhatian bersama.


Data Kemenkes RI melaporkan total kasus DBD meningkat dari 73.518 orang pada 2021 menjadi 131.265 kasus pada 2022. Mirisnya  73% dari dari 1.183 kematian akibat DBD adalah anak-anak berusia 0-14 tahun (Kompas,3-2-2024). Misalnya di Kabupaten Cianjur, terdapat 219 kasus dari jumlah tersebut dua anak dengan rentang usia 6-14 tahun meninggal. (PikiranRakyat,4-2-2024)


Begitupula yang terjadi di Kalimantan Selatan, per 27 januari 2024. Sebanyak 1.062 orang terjangkit DBD, 8 orang diantaranya meninggal dunia. Sebagian besar pasien yang dirawat adalah anak-anak usia 5-13 tahun. Dinas Kalsel mengatakan bahwa kasus DBD bulan ini meningkat signifikan dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun lalu.(Kompas, 1-2-2024)


Diejlaskan oleh Wakil Mentri Kesehatan Republik Indonesia, Prof dr Dante Saksosno Harbuwono SpPD PhD, bahwa biasanya penambahan kasus DBD di Indonesia mulai naik di bulan November dan puncaknya terjadi sekitar bulan Februari. Apalagi dengan suhu panas yang sekarang dibawa oleh El Nino. Selain itu penyebab peningkatan tingginya DBD dipicu oleh musim hujan yang menyebabkan jentik nyamuk sangat mudah berkembang biak sebab banyak genangan air yang dibiarkan disekitar pemukiman seperti kaleng, botol, talang air, ban bekas, sampah dan sebagainya.


*Pencegahan DBD*


Akan tetapi BDB adalah penyakit yang dapat dicegah dengan beberapa langkah yang harus dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak termasuk masyarakat salah satu caranya dengan melakukan tindakan PSN 3M, yakni Pemeberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras tempat penampungan air, Menutup tempat penampungan air dan Mendaur ulang barang yang memiliki potensi untuk dijadikan sarang nyamuk Aedes aegypti.


Sehingga perilaku hidup masyarakat yang kurang memperhatikan kebersihan lingkungan menjadi faktor pemicu yang signifikan dalam terciptanya wabah DBD. Maka dibutuhkan adanya kesadaran pencegahan dengan memahami sejak dini dan terwujud system yang kuat untuk mengantisipasi kegiatan tersebut serta peran negara.


*Mengapa DBD Kian Meningkat*


Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari penyuluhan pentingnya PSN 3M, fogging hingga program introduksi vaksin DBD. Namun mengapa tren wabah DBD malah kian meningkat ?


1. Ruang hidup rakyat yang memprihatinkan. Data dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mayoritas masyarakat tidak bisa mengakses rumah layak huni. Jangankan untuk bisa menjaga lingkungan untuk tetap bersih dan sehat, tinggal di rumah layak huni saja masih sulit. Bahkan banyak dari mereka yang tidak memiliki rumah dan terpaksa menggelandang.


2. Mayoritas masyarakat Indonesia berpenghasilan rendah (miskin). Untuk bisa memenuhi asupan bergizi pada anak saja masih kesulitan, padahal  agar penanganan  DBD berhasil, imunitas tubuh harus terjaga, salah satunya dengan memberikan asupan bergizi pada anak. Sayangnya, jangankan asupan bergizi, untuk dapat makan kenyang saja masih kesusahan.


3. Tidak adanya jaminan kesehatan yang mumpuni. BPJS bukanlah jaminan kesehatan sebab nyatanya rakyat masih harus membayar premi. Sehingga masih banyak rakyat tidak mampu mengakses kesehatan dengan layak. Terlebih lagi birokrasi BPJS yang rumit sering kali menghambat terpenuhinya hak sehat bagi rakyat.


*Kebijakan Kapitalistik*


Menyoroti fakta di atas, maka melakukan pencegahan BDB saja tidaklah cukup dengan melakukan penyuluhan, melainkan membutuhkan pula kekuatan ekonomi. Oleh karena itu, akar permasalahan wabah DBD tidak terlepas dari kebijakan yang kapitalistik sehingga menjadikan rakyat kesusahan mendapatkan seluruh kebutuhan dasarnya karena Negara menyerahkan urusan pengadaan perumahan kepada swasta.


Sedangkan swasta orientasinya adalah keuntungan, alhasil tidak lagi terpenuhinya kebutuhan rakyat akan papan. Sehingga kita menemukan perumahan yang masif, akan tetapi semua itu tidak bisa diakses oleh rakyat karena harganya yang tidak terjangkau. Belum lagi kebijakan ekonomi yang miskin semakin miskin. Kebijakan yang pro terhadap penguasa, seperti kebijakan upah dalam UU Omnibus Law Cipta Kerja formulasi yang menjadikan upah buru semakin rendah dengan jam kerja yang panjang sedangkan kebutuhan pokok ekonomi semakin tinggi. Kondisi ini membuat rakyat kian jauh dari asupan bergizi.


*Solusi Tuntas Islam*


Islam memiliki solusi tuntas atas setiap permasalahan yang terjadi sebab islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin salah satunya mengatasi permasalahan wabah. Dalam islam Negara sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap seluruh kebutuhan rakyatnya, seperti kebutuhan pokok, mulai dari sandang, pangan dan papan termasuk kesehatan, keamanan, dan pendidikan dapat diakses oleh seluruh rakyatnya.


Begitupula kebutuhan asupan bergizi, Negara menjamin seluruh laki-laki pencari nafkah untuk mendapatkan pekerjaan. Jika ada kepala rumah tangga yang tidak bisa mencari nafkah karena sakit ataupun memilki keterbatasan (cacat) dan tidak ada kerabatnya yang tidak bisa membantu maka Negara yang akan turun taangan untuk menyatukan keluarga tersebut.


Begitupun dengan system kesehatan yang akan dikelola/dipegang oleh Negara sehingga setiap masyarakat dapat mengakses dan merasakannya. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan tersebar merata diseluruh wilayah. Sehingga penangan pasien DBD tertangani dengan mudah, cepat dan baik.


Oleh sebab itu, jika kebijakan berfokus pada kemaslahatan umat, maka kebutuhan pokok setiap rakyat akan terpenuhi termasuk kesehatan. Negara juga mengoptimalkan edukasi pada masyarakat bahwa menjaga kesehatan bagian dari perintah Allah SWT. Dengan atas dorongan ketakawaan rakyat dengan ringan menjaga lingkungannya agar tetap bersih, terawat dan sehat. Negara juga menyiapkan upaya pencegahan dengan teknologi unggul dan merata disemua wilayah Daulah Islam. Inilah jaminan islam untuk memberantas wabah secara tuntas.


 Wallahualam bissawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post