Menelaah Sekuel Berulang Persoalan Terorisme


Oleh: Rifdah Reza Ramadhan, S.Sos.


Sepanjang tahun 2023 bahkan hingga awal 2024 ini, Densus 88 Anti Teror  Polri melakukan penangkapan terhadap tersangka terorisme. Sebagaimana yang dilakukan kepada terduga teroris berinisial T (38 tahun) warga desa Mliwis, Cepogo diamankan  oleh Densus Anti Teror Polri di wilayah Boyolali, Jawa Tengah, pada (27/1/2024). Dikatakan bahwa T merupakan buruh kerajinan tembaga dan kuningan yang dikenal warga berperilaku baik dan tidak ada kontradiktif dengan masyarakat sekitar. (Republika, 28/1/2024).


Mantan Kabid Humas Polda Metro Jaya mengatakan, sebanyak 10 terduga teroris ini mempunyai fungsi pendukung operasional kelompok Jamaah Islamiyah (JI) dan sampai saat ini penyidik masih mendalami peran dan keterlibatan masing-masing dari tersangka. (Humas Polri, 26/1/2024).


Di akhir tahun 2023 pun Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karopenmas) Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Ahmad Ramadhan pada acara konferensi pers terkait pengungkapan jaringan terorisme Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dan Negara Islam Indonesia (NII) di Bareskrim Polri mengimbau agar masyarakat aktif dalam mencegah penyebaran terorisme, salah satunya pun dengan aktif melaporkan jika ada kegiatan yang mengarah pada tindak pidana terorisme.


Menanggapi hal itu, maka perlu dilakukan pendalaman lebih atas motif persoalan hal ini, karena tidak dapat dipungkiri istilah terorisme sering kali dimaknai secara sepihak oleh para penguasa. Pun tidak jarang bernuansa menyudutkan umat Islam. Bahkan hal semacam ini bukan hanya terjadi pada skala nasional tetapi juga skala internasional. 


Sebagaimana teroris sering dinarasikan sebagai musuh negara, bahkan dunia. Padahal pada nyatanya ada musuh yang benar-benar membahayakan kehidupan rakyat seperti paham sekularisme, pluralisme, dan liberalisme. Namun, negara justru diam bahkan menyuburkannya.


Maka, musuh negara pasti berorientasi pada landasan negara itu sendiri. Negara yang berlandaskan sistem kapitalisme pastinya akan menangkap sosok atau gerakan yang menghalangi langkahnya untuk mendapatkan keuntungan di sistem ini. Imbasnya, Islam sering kali mendapatkan penyudutan karena dianggap ekstrim, radikal, dan sebagainya.


Padahal mereka yang menggenggam Islam dengan utuh dan berupaya menerapkannya secara sempurna adalah semata-mata karena bukti ketaatannya sebagai seorang muslim. Hal ini pun yang dilakukan Rasulullah SAW dalam menegakkan agama Allah SWT untuk diterapkan secara sempurna demi menciptakan kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan hakiki.


Selama sosok dan gerakan tidak menyimpang dari hukum syara dan apa-apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, maka hendaknya mereka tidak mendapatkan persekusi apa pun. Nanum, jika mereka adalah sosok atau gerakan yang berlandaskan pada kesesatan, penyimpangan, dan upaya yang jauh dari yang hukum syara dan yang Rasulullah SAW contohkan, maka hendaknya mereka mendapatkan hukuman yang setimpal dan adil atas perbuatan itu.


Beranjak lebih jauh, persoalan terorisme ini pun menjadi sekuel berulang untuk menciptakan kondisi tertentu sesuai yang diinginkan oleh siapa saja yang memiliki kepentingan dan kuasa. Bahkan mirisnya hingga dapat  dikatakan sebagai proyek tahunan yang dilakukan demi kucuran cuan, terlebih mendekati tahun politik yang sangat erat dengan berbagai kepentingan.


Sebagai muslim, jangan sampai termakan oleh narasi dan penggiringan opini begitu saja. Kita perlu lebih kritis bahwa pada nyatanya ada sosok-sosok yang berusaha mencitraburukkan Islam. Upaya itu terus-menerus dilangsungkan karena ada motif keuntungan pula di dalamnya. Hal ini dapat dilihat dengan adanya biaya pendanaan di dalamnya yang sering kali dimanfaatkan alias disalahgunakan.


Atas itu semua, maka dapat kita lihat bahwa kasus seperti ini akan terus menerus terjadi lantaran tidak berdirinya Islam secara utuh. Belum lagi asas kapitalisme yang melahirkan upaya meraih keuntungan membuat langkah yang dilakukan sering kali bukanlah untuk menciptakan perdamaian dan keamanan sungguhan. Melainkan hanya berputar membuat skenario-skenario, menggiring opini, membuat narasi yang lagi-lagi merugikan Islam, memecah belah umat, dan semua itu hanya untuk keuntungan sepihak semata. Sungguh jauh dari upaya menjadikan rakyat sebagai sosok yang utama untuk dijaga dan diberikan kebenaran secara nyata.


Inilah PR nyata bagi para pengemban dakwah dan umumnya bagi para kaum muslim. Jangan biarkan diri ini pasrah dicekoki dengan landasan yang keliru. Jangan sampai kita terbawa arus dengan tidak berpegang teguh pada Islam secara total sehingga malah menormalisasi kebatilan, dan menganganggap enteng ketidaksempurnaan penerapan hukum syara.


Hendaknya kita menyadari bahwa propaganda melawan Islam itu nyata, memojokkan ajaran Islam itu ada, dan upaya mengkriminalisasi pun sangat nampak bahkan berulang-ulang terjadi. Sudah semestinya kita bersegera dan semakin menguatkan langkah untuk menghentikan kesemena-menaan ini. Semua itu dengan bersama-sama menjemput dan memperjuangkan penerapan Islam dan mencampakkan sistem kapitalisme ini.


Semua itu tentunya bukan dengan cara kotor, bukan dengan kekerasan, atau teror yang seperti dinarasikan hari ini. Semuanya hanya berlandas kepada dua prinsip utama semata, yaitu syariat Allah SWT dan mencontoh Rasulullah SAW. Dengan itu kita akan didapati betapa indah, damai, dan luar biasanya Islam sebagai agama yang Allah SWT ridhoi dan sebagai sebaik-baiknya landasan yang Allah SWT perintahkan untuk kita taati. 


Wallahu a’lam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post