Beban Hidup Tinggi, Naluri Ibu Pun Mati?


Oleh Haura 
(Pegiat Literasi)


Pembunuhan terhadap bayi yang tak berdosa terjadi lagi. Rohwana alias Wana (38 tahun), seorang ibu di Kabupaten Bangka Belitung, ditangkap polisi karena terlibat pembunuhan. Perempuan yang keseharian nya bekerja sebagai buruh itu membunuh bayinya sendiri dengan cara    menenggelamkan ke ember berisi air setelah dilahirkan. Bayi itu kemudian dibuang ke semak-semak dalam kebun milik warga. Kepada polisi Rohwana mengaku tega membunuh bayinya karena tidak menginginkannya. Alasannya tidak cukup biaya untuk membesarkan nya. Rohwana memiliki suami yang bekerja sebagai buruh.  Akibat perbuatannya, Rohwana dijerat pasal 338 KUHP atau pasal 305 KUHP jo pasal 306 ayat 2 KUHP atau pasal 308 KUHP. Kumparan.news, 24/01/2024.


Dengan berbagai motif dan alasan, peristiwa pembunuhan anak oleh ibu kandung kerap terjadi. Sungguh ini menyayat hati. Tak dapat terbayangkan, seorang ibu tega membunuh darah dagingnya sendiri lantaran tidak cukup biaya untuk membesarkan nya. Peristiwa ini memprihatinkan. Memang, fakta kehidupan saat ini sangat sulit. Sulitnya lapangan pekerjaan, harga barang pokok yang terus naik, biaya pendidikan yang mahal dan segudang persoalan hidup lainnya membuat beban hidup semakin tinggi, memicu masyarakat menjadi stres, putus asa hingga melakukan hal-hal di luar nalar bahkan mematikan fitrah keibuan.

Naluri keibuan yang seharusnya menjaga, mengasuh dan melindungi buah hatinya dari segala mara bahaya justru ialah yang menjadi sumber penyebab utama menghilangkan nyawa anaknya. Sebuas-buasnya harimau tidak memakan anaknya. Sejahat-jahatnya orang tua tidak mencelakakan anaknya. Peribahasa tersebut seolah tidak relevan lagi dalam kehidupan sekarang yang sekuler kapitalistik.

Kekhawatiran dan ketakutan terhadap kekurangan materi telah menjangkiti masyarakat. Hal ini didorong oleh berbagai faktor diantaranya keimanan. Lemahnya iman, membuat kedekatan dengan sang pencipta tidak ada sehingga sulit menerima ketetapan Allah yang tidak sesuai harapannya.  Faktor lainnya, tidak lain karena dalam kehidupan sekuler kapitalistik, materi menjadi standar hidup, sumber kekuatan, sumber kebahagiaan dan simbol prestise. Orang yang tidak mempunyai materi ada dalam posisi lemah, untuk sekedar membesarkan anak saja tidak sanggup, harus bekerja keras bahkan sang ibu pun harus membantu suami mencari nafkah untuk menopang kehidupan agar layak. Pada akhirnya, kehidupan masyarakat cenderung untuk mengejar materi dan menyibukkan diri demi menggapai kebahagiaan dan kesenangan dunia hingga melupakan segalanya. Namun fakta nya kesibukan dan kerja keras pun tak berujung hasil, kesulitan dan penderitaan tetap dihadapi meskipun berat. Tampak nyata, kehidupan kapitalistik gagal menjaga fitrah kaum ibu dan melindungi anak-anak.


Berbeda dengan Islam. Dalam Sistem Islam, negara mampu membentuk masyarakat memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah SWT sehingga mudah menerima atas qadha dan qadhar Allah yang baik maupun buruk. Apapun yang terjadi dalam dirinya senantiasa dikembalikan kepada Allah dengan penuh kesabaran. Allah SWT berfirman dalam Albaqoroh ayat 155   

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

_Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar._


Selain itu, sistem Islam mampu memupuk masyarakat memiliki jiwa peduli dan tolong menolong sehingga ketika ada anggota keluarga yang kekurangan secara ekonomi dan membutuhkan bantuan maka yang lainnya akan mudah memberi pertolongan melalui sedekah atau bantuan lainnya.  

Sistem ekonomi Islam memberi jaminan kehidupan terhadap kebutuhan dasar umat. Negara menyediakan berbagai layanan untuk memenuhi kebutuhan dasar umat dengan murah, terjangkau oleh masyarakat atau bahkan gratis terlebih bagi kalangan yang tidak mampu. Negara juga menyediakan lapangan pekerjaan yang luas sehingga kaum lelaki mudah mencari nafkah dan mampu memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.  

Kelebihan sistem Islam lainnya adalah memiliki jalur nafkah yang jelas karena perempuan tidak wajib bekerja, berhak mendapat nafkah yang layak dari suaminya atau walinya sehingga optimal untuk menjadi ibu dan pengurus rumah, mendidik mengasuh serta membesarkan anak-anak tanpa harus repot menopang ekonomi keluarga. 

Maka seharusnya ini menjadi catatan penting bagi pemerintah dalam upaya melindungi kaum ibu dan anak-anak. Terhadap peristiwa di atas tidaklah cukup sekedar menangkap dan memenjarakan pelaku atau memberi pendampingan untuk memulihkan kesehatan mentalnya, namun lebih dari itu pemerintah harus berupaya menyelesaikan akar permasalahannya sebab hal itu menjadi tanggung jawab negara. Negara memiliki peran penting dalam mengatur kehidupan termasuk dalam melindungi kaum ibu dan anak-anak. Sebaik-baiknya perlindungan terhadap kaum ibu dan anak-anak adalah perlindungan yang diberikan oleh sistem Islam.

Wallaahu a'lam bish-shawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post