Support Sistem dalam Mengatasi Permasalahan Sampah


Oleh Novi Widiastuti 

Pegiat Literasi


Beberapa bulan terakhir, tepatnya sejak kebakaran TPA Sarimukti, permasalahan sampah menarik perhatian masyarakat Bandung. Tumpukan sampah di beberapa lokasi di sepanjang jalan utama dan pasar serta terhambatnya pengangkutan sampah rumah tangga menjadi salah satu hal yang belum terselesaikan.


Bahkan penumpukan sampah terjadi pula di Pasar Baleendah Kabupaten Bandung. Diduga kuat penyebabnya adalah warga sekitar pasar yang ikut membuang sampah di tempat penampungan sampah pasar karena tidak memiliki titik pengumpulan sampah di tiap wilayahnya. Kepala UPTD Pasar Baleendah, Ginanjar, mengatakan bahwa pihaknya sudah berembug dengan pihak-pihak terkait dan benang merahnya adalah warga yang tidak memiliki tempat pembuangan sampah sementara (TPS) ikut membuang di  TPS pasar yang diperuntukan untuk para pedagang. Kondisi ini tentu merugikan pedagang karena kebersihan dan kenyamanan terganggu yang dapat berdampak pada bisnis mereka. (Korangala.id, 08/01/2024) 


Dikutip dari voaindonesia.com (25/02/2022), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengidentifikasi bahwa perubahan gaya hidup dan kebiasaan konsumsi masyarakat yang serba praktis sebagai penyebab utama meningkatnya akumulasi sampah plastik. Masyarakat terbiasa membeli produk dalam kemasan sehingga dapat menghasilkan sampah. Hampir semua produk makanan, minuman, produk kebersihan maupun produk kebutuhan rumah tangga lainnya dikemas dalam wadah plastik. 


Segala upaya telah dilakukan dalam menanggulangi sampah ini. Mulai dari gerakan peduli sampah oleh para aktivitis lingkungan sampai ajakan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah sembarangan. Tetapi nyatanya tidak sedikit pula di lingkungan masyarakat yang masih abai terhadap kebersihan, termasuk membuang sampah tidak pada tempatnya, sehingga menimbulkan permasalahan-permasalahan yang terus berulang. 


Walaupun permasalahan sampah terus terjadi dan meresahkan masyarakat, namun negara tidak sungguh-sungguh menunjukan tekadnya untuk mengatasi problematikan ini. Imbauan pemerintah untuk menjaga lingkungan dan bebas dari penggunaan plastik kerap disosialisasikan. Namun, keberadaan industri yang mengemas produknya dengan kantong plastik tetap dibiarkan. Jika seperti ini kebijakannya, maka solusi agar bebas dari sampah termasuk limbah plastik hanya akan menjadi wacana tanpa realita.


Selain kebijakan yang kontradiktif negara dianggap tidak serius dalam memberikan perhatian atau fasilitas terhadap permasalahan sampah sehingga menimbulkan banyak masalah, seperti rusaknya truk dan alat berat pengangkut, padahal ini menjadi salah satu penghambat pengangkutan sampah menuju TPA.


Seharusnya pemerintah sebagai pemegang kebijakan dan kekuasaan bisa memberikan fasilitas yang lebih baik lagi atau mengantisipasi dengan teknologi canggih untuk mengelola sampah, agar permasalahan tidak semakin bertambah. Karena dengan menumpuknya sampah, bisa menyebabkan banjir dan berbagai penyakit.


Sebenarnya akar dari masalah sampah ini muncul karena penerapan sistem kapitalisme yang hanya menguntungkan segelintir oligarki, tapi merugikan masyarakat serta lingkungan. Masyarakat seringkali disalahkan atas sampah yang menggunung. Padahal masalah sampah ini bermula dari hulu yaitu aturan pemerintah terhadap para produsen yang menghasilkan produk-produk yang tidak ramah lingkungan. Masyarakat yang sadar untuk memilah sampah tidak akan mampu untuk mengatasi masalah ini jika kemasan dan produk-produk sulit didaur ulang masih terus diproduksi. 


Beginilah kondisi kehidupan dalam sistem kapitalisme, dimana segala hal dinilai berdasarkan ukuran materi. Jika ada keuntungan di dalamnya, maka akan segera diurusi. Namun jika tidak, jangan harap masalah akan teratasi. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mengelola sampah, namun tak lantas harus dikomersilkan untuk mencari keuntungan. Bukan pula sebuah beban yang harus ditanggung rakyat hingga menimbulkan masalah.


Berbeda hal dengan sistem Islam, dimana seorang pemimpin siap menjalankan setiap amanah yang diembannya. Tidak melihat skala besar atau kecilnya, setiap masalah umat akan langsung diatasi sebagai bagian dari ri'ayah umat, termasuk masalah sampah ini. Rasulullah saw. telah bersabda: 


Imam adalah raain atau penggembala dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya.”  (HR.Bukhari)


Sejarah telah mencatat, pada masa khilafah Islam pengelolaan sampah dimulai sejak abad 9-10 M. Jalan-jalan di Kota Cordoba telah bersih dari sampah karena ada mekanisme pengelolaan sampah di perkotaan yang idenya dibangun oleh Qusta ibn Luqa, ar-Razi, Ibn al-Jazzar dan al-Masihi. Tokoh-tokoh muslim ini telah mengubah konsep sistem pengelolaan sampah menjadi pengelolaan yang terstruktur dan kolektif yang sebelumnya hanya diserahkan pada kesadaran individu. (Lutfi Sarif Hidayat, 2011)


Pengelolaan sampah merupakan salah satu upaya untuk menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Kesadaran setiap individu dalam membuang sampah secara benar adalah suatu keharusan, cara yang paling mudah adalah dengan memisahkan sampah organik dan anorganik. Metode ini sangat diperlukan agar tidak menimbulkan senyawa-senyawa aktif yang dapat membahayakan kesehatan manusia, yang disebabkan tercampurnya semua jenis sampah. Dan ini perlu dilakukan di semua kalangan, baik anak-anak maupun orang tua agar terbentuk kesadaran dalam menjaga kebersihan, karena Islam mendorong setiap individu untuk menjaga kebersihan sebagai bagian dari keimanan mereka kepada Sang Pencipta. Nabi saw. bersabda: 


"Islam itu bersih, maka jadilah kalian orang yang bersih. Sesungguhnya tidak masuk surga kecuali orang-orang yang bersih." (HR. Baihaqi)


Maka, support sistem yang dapat menuntaskan permasalahan sampah dan lainnya hanyalah Islam. Sistem Islam di bawah pemimpin pelaksana syariat akan menjadikan setiap individu dengan sendirinya sadar untuk mengelola sampah secara mandiri. Begitu pun di masyarakat, mereka akan bekerja sama saling mengingatkan akan kebersihan sehingga lingkungan tetap terjaga. Peran negara sangat penting, yaitu menyediakan fasilitas pengelolaan sampah di setiap daerah dan permukiman. Pemerintah wajib melakukan usaha agar sampah terkelola dengan baik. Dana yang dikeluarkan murni dari kas negara (baitul mal) sehingga semua berjalan dengan optimal.


Wallahu alam bishawwab

Post a Comment

Previous Post Next Post