Peran ganda perempuan, benarkah demi kesejahteraan?


Oleh: Rahmatul Aini S.Sos 

(Aktivis Dakwah & Penulis)


Bicara kebutuhan manusia pasti selalu tak ada habis nya, mulai dari sandang, pangan, papan semua orang pasti membutuhkan bukan untuk keinginan tapi untuk menyambung dan bertahan hidup.


Kehidupan dalam sistem kapitalisme hari ini membutuhkan effort kerja yang tinggi, hal ini disebabkan karena terbelenggu nya masyarakat dengan krisis disemua tatanan kehidupan. Apalagi kalau menyentil masalah ekonomi semua pasti merasakan hal yang sama, serba susah, serba krisis, serba miris. Oleh sebab itu banyak diantara masyarakat akhirnya pontang panting untuk bisa mencari materi meski harus melabrak rambu halal haram. 

Di Indonesia sendiri tingkat pengangguran makin mendominasi, hal ini di picu lantaran negara tak memberikan lapangan pekerjaan bagi pribumi, lihat saja fakta nya kekayaan yang di miliki justru di garap oleh TKA, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) mencatat, jumlah tenaga kerja asing (TKA) di Indonesia mencapai 111.537 orang pada 2022. Jumlah tersebut melonjak 26,36% dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebanyak 88.271 orang (Data indonesia. id) 

Al hasil para rakyat sendiri terpaksa kerja di luar negeri demi sesuap nasi. 


Nafkah bukan hanya di bebankan kepada kaum laki-laki, ternyata perempuan banyak menjadi tulang punggung dalam sistem hari ini, perempuan akhirnya menjadi korban atas kelalaian tanggung jawab pemerintah. Banyak diantara mereka terhimpit masalah ekonomi, terjerat pinjol, menjadi singel parent, biaya pendidikan yang tinggi, biaya hidup yang terus meningkat. Yang lebih memiriskan lagi adalah perempuan banyak yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di berbagai negara. Hal ini sebenarnya akibat penerapan sistem sekuler, dimana pemangku kebijakan apatis terhadap masalah masyarakat, pemerintah tak mau turun tangan menangani krisis yang dialami oleh masyarakat, mereka justru memberi ruang kepada perempuan untuk mencari nafkah bahkan sampai ke luar negeri, tak sedikit pula diantara mereka mengalami diskriminasi di tempat kerja, mereka pulang dengan fisik yang sudah tidak normal, maklum mereka hanya dianggap babu bisa di perlakukan semau majikan. Belum lagi dampak dari peran ganda perempuan hari ini, di satu sisi mereka berperan menjadi seorang istri dan ibu disisi lain mereka menjadi seorang pekerja/buruh, apapun pekerjaan yang mereka geluti (kantoran, bank, ART, TKW) semua ini menambah tanggung jawab perempuan. Fokus mereka menjadi ummun warobatul bait harus terbagi dengan tugas di luar rumah, hasilnya banyak anak kurang kasih sayang, pergaulan bebas menyasar generasi, diskriminasi terhadap perempuan, perceraian makin tinggi, broken home,  dan banyak lagi. 


Dalam Islam perempuan begitu di muliakan bahkan mereka terjaga kehormatan, kemuliaan dengan syariat Islam. Memang berkerja bukanlah suatu keharoman dalam Islam tapi menduduki pekerjaan jangan sampai seperti hal yang wajib dan perlu untuk di laksanakan terlebih lagi jikalau sudah mengabaikan tanggung jawab sebagai seorang istri, dan ibu. Dalam Islam tanggung jawab pemerintah sangat banyak salah satunya adalah memberikan kesejahteraan kepada masyarakat tak terkecuali perempuan, terlebih jikalau perempuan tersebut adalah seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya dan memiliki anak yang harus di nafkahi, tidak ada wali atau keluarga yang bisa menafkahi maka negara wajib memberikan segala kebutuhan, dan tidak akan dibiarkan dalam keadaan terlunta-lunta. Seperti kisah Umar bin Khattab yang turun langsung memanggul gandum dan daging demi seorang ibu yang sedang memasak batu untuk anak-anak nya, padahal Umar memiliki pelayan yang bisa diminta untuk mengambil tapi karena rasa tanggung jawab yang penuh sebagai seorang Kholifah Umar pun mengambil sendiri tanpa bantuan orang lain, dan beliau paham betul sebagai seorang Kholifah pasti akan disidang di hadapan Allah SWT tentang kepemimpinan nya. Luar biasa sistem Islam meriayah ummat nya. 


Betapa banyak kita temukan hari ini bukan hanya satu ibu tapi jutaan ibu-ibu mengambil peran ganda sebagai seorang istri, ibu dan menjadi pekerja sebagai jalan menopang kehidupan. Padahal ini adalah tugas negara untuk memberikan kesejahteraan kepada ummat. Lalu dengan kepercayaan diri yang tinggi ada pejabat yang dijuluki seperti kepemimpinan Umar bin Khattab yang dekat dengan rakyat. Padahal betapa miris fakta menunjukkan rakyat  menanggung beban kehidupan seorang diri, pontang panting mencari nafkah demi sesuap nasi. Sangat bertolak belakang dengan sosok Kholifah Umar bin Khattab yang penuh tanggung jawab terhadap ummat. 


Maka kisah Umar bin Khattab diatas cukup menggambarkan keistimewaan Islam dalam memberikan pelayanan terbaik untuk ummat, bukan hanya sebuah story tapi semoga menjadi acuan, panduan Indonesia menjadikan syariat sebagai satu-satunya hukum yang mampu menyejahterakan rakyat. 

Sudahi peran ganda perempuan dengan syariat Islam, muliakan perempuan dengan sistem Islam.

Karena berharap pada sistem kapitalisme hari ini adalah mustahil kesejahteraan rakyat akan terwujud, berapa kali pun mengganti pemimpin/rezim tidak bisa menjadi solusi, karena akar permasalahannya bukan terletak pergantian rezim tapi pada sistem yang telah mengakar kepada semua kalangan termasuk rezim. 

Ibarat mobil yang rusak pada mesin, berapapun, siapapun orang yang bergantian untuk mengendarai mobil tersebut tidak akan bisa di digerakkan karena letak masalah nya bukan pada sopir tapi pada mesin mobil. Seperti itulah gambaran kondisi permasalahan hari ini, yang di butuhkan adalah pergantian sistem jahiliah ke sistem Islam. 


Wallahu alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post