Kejahatan Teknologi Dalam Sistem Kapitalisme


Oleh : Wa Ode Vivin
 (Aktivis Muslimah)


Kemajuan teknologi yang makin membumi dan menyebar ke seluruh lapisan individu menjadikan semakin mudah mengakses  media digital. Industri digital menciptakan pergolakan pikiran dan budaya yang sengit di tanah kaum Muslim. Bersamaan dengan itu, perang komentar dalam ikon-ikon media pun terjadi menjelang pemilu, menjatuhkan paslon satu sama lain.


Seperti yang disampaikan oleh kapolres Jakpus dalam tirto id. Beliau mengabarkan kejahatan teknologi lian marak menjelang Pemilu, Susatyo Purnomo Condro, mengatakan bahwa kejahatan masa kini sudah bergeser  ke teknologi. Hal itu, memengaruhi beban pekerjaan kepolisian, disampaikan di Jakarta, Sabtu (20/1/2024).


Seperti yang kita ketahui bersama, tansformasi digital adalah sebuah ide yang diusung untuk meningkatkan potensi masyarakat Indonesia di kancah dunia. 


Teknologi  sangat dibutuhkan manusia untuk kehidupan yang lebih baik, jika individu tersebut menggunakan dengan baik. Misal untuk bermuamalah, apalagi untuk emak-emak yang berjiwa bisnis, termasuk media untuk menyampaikan kebenaran secara mendunia.


Namun penguasaan teknologi tanpa pijakan yang shahih akan menghantarkan kejahatan dan kecurangan yang membawa bencana bagi rakyat. Beredarnya berita hoax misalnya, sehingga rakyat makin bingung berita mana yang harus dipercaya.


Kemajuan teknologi yang digadang-gadang akan melejitkan potensi individu, ternyata tidak disertai dengan agenda penjagaan dari Negara. 


 Hal ini satu keniscayaan dalam system kapitalisme, pemanfaatan teknologi untuk kejahatan dapat terjadi karena abainya negara dalam membina keimanan dan kepribadian rakyat.  Di sisi lain juga menunjukkan ketidakseriusan negara dalam menghadapi kejahatan ini. 


Sungguh miris Negara justru kalah dengan penjahat.  Selain itu juga menunjukkan lemahnya sistem sanksi yang diberlakukan negara dan juga kegagalan negara dalam mensejahterakan rakyat.Tak ayal, kejahatan berkedok kriminalitas dan degradasi moral semakin meningkat. 


Hal ini tentu sangat berbeda jauh dengan islam. Islam menjadikan Negara  sebagai pengurus dan pelindung rakyat, termasuk dalam membentuk kepribadian islam yang kuat. Negara juga membangun sistem perlindungan yang kuat baik untuk keamanan data maupun keselamatan rakyat. 


Sehingga, individu akan memiliki kesadaran untuk menjaga kemuliaan sebagai manusia, masyarakat yang memberikan kontrol dan juga negara yang menjamin hidup rakyat serta juga memberikan landasan yang benar dalam menciptakan dan memanfaatkan teknologi.


Islam  mewajibkan negara agar menerapkan strategi informasi yang berfungsi untuk memaparkan Islam dengan pemaparan yang kuat dan membekas. Dalam hal ini peran negara dipandu langsung dari Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:


وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ ٨٣


Jika sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentu orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri) (QS an-Nisa’ [4]: 83).


Wallahu'alam bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post