Kurikulum Pendidikan Sekulerisme Menyalahi Fitrah Manusia


Oleh : Novita Ratnasari, S.Ak
(Pemerhati Publik)


Potret pendidikan negeri ini kembali disorot publik, pasalnya seorang oknum guru agama di salah satu SMA Negeri Kabupaten Purworejo dipergoki sedang berduaan dengan mantan murid di pantai Jetis, Grabag. Diketahui status guru sudah menikah. (Sorot.co, 18/01/24)


Walaupun oknum guru menyangkal perbuatan tersebut dengan dalih membahas masalah pendaftaran pegawai negeri sipil. Meskipun demikian kasus ini harus di koordinasikan ke cabang dinas karena pihak sekolah  tidak mempunyai kuasa untuk memutuskan sendiri terkait kewenangan dan kepegawaian bahkan sampai detik ini masih mengajar di kelas.


Kualitas pendidikan di negeri ini tidak melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang memiliki intregitas dan moralitas. Realitas ini hanya satu dari 1001 kasus yang muncul ke permukaan. Dari mental illness, seks bebas, lgbt, perundungan, dan masih banyak lagi bentuk kriminalitas yang terus berkembang.


Sosok guru harusnya bisa menjadi mentor terbaik untuk anak didik nya, menjadi role model untuk acuan berpikir dan bertingkah laku. Mirisnya fakta dilapangan berbanding terbalik, pelecehan banyak terjadi dilakukan oknum guru sebagai syarat mendapatkan prosentase nilai tinggi bahkan kelulusan. Hal seperti ini bukan lagi perkara tabu didalam circle sekolah.


Pendidikan di negeri ini, siswa dibangun taraf berpikir kritis untuk memiliki paradigma kapitalis, bagaimana trik-trik di masa mendatang menghasilkan cuan dengan asas laba dan rugi bahkan kebanyakan orang tidak  memperhatikan value. Sehingga buah pendidikan negeri ini banyak sekali yang berkompeten tetapi tidak dengan moralitas nya.


Taraf berpikirnya cenderung liberal karena memang pendidikan yang terikat sistem sekuler itu dijauhkan antara kehidupan dengan agama sehingga agama hanya mengatur perkara ibadah ritual saja, seperti sholat, zakat, puasa. Sedangkan perkara yang mengatur hubungan manusia dengan diri sendiri dan sesamanya diabaikan, seperti sistem pendidikan, sistem pergaulan, sistem ekonomi, dan sistem pemerintah.


Realitas hari ini, sering terlihat antara guru dan murid tidak ada skat dan jarak. Sehingga mudah memberi peluang bermaksiat, misalnya murid membentak guru karena tidak terima di tegur atau murid berpacaran dengan guru. Sayangnya didalam sistem sekuler ini, tidak diperbolehkan seorang PNS memiliki dua isteri, sehingga banyak kasus ditemukan oknum guru ketahuan selingkuh. Padahal didalam syariat islam seorang laki-laki diperbolehkan menikah lebih dari satu atau poligami dengan ketentuan syarat yang harus dipenuhi.


Sehingga lumrah jika output dari sistem pendidikan togut ini tidak memikirkan kepribadian para generasinya, bahkan untuk mendapatkan keuntungan tidak memperhatikan halal dan haram lagi karena didalam kurikulum pendidikan sekuler sudah menjadi sistemik murid mengenal ribawi, investasi, obligasi, saham, deviden, dsb yang justru menjerumus pada lembah kenistaan.



Padahal Allah sudah berfirman didalam Qs. Ali Imran ayat 130, yaitu : "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir." 



Ketua Forum Doktor Muslim dan Peduli Bangsa (FDMPB) Ahmad Sastra dalam acara talkshow NgoPi (Ngobrol Pendidikan) mengatakan bahwa negeri ini menerapkan pendidikan sekularisme, dengan kata lain pendidikan sekularisme adalah pendidikan yang tidak dapat dijadikan acuan dalam kehidupan. Masyarakat dengan ideologi ini akan cenderung individualisme sehingga menjadikan remaja saat ini kehilangan adab seseorang tanpa ada yang mengingatkan di lingkungan masyarakat. 


Kalau sudah kehilangan adab maka manusia kehilangan segalanya, rasa takut tidak ada, rasa malu tidak ada, sehingga mereka berani melakukan maksiat ugal-ugalan ditambah dengan diganti kurikulum secara berskala menunjukkan bobroknya sistem pendidikan ini. Kurikulum togut ini melahirkan generasi terhimpit (sandwich generation) dan generasi rapuh atau strawberry generation.


Sejatinya semua peraturan didalam sistem sekulerisme ini tidak sesuai fitrah manusia, berbeda dengan pendidikan didalam sistem islam. Visi misi dalam sistem islam ialah melahirkan generasi penakluk dan pembebas dengan pondasi aqidah islam.


Kurikulum Islam menjadikan remaja memiliki pisau analisis tajam serta kerangka berpikir cemerlang dan mendalam, umat harus belajar sejarah islam untuk menentukan langkah di masa depan, umat dididik dengan standar syariat islam sehingga lahir lah para Mujtahid, dan Ilmuan-ilmuan muslim.


Tinta emas menuliskan sejarah ketinggian peradaban Islam yang ditopang oleh kemajuan Ilmu

membuahkan prestasi yang tak tertandingi. Bahkan Islamlah peletak dasar peradaban dunia yang sekarang berkembang.

Karena saat itu lahirlah para ilmuwan muslim

beserta karyanya. 


Contohnya Al-Biruni yang ahli

dalam bidang fisika dan kedokteran, Jabir bin Hayyan (orang Baratnya menyebutnya

(Geber) yang pakar di bidang kimia, kemudian Al Khawarizmi (Algoritma) ahli ilmu matematika, alKindi pakar bidang filsafat, al-Farazi, al-Fargani,

al-Bitruji menguasai bidang astronomi, Abu Ali al Hasan bin Haythami pada bidang teknik dan optik, ada pula Ibnu Sina (Avicenna) yang dikenal sebagai

Bapak Ilmu Kedokteran Modern, dan masih banyak lagi.


Hanya dengan mengembalikan kehidupan islam dan islam kembali diterapkan menjadi problem solving untuk segala persoalan kehidupan termasuk pendidikan negeri ini. Ini menjadi tugas bersama untuk terus mendakwahkan islam kaffah ditengah-tengah umat. Sehingga umat memiliki paradigma berfikir yang benar.


Wallahu'alam Bisowab.

Post a Comment

Previous Post Next Post