Mengukur Efektifitas Normalisasi Sungai Deli Untuk Atasi Banjir



Personil Kodim 0201/Medan berkolaborasi bersama Pemerintah kota Medan melaksanakan kegiatan Normalisasi Sungai Deli, dalam rangka menciptakan Medan bebas banjir. Dikutip dari laman (kodim0201medan) Medan-Personil Kodim 0201/Medan dalam hal ini Babinsa Koramil 0201-01/MP termasuk salah satunya Sertu Rusmanto tergabung dalam kolaborasi dengan pihak Pemko Medan, bersama sama bergotong-royong membersihkan sungai deli yang melintasi wilayah kecamatan Medan Labuhan. Normalisasi sungai yang dilakukan merupakan salah satu program Pemerintah Kota Medan dalam menyelesaikan masalah banjir, yang sudah menjadi masalah langganan di Kota Medan ketika musim penghujan tiba. Normalisasi Sungai menurut pengamat tata kota Universitas Trisakti Nirwono Jogja, secara umum sesungguhnya adalah mengembalikan atau mempertahankan bentuk alami sungai dan memperlebar kedalaman sungai agar kapasitas daya tampung sungai mendekati daya tampung semula dan ideal. (CNN Indonesia)


Normalisasi dilakukan agar air dapat mengalir masuk ke sungai dengan lancar, namun kesadaran untuk tidak membuang sampah di sungai masih rendah, baik masyarakat maupun pabrik-pabrik Industri. Padahal salah satu tindakan yang dilakukan untuk menormalisasi sungai adalah dengan membersihkan tumpukkan sampah yang terdapat di area sungai, rendahnya kesadaran masyarakat maupun pelaku industri terhadap pembuangan sampah di sungai akan membuat upaya Pemerintah Kota Medan dalam menangani masalah banjir tidak mengahasilkan perubahan yang diinginkan. Ketika kesadaran masyarakat belum ditumbuhkan mengenai dampak buruk yang akan terjadi ketika membuang sampah di sungai, karena salah satu penyebab mengecilnya daya tampung air di sungai sehingga menyebabkan penumpukan volume air di titik tertentu, yang menjadi pemicu terjadinya banjir adalah tumpukan sampah di area sungai.


Selain daripada adanya tumpukkan sampah yang ada di area sungai, berkurangnya daerah resapan air di Kota Medan turut menghambat keefektifan program Pemko Medan dalam menyelesaikan masalah Banjir, padatnya bangunan di kawasan pemukiman yang tidak menyisakan ruang terbuka hijau menjadikan air hujan yang turun tidak terserap dengan baik, adapun  sistem drainase yang kurang baik membuat air yang meluap ketika hujan deras turun dapat  membanjiri area pemukiman warga, banjir yang terjadi di area pemukiman warga terutama pemukiman yang kontur tanahnya lebih rendah disebabkan karena maraknya  penebangan pohon di daerah pegunungan untuk pembukaan lahan bisnis, menyebabkan hilangnya resapan air di daerah pegunungan yang dampaknya tidak hanya banjir saja tapi tanah longsor juga dapat terjadi akibat penebangan pohon secara berutal demi kepentingan bisnis.


Kompleksnya permasalahan banjir adalah buah penerapan sistem kapitalisme-liberal di dalam negara, pembangunan masif yang terjadi di dalam sistem kapitalisme-liberal dengan mementingkan keuntungan dan manfaat pribadi tanpa meperdulikan tindakan yang dilakukan dapat merusak lingkungan atau tidak, memberikan dampak yang merugikan bagi masyarakat namun disisi lain menguntungkan bagi para pemilik modal dan usaha. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan lingkungan yang rendah, disebabkan sistem kapitalis-liberal menghasilkan orang-orang yang memiliki sikap apatis atau tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya, hal tersebut menyebabkan tidak adanya rasa bersalah ketika membuang sampah sembarangan yang dapat memicu terjadinya masalah banjir. Kesadaran akan taat pada peraturan yang rendah pada masyarakat merupakan dampak dari negara yang menerapkan sistem kapitalis-liberal dikarenakan masyarakat di jamin kebebasannya dalam bertindak sehingga banyak orang yang dengan sengaja melanggar aturan tanpa memperdulikan dampak dari perbuatan yang dirinya timbulkan. Dari kompleksnya permasalahan yang menimbulkan terjadinya banjir negara hanya mengambil langkah solusi Kuratif  non-preventif yang tidak menyelesaikan masalah pada akar permasalahannya namun hanya permukaannya saja.


Keadaan hari ini akan berbanding terbalik ketika negara menerapka sistem Islam, Islam memiliki sistem administrasi tata ruang dan wilayah yang akan mencegah terjadinya banjir. Negara di dalam sistem Islam akan melihat terlebih dahulu penyebab terjadinya permasalahan banjir, jika terjadi keterbatasan daya tampung air akibat hujan maka negara akan membangun bendungan untuk menampung air. Selanjutnya negara akan memetakan kawasan, dimana terdapat kawasan yang diperbolehkan untuk dibangun pemukiman dan kawasan yang tidak diperbolehkan untuk dibangun pemukiman. Daerah yang rendah dan rawan genangan air karena air rob dan kapasitas serapan tanah yang rendah, dilarang untuk dibangun pemukiman, di wilayah tersebut akan dibangun kanal-kanal dan resapan air. Negara akan melakukan pengerukan lumpur di sungai-sungai agar tidak terjadi pendangkalan sungai. 


Negara di dalam sistem Islam menjaga kebersihan sungai dengan memberi sanksi bagi siapa saja yang mencemari sungai, sehingga masyarakat akan takut dan enggan untuk membuang sampah sembarangan di sungai. Masyarakat didalam sistem Islam adalah masyarakat yang taat akan aturan, dikarenakan dalam Islam masyarakat berpegang teguh pada standart halal dan haram ketika melakukan suatu perbuatan berdasarkan akidah islam. Melakukan tindakan yang dapat merusak lingkungan adalah sesuatu yang dilarang syari’at isalm, dikarenakan Islam mengajarkan manusia untuk menjaga dan melestarikan bumi yang ditinggali. Negara akan melindungi kawasan hutan yang merupakan daerah penting dalam menahan air dari dataran tinggi menuju dataran rendah, negara tidak akan menjadikan kawasan hutan sebagai lahan bisnis karena didalam Islam hutan adalah kekayaan milik seluruh masyarakat bukan pemilik modal atau pengusaha. Negara didalam sistem Islam memiliki kebijakan master plan ketika hendak melakukan pembangunan di suatu wilayah sehingga pembangunan yang dilaksanakan tidak membawa dampak keruskan lingkungan yang dapat  menimbulkan masalah ditengah masyarakat salah satunya bencana banjir.


Wallahu’alam bissawab


Putri Maharani 

Mahasiswi STMIK Triguna Dharma

Post a Comment

Previous Post Next Post