Lagu Lama Terorisme Kembali Digaungkan


Oleh : Annisa Rahmawati



Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) Sumatera Selatan secara bertahap akan membentuk forum  di 17 kabupaten dan kota dalam provinsi setempat sebagai upaya pencegahan berkembangnya paham radikalisme dan aksi terorisme.


Hal ini menyusul dengan ditangkapnya salah satu oknum pimpinan Ponpes di Kecamatan Teluk Gelam berinisial IW (36) pada 15 Oktober lalu karena diduga tergabung dalam jaringan terorisme yakni JI (Jamaah Islamiyah)


Ketua FKPT Sumsel Romi Afriansyah mengatakan saat ini pihaknya tengah mengajukan tahap pertama ke pusat dibentuknya FKPT di 17 Kabupaten yakni Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Banyuasin, Empat Lawang, Musirawas Utara, serta Kota Lubuklinggau dan Pagaralam.


"Kejadian terorisme di Teluk Gelam OKI beberapa waktu lalu menjadi bukti kuat bahwa pembentukan FKPT di kabupaten/kota sangat dibutuhkan," ujarnya (dilansir dari Antaranews)


Menurut Romi melalui pembentukan FKPT di daerah diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan pemkab/pemkot berperan aktif melakukan pencegahan berkembangnya paham radikalisme dan aksi terorisme.


Isu Radikalisme sejatinya merupakan lagu lama yang dimainkan untuk menstigma negatif islam dan kaum muslim, anehnya isu ini terkesan musiman, bagaimana tidak isu radikalisme kian deras digulirkan mendekati hari besar, seperti nataru (Natal dan Tahun Baru), Pemilu hingga baru baru ini bertepatan dengan adanya genosida di Palestina.


Isu radikalisme dan terorisme ini terus dinyanyikan seolah menjadi masalah utama dinegeri ini yang harus diberhanguskan, lebih dari itu bahkan saat ini pemerintah telah mengesahkan terkait Perpres 58/2023 yang mengatur dengan narasi pemberantasan terorisme dan juga mengamputasi pemikiran ekstrem yang konon diyakini oleh para pelaku terorisme.


Padahal faktanya, definisi terorisme atau radikalisme sendiri tidak jelas dan samar, bisa ditarik sesuai tujuan dan kepentingan. Buktinya, penyematan kata teroris yang digambarkan oleh media media barat selalu tertuju pada umat islam.


Seperti halnya para mujahid (HAMAS) di Palestina  juga disebut “teroris” oleh sejumlah media dan negara para pendukung zionis Yahudi. Kesamaan narasi penyebutan “teroris”. Ini mau tidak mau berpotensi menimbulkan narasi baru bahwa penyeru jihad dan pembela Palestina adalah sesama teroris.


Ironisnya berbanding terbalik dengan zionis yahudi yang terang terangan membantai anak anak Palestina serta membunuh warga sipil yang tak bersalah malah dianggap pahlawan.


Beginilah standar ganda yang ditebar oleh barat untuk memframing ajaran islam, mungkin kita masih ingat kejadian puluhan tahun lalu, masyarakat dunia benar-benar dicecar dengan berbagai berita tentang aksi terorisme yang mengatasnamakan Islam. 


Nama Saddam Hosen, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, Osama bin Laden, hingga 1S1S yang diproklamasikan di Irak dan Suriah, benar-benar menjadi musuh bersama dunia internasional.


Amerika dalam hal ini, tampil terdepan bak pahlawan. Peristiwa bom WTC di New York, 9 September 2001 silam, menjadi jalan pembuka untuk memulai peperangan melawan teror, yang sejatinya merupakan perang melawan Islam dan kaum muslim.


AS yang saat itu masih menjadi negara adidaya penyetir negara negara barat bahkan mampu memaksa semua negara di dunia untuk berjalan bersamanya memerangi aksi teror dan memonsterisasi ajaran islam seperti jihad sebagai bibit terorisme.


Meskipun pada akhirnya, dunia tahu bahwa semua teror dan pelakunya adalah hasil settingan intelijen Amerika, seperti halnya yang dilakukan AS dan Israel atas kejadian genosida di Palestina saat ini. Dunia akhirnya membuka mata bahwa the real teroris bukanlah HAMAS ataupun warga Palestina namun Israel dan sekutunya.


Sejatinya Islam tidak membenarkan terorisme dalam bentuk apa pun. Namun, umat juga tidak boleh terjebak dengan narasi terorisme atau radikalisme yang diusung Barat. 


Apalagi Indonesia yang dikenal sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia, harusnya memandang narasi terorisme atau radikalisme berdasarkan kacamata Islam, bukan narasi yang diusung barat.


Sementara itu isu terorisme juga dianggap menjadi tameng dari berbagai banyak PR pemerintah yang harus diperhatikan seperti kemiskinan, pengangguran, bullying, pergaulan bebas, yang juga harus lebih diperhatikan lagi.


Karena dari berbagai kasus tersebut, inilah yang terbukti menjadi akar segala tindak kriminal, seperti kasus Bullying yang marak terjadi di berbagai lembaga pendidikan hingga perguruan tunggi, tak ayal banyak melahirkan generasi yang sadis dan anarkis.


Dan semua ini akibat diteapkan sistem Kapitalisme, sistem ini terbukti menjerumuskan manusia pada krisis di berbagai bidang kehidupan, mulai dari kebodohan, kemiskinan, degradasi moral, konflik horizontal, keterpecahbelahan, dan sebagainya.


Umat pun semestinya paham bahwa Islam ideologislah justru jalan keselamatan. Karena Islam adalah sistem hidup yang mensolusi seluruh problem kehidupan, dan aturannya dipastikan akan menjadi rahmat bagi seluruh alam.


Semestinya mereka tidak terjebak oleh segala bentuk propaganda melawan Islam, termasuk dengan munculnya narasi terorisme yang sejatinya merupakan propaganda Barat mengadang kebangkitan Islam. Juga narasi lain yang digunakan untuk menjauhkan umat dari keinginan kembali hidup dalam sistem Islam, sebagaimana yang kental dalam konsep-konsep atau gagasan moderasi Islam.


Sungguh, Islam tidak mungkin tegak dengan baik jika diperjuangkan melalui jalan kekerasan. Oleh karenanya, paham dan aksi-aksi terorisme jelas bukan dari Islam dan bukan jalan menegakkan Islam. Kemunculan narasinya adalah fitnah keji demi mengadang keinginan umat untuk bangkit dengan Islam, sekaligus melanggengkan agenda neoimperialisme yang berjalan secara terang benderang.


Saatnya umat berjalan bersama para pejuang penegakan Islam yang berjalan di atas minhaj dakwah Rasulullah (saw.). Umat tidak boleh gentar dengan narasi buruk dan berbagai fitnah tentang Islam karena justru di sanalah jalan keluar dari semua keburukan dan kunci kembalinya kemuliaan.


Allah Swt. berfirman,


 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ


“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Ali ‘Imran: 110)


Allahualam bishowab

Post a Comment

Previous Post Next Post