Generasi Terjerat Judi Online


Oleh: Ummu Azmi
 (Aktivis Muslimah)



Dengan banyaknya usia muda yang sudah menggunakan gadget, akses ke berbagai fasilitas yang disediakan oleh gadget tersebut pun bisa dijelajahi dengan mudah. Hal ini tak terkecuali akses pada berbagai permainan yang dapat diunduh ke dalam gadget masing-masing. Aplikasi gim ini sangat disukai oleh individu. Sebagian dari mereka beralasan bahwa aplikasi gim dimainkan saat lelah seusai bekerja, bukan sebagai kegiatan utama sehari-hari. Namun sayangnya, bermain gim ini tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa yang mungkin sudah paham atas segala konsekuensinya, tapi juga dimainkan oleh banyak anak yang tergolong masih usia muda.


Tidak hanya itu, bermain gim ternyata tidak selalu hanya sebatas bermain gim online. Bermain gim online rupanya dapat juga menjadi permainan judi online. Dan sangat disayangkan sekali, judi online ini tidak hanya dimainkan oleh orang dewasa, tetapi juga oleh generasi muda, para pelajar.


Seperti dilansir dari okezone (28/11/2023), laporan BBC Indonesia menyebutkan laporan terbaru PPATK menemukan 2,7 juta orang Indonesia terlibat judi online – sebanyak 2,1 juta di antaranya adalah ibu rumah tangga dan pelajar (mulai dari jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan mahasiswa)– dengan penghasilan di bawah Rp100.000.


Judi online ini dimainkan oleh berbagai kalangan. Tidak hanya orang dewasa, anak dibawah umur juga terjerat judi online. (CNBC Indonesia, 21/9/2023)


Lalu, dikutip dari BBC NEWS INDONESIA (27/11/2023), dari konten live streaming para streamer gim yang secara terang-terangan mempromosikan situs judi slot, sejumlah anak usia sekolah dasar didiagnosis kecanduan judi online.


Begitu banyak anak-anak yang masih tergolong muda sudah terpapar judi online, bahkan mereka sampai kecanduan judi online. Mengapa hal ini bisa terjadi?


*Beberapa Penyebabnya*


Ada beberapa hal yang menjadi penyebab individu, termasuk generasi muda, terjerat judi online. Pertama, faktor penyebabnya berasal dari lingkungan keluarga. Faktor yang kedua adalah lingkungan masyarakat. Lalu, yang ketiga adalah peran negara.


Faktor yang menjadi penyebab individu, termasuk generasi muda, terjerat judi online yang pertama ialah dari peran keluarga. Keluarga saat ini banyak yang mengaplikasikan kehidupan sekuler kapitalis. Anak-anak tidak ataupun kurang dididik dengan tuntunan agama. Akhirnya, anak-anak yang kurang diberi pemahaman tentang ajaran agama, aktivitas nya pun akan mungkin jauh dari agama. Anak-anak akan mungkin hanya menginginkan kesenangan duniawi karena mereka tidak paham tujuan hidup di dunia ini.


Kepuasan duniawi ini akan mereka kejar, seperti saat mereka melakukan judi online. Mereka akan terus melakukannya lagi saat mereka menang, karena mereka berharap mendapatkan lebih. Namun ketika kalah, mereka juga akan mungkin terus mencoba lagi karena penasaran. Mereka pun kecanduan judi online. Hingga akhirnya, mereka menjadi individu yang boros, stres, kurang semangat dalam belajar, dan mereka bisa saja melakukan tindak kejahatan untuk memenuhi rasa puas mereka dalam berjudi online. Astaghfirullah.


Kemudian yang kedua yaitu dari peran masyarakat. Masyarakat kini merupakan masyarakat yang cenderung individualis. Karena hidup dalam sistem yang sekuler, masyarakat tidak biasa untuk saling mengingatkan, mengajak pada kebaikan, serta mencegah pada kemungkaran. Masyarakat menjadi acuh pada lingkungan sekitar.


Dan yang terakhir adalah peran negara. Negara dalam sistem sekuler akan menghasilkan pendidikan yang sekuler pula. Generasi akan jauh dari perintah Tuhannya. Sehingga, generasi akan bertindak tanpa pertimbangan keridaan Allah, seperti bermain judi online.


Lalu, meskipun negara telah berupaya dalam memblokir situs-situs judi online, namun ternyata tidak cukup untuk mematikan judi online itu sendiri. Bahkan, ada beberapa artis yang diduga mempromosikan judi online. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada efek jera pada pelaku kriminal.


Ditambah lagi dengan pandangan individu yang beranggapan bahwa judi online dapat menjadi solusi atas permasalahan ekonomi yang ia hadapi. Sehingga, dari hal-hal tersebut bisa dimungkinkan bahwa negara kurang tegas dalam memberi sanksi, kurang dapat memberikan pelayanan pendidikan yang membuat individu beriman dan bertakwa, serta negara kurang dapat menjamin kesejahteraan rakyat.


Lalu, bagaimana cara mengatasi judi online yang sudah menjebak generasi?



*Islam Menjaga Generasi*


Melihat kenyataan bahwa generasi saat ini rusak disebabkan oleh penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, maka sudah seharusnya memakai sistem yang bersandar pada syariat Islam dan juga berasaskan akidah Islam. Islam akan menjaga generasi dari berbagai kerusakan. Karena, generasi adalah pengisi masa yang akan datang, calon penerus dan calon pejuang kembalinya kehidupan Islam yang gemilang. Jadi, menjaga generasi merupakan hal yang sangat penting.


Dengan kembali pada Islam, dapat mengembalikan generasi ke jalan yang benar dan mencegah generasi melakukan hal yang dilarang oleh agama. Akidah Islam yang diberikan orang tua kepada anak-anaknya sedari dini dapat mencegah anak-anak melakukan maksiat. Anak-anak akan menjadi anak yang saleh dan salihah dengan bimbingan orang tua.


Lalu, dalam Islam, masyarakat akan biasa dalam melakukan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Masyarakat akan saling menasihati, dan tidak segan untuk menegur jika ada kemaksiatan. Hal ini dilakukan agar anak-anak terjaga dari hal-hal yang buruk yang dapat merusak generasi.


Dalam Islam pun, negara bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan yang berkualitas yaitu pendidikan Islam yang berasaskan akidah Islam. Dengan pendidikan ini, generasi atau pelajar akan memiliki kepribadian Islam. Pelajar akan menjadi generasi yang taat syariat dan jauh dari maksiat serta fokus dalam menimba ilmu. Pelajar akan lebih memilih keridaan Allah Swt. dibanding kepuasan duniawi dan materi belaka.


Selain itu, negara juga akan serius dalam menutup segala akses judi online. Tayangan ataupun tontonan yang berisi hal-hal yang diharamkan oleh agama Islam akan dilarang. Sehingga, konten-konten yang ada adalah konten yang bermanfaat bagi rakyat, yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta menumbuhkan semangat berjuang.


Kemudian, negara dalam Islam juga akan memberikan sanksi yang tegas pada setiap pelaku kriminal dan kemaksiatan, sehingga menimbulkan efek jera bagi pelaku dan mencegah orang lain melakukan hal yang sama. Negara juga akan menjamin kebutuhan pokok rakyatnya. Harga-harga akan murah dan mudah dalam mencari nafkah. Sehingga, tidak ada alasan bagi individu untuk melakukan kemaksiatan seperti judi online karena masalah ekonomi.


Hal-hal tersebut hanya bisa dilakukan jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Dengan penerapan Islam secara kaffah, individu akan menjadi individu yang bertakwa, masyarakat yang aktif berdakwah, dan juga negara yang amanah. Sehingga, generasi pun akan terjaga dari kerusakan seperti terjerat judi online dan kemaksiatan yang lainnya. Wallahu'alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post