Bullying: Dosa Besar Pendidikan Yang Kian Nyaring


By : A Tenri Sarwan, S.M 
(Aktivis Muslimah)


Menurut Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. 


Kehadiran pendidikan merupakan salah satu tumpuan dasar terbentuknya generasi-generasi calon pemimpin harapan ummat. Membangun peradaban gemilang. Namun, sungguh mengkhawatirkan lingkungan pendidikan malah menjadi sarang terjadinya berbagai perilaku amoral hingga kriminal.


Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) menyampaikan duka cita yang mendalam atas meninggalnya siswa kelas 6 SD berinisial F (12) di Bekasi yang menjadi korban bullying hingga berujung kakinya diamputasi. Kementerian PPPA yang diwakili Plt Asisten Deputi Bidang Pelayanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (AMPK), Atwirlany Ritonga, beserta staf turut melayat ke rumah duka. (Detik News, 09/12/2023)


Miris 12 siswa kelas X SMAN 26 Jakarta menjadi korban perundungan atau bullying oleh kakak kelas. Kondisi belasan siswa tersebut memprihatinkan usai dianiaya secara brutal oleh 15 orang kakak kelasnya, XI dan XII. (Tribuntrends, 09/12/2023)


Kasus bullying ini telah lama menjadi perhatian besar. Berbagai program anti perundungan maupun aturan resmi dari pemerintah sebagaimana Permendikbudristek 46/2023, telah digaungkan nyatanya alih-alih mampu setidaknya mengurangi angka kasus ini sebaliknya daftar kasus bullying kian nyaring dan masif terdengar. Tentu ini menyimpan tanya besar, mengapa sangat sulit untuk membendung kasus ini. Pelakunya pun tak pandang bulu hingga menyentuh ranah jenjang SD. Jika terus seperti ini, bagaimana masa depan negeri ini kelak ?


-- Tidak Berdiri Sendiri --


Perundungan (bullying) telah sejak lama menjadi dosa besar pendidikan. Berbagai upaya yang telah dilakukan nyatanya tak mampu menuntaskan kasus ini. Solusi yang ditawarkan pemerintah nyatanya terhalang dengan lemahnya implementasi yang turut menjadi alasannya. Sejatinya kasus perundungan bukan hanya soal verbal atau fisik belaka, tetapi sudah menjadi kasus kriminal yang sampai menghilangkan nyawa. Lebih sadis lagi, kasus bullying bahkan terkadang menjadi kasus pembunuhan berencana. Na'udzubillah.


Kasus bullying ini sejatinya tidak berdiri sendiri. Keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki andil atas terjadinya kasus perundungan ini. Orang tua yang sibuk bekerja, abai terhadap pengasuhan anak. Ditambah masyarakat yang individualistik, hilang kepekaan dan kepedulian. Tetapi, sejatinya itu semua tidak lebih dari dampak. Hasil yang mau tidak mau pasti terjadi karena sejak awal ada asas sekulerisme yang tumbuh dan mengakar dalam kehidupan individu, keluarga, masyarakat hingga negara. Sekulerisme adalah asas yang memisahkan agama dari kehidupan. Kehidupan adalah suka-suka individu. Membuat individu tumbuh menjadi pribadi yang jauh dari nilai-nilai agama. Sosok yang hidup dengan didikan sekulerisme ini adalah mereka yang amat mengagung-agungkan kebebasan. Melabrak setiap aturan agama tak peduli halal atau haram.


Sekolah yang harusnya mampu melahirkan sosok-sosok generasi terdidik dan berkualitas, nyatanya menjadi sarang kriminalitas. Lagi-lagi kasus ini tidaklah berdiri sendiri. Kasus ini telah tersistem dengan sangat baik. Sehingga solusi apapun yang ditawarkan nyatanya hanya solusi tambal sulam, yang tak mampu menyentuh akar persoalan.


Kesalahpahaman memahami akar masalah kasus inilah yang menyebabkan kasus bullying kian nyaring. Jika terus seperti ini, membiarkan generasi dididik dengan sistem sekuler yang hasilnya telah menjadikan generasi dipenuhi dengan tindakan amoral dan kriminal. Maka realitas generasi yang rusak, apa mau di kata akan tergambar jelas terjadi. Lantas apa yang harus dilakukan?


-- Seharusnya --


Allah SWT. menciptakan manusia tidak begitu saja. Tapi, ada bekal seperangkat aturan komprehensif yang sempurna dan paripurna yang tak akan lekang oleh zaman.


Pendidikan di topang ruh Islam dengan asas aqidah Islam menjadikan generasi adalah sosok-sosok berkepribadian Islam, berpola pikir Islam dan berpola sikap Islam. Kepribadian Islam dengan asas aqidah Islam ini yang akan menjadi tameng bagi generasi untuk menjauhi segala tindak amoral dan kriminal karena mereka terikat dengan Rabb-Nya. Pemahaman bahwa semua akan dimintai pertanggungjawaban akan membuat generasi senantiasa taat dan patuh hanya pada Allah SWT.


Maka, dalam pandangan Islam hal utama yang mampu mencegah dan mampu menjadi solusi dalam kasus ini adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah-tengah generasi. Setidaknya ada tiga pilar utama:


Pilar pertama, individu yang bertakwa. Individu yang bertakwa tentu senantiasa mengikat dirinya dengan segala aturan yang bersumber dari Rabb-Nya. Individu ini tentu akan membentuk keluarga dengan ruh Islam didalamnya sehingga didikan anak-anaknya pun berasaskan Islam. Menamakan keimanan kepada Allah SWT. dan patuh pada ajaran Islam sejak dini. Menjadikan mereka keluarga yang penuh dengan ruh keislaman. Tapi, pilar ini tidak akan kuat sendiri dibutuhkan pilar selanjutnya. 


Pilar kedua adalah masyarakat yang berdakwah. Masyarakat yang saling mengingatkan dalam kebaikan dan saling nasehat menasehati. Masyarakat yang beramar ma'ruf, nahi mungkar. Masyarakat yang punya kepekaan tidak individualistik. Yang hadirnya mampu menjadi kontrol untuk generasi. Yang mampu mencegah adanya tindakan-tindakan amoral atau kriminal lainnya. Tetapi, pilar ini tidak akan terealisasi dengan baik tanpa adanya pilar selanjutnya.


Pilar ketiga, negara yang menerapkan aturan Islam. Sumber hukumnya adalah Al-Qur'an dan As-sunah. Kedaulatan tertinggi adalah milik Allah SWT. Manusia hanya seorang hamba yang melaksanakan perintah Rabb-Nya. Pemimpin yang hadirnya untuk melayani rakyatnya. Segala lini diatur dengan aturan Islam. Pendidikan dengan sistem Islam yang menghasilkan didikan berkepribadian Islam terhindar dari berbagai perilaku amoral apalagi kriminal hingga maksiat lainnya. Adanya jaminan pendidikan berkualitas bukan hanya kurikulum shahih, tetapi segala kebutuhan generasi terpenuhi dan memadai. Dan pilar ini adalah pilar yang mampu menyempurnakan dua pilar sebelumnya.


Sejatinya kasus bullying tidak berdiri sendiri. Tetapi ada asas sekulerisme yang mendasari. Asas yang telah nyata rusak dan merusak, maka solusinya haruslah dengan mengganti asas rusak ini beserta segala turunannya. Dan solusi terbaik hanya ada dalam sistem Islam. Sistem shahih yang bersumber dari sang Pencipta manusia. Sehingga terwujud generasi berkualitas dan terbaik. Bukan generasi rusak dan merusak. Maka sekarang siapkah kita untuk menjadi bagian yang akan merealisasikannya? Wallahu'alam bishshawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post