Boikot, Rakyat Yes, Negara Apa Kabar?

 



Oleh. Mahrita Julia Hapsari
(Muslimah Aktivis Dakwah)

Genosida yang dilakukan oleh zionis Yahudi masih berlangsung hingga hari ini. Sejak 7 Oktober 2023 lalu, sudah lebih dari 15.000 rakyat Palestina menjadi korban kekejaman zionis Yahudi. Sebagian besar korban terdiri dari perempuan dan anak-anak.

Apa yang dilakukan oleh tentara Israel laknatullah telah di luar batas kemanusiaan. Rumah sakit, sekolah dan universitas serta rumah-rumah penduduk dibombardir oleh Israel. Tak selesai sampai di situ, zionis Yahudi memblokade Gaza dan menghentikan semua pasokan air dan listrik serta bahan bakar untuk rakyat Palestina.

Atas kebiadaban yang dipertontonkan Yahudi laknatullah, seruan boikot menderas dari grassroot. Beredar secara massif video dan postingan yang merilis beberapa produk yang berafiliasi dengan Israel. Semangat boikot juga menjalar ke tubuh ormas Islam di negeri ini, MUI mengeluarkan fatwa boikot produk pro Israel.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa Nomor 83 Tahun 2023 tentang Hukum Dukungan terhadap Perjuangan Palestina. Salah satu isi fatwa MUI ini adalah anjuran agar umat menghindari transaksi produk yang terafiliasi dengan Israel. Meskipun fatwa tersebut tak melampirkan daftar produk, namun para netizen sudah pinter semua dalam melacak dan merilis produk-produk terafiliasi Israel.

Aksi dan seruan boikot yang dilakukan oleh rakyat dan ormas adalah wujud kepedulian terhadap sesama Muslim. Bukankah Muslim itu bersaudara dan seperti satu tubuh. Jika satu bagian ada yang sakit, maka bagian tubuh yang lain pun turut merasakan sakit.

Tak bisa dimungkiri, kekuatan opini boikot telah memengaruhi sentimen publik pada produk-produk pro zionis dan menurunkan saham-sahamnya. Meskipun turun, perusahaan tersebut tetaplah beroperasi dan diduga kuat masih mampu memberi suntikan dana ke entitas Yahudi.

Di sisi lain, semangat masyarakat dan ormas dalam membela Palestina melalui aksi boikot produk pro Israel ini tak sampai pada level negara. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah tidak boikot produk terafiliasi Israel. Menurut Zulhas, fokus pemerintah hanya membuat peraturan. Dengan demikian, selama mengikuti aturan yang berlaku maka pemerintah tidak melarang produk mana pun untuk dijual di Indonesia.(kemendag.go, 28/11/2023)

Meskipun Indonesia tak memiliki hubungan diplomatik dengan entitas Yahudi, namun perdagangan atau bisnis antar individu atau perusahaan masih diizinkan. Demikianlah keniscayaan dalam sistem kapitalisme. Apa saja yang bernilai materi pasti akan diambil sekalipun harus mengorbankan orang lain.

Sistem kapitalisme yang diusung oleh Amerika Serikat telah menyandera para pemimpin negeri-negeri di dunia. Hingga mereka tak mampu berbuat banyak selain mengecam dan mengutuk. Tersandera dengan perjanjian ekonomi berupa utang dan hibah. Tersandera dengan ancaman investasi, ekspor dan impor sebab semua berstandar Dollar Amerika.

Amerika sudah memberi label teroris pada Hamas. Membela Palestina sama dengan membela Hamas. Membela Hamas sama dengan mendukung terorisme. Padahal terorisme adalah narasi usang untuk mengekalkan penjajahan Amerika dengan ideologi kapitalismenya.

Selain sistem kapitalisme, sekat-sekat imajiner bernama nasionalisme telah menawan para pemimpin negeri-negeri Muslim. Atas nama nasionalisme, permasalahan suatu negeri merupakan urusan negeri tersebut, negeri yang lain tak boleh ikut campur. Ikatan nasionalisme telah menggerus ikatan akidah di antara kaum muslimin.

Pengkhiatan yang nyata telah dipertontonkan oleh negara-negara Arab. Sekadar embargo minyak untuk entitas Yahudi pun mereka tolak. Apatah lagi untuk membantu Palestina mengusir penjajah Israel.

Dikutip dari financedetik (16/11/2023), permintaan negara-negara Timur Tengah seperti Iran, Iran, Algeria, hingga Lebanon untuk menghentikan pengiriman minyak mentah ke Israel ditolak oleh negara-negara Arab.

Menteri Investasi Arab Saudi Khalid Al Falih mengatakan negaranya tak ingin menggunakan sumber daya minyak mereka untuk memengaruhi jalannya perang Gaza. Menurutnya, untuk mengakhiri konflik ini adalah dengan jalan damai, perundingan, bukan dengan mengecam termasuk embargo minyak.

Sungguh suatu pengkhiatan yang besar. Tanah Palestina adalah tanah kharajiyah yang selamanya akan menjadi milik kaum Muslimin. Muslim Palestina justru berjuang mempertahankan dan menjaga tanah kita. Namun para pemimpin negeri Arab lebih memilih berdamai dan membiarkan zionis Yahudi membantai saudara Palestina.

Lebih dari itu, usul perdamaian sebagai solusi adalah tindakan persetujuan atas pendudukan entitas Yahudi di tanah Palestina. Padahal sangat jelas yang dilakukan entitas Yahudi adalah suatu kolonialisme dan genosida. Sungguh keterlaluan, mereka membiarkan saudara Palestina berjuang sendirian.

Hal ini tidak akan terjadi jika umat muslim memiliki pemimpin yang melindungi. Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung. Jika ia memerintahkan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan berlaku adil, baginya terdapat pahala dan jika ia memerintahkan yang selainnya maka ia harus bertanggung jawab atasnya." (HR Muslim).

Implementasi hadits tersebut telah terwujud selama 14 abad. Sejak Rasulullah saw. hijrah ke Madinah dan mendirikan Daulah Islam yang pertama hingga kekhilafahan Turki Utsmani tahun 1924. Sepanjang masa itu, seluruh kaum Muslimin terjamin keamanannya. Tak hanya kaum Muslimin tapi semua umat manusia.

Palestina menjadi rumah bagi tiga agama, yaitu Islam, Yahudi dan Nasrani, dan mereka hidup dengan rukun dan damai. Sehingga, urgen bagi kita mewujudkan kembali sistem Islam kaffah yang mampu menjamin kedamaian bagi seluruh umat manusia. Sebab Islam adalah rahmat bagi semesta alam.

Wallahu a'lam bishawab [SP]

Post a Comment

Previous Post Next Post