Waspada Keberadaan Kelompok Teroris di Aksi Bela Palestina : Kecurigaan yang Tidak Seharusnya


Oleh : Siti Rukayah 


Di antara berlangsungnya gempuran yang terus terjadi dari Israel kepada Palestina, bahkan sampai pada hari ini, tentunya hal tersebut  memunculkan rasa kepedulian dari segi kemanusiaan hingga kepedulian dari diri kaum muslimin karena yang didasari pada persaudaraan antar muslim. Hal itulah yang menggerakkan diselenggarakannya aksi bela Palestina beberapa waktu silam di Monas, Jakarta Pusat, yang berlangsung pada hari Minggu (5/11). 


Aksi kemanusiaan yang berlangsung sejak pagi 06.00 WIB hingga 10.00 WIB tersebut diramaikan oleh sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia. Direncanakan juga pada acara tersebut akan terdapat penyampaian orasi dari para tokoh lintas agama.


Namun ternyata di kesempatan yang sama, terdapat juga isu yang diangkat. Isu yang dimaksud adalah mewaspadai adanya kelompok tertentu yang memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan penggalangan dana untuk teroris. Bahkan Detasemen Khusus (Densus)  88 Anti-teror Polri menguatkan isu tersebut dengan memberikan himbauan kepada warga yang ikut serta dalam aksi bela Palestina tersebut.


“Tentu kami mengimbau supaya waspada atau istilahnya apabila dalam kegiatan tersebut berhati-hati terhadap kehadiran atau adanya pemanfaatan atau ditunggangi oleh kelompok-kelompok teror tersebut,” kata Juru Bicara Densus 88. Antiteror Polri Kombes Polisi Aswin Siregar di Jakarta, Jumat.


Menurut Aswin, kejadian tersebut pernah terjadi sebelumnya, di antaranya melakukan provokasi propaganda, dengan mengangkat isu ketertindasan umat Islam sebagai motif serta ketidakpedulian aparat keamanan. Sehingga berhubung terdapat ada aksi bela pelastina, maka Densus melakukan monitor selama berlangsungnya acara tersebut.


“Densus akan memonitor adakah aktivitas kelompok teror yang akan menunggangi atau masuk ke situ,” ujar Aswin.


Aswin mengatakan, pihaknya melakukan pemantauan untuk mengantisipasi adanya kelompok-kelompok teror yang menunggangi aksi bela Palestina.


Sebelumnya, Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo dalam Rapat Kasatwil 2023 di Jakarta, Rabu (1/11) juga telah mengingatkan jajarannya untuk mengantisipasi dampak meningkatnya eskalasi global. Maksud dari dampak tersebut adalah perang Israel-Palestina yang dapat membangkitkan sel-sel yang berafiliasi dengan kelompok teroris.


Tidak hanya di Jakarta, Polda di Kaltim pun juga mewaspadai aksi bela Palestina dilakukan oleh kelompok terorisme. Penggalangan  dana tanpa lembaga resmi yang dibolehkan pemerintah juga diindikasikan didukung terorisme.


Fakta yang terjadi sebenarnya adalah sebagai bentuk upaya penyesatan isu. Disebutkan sebagai “penyesatan isu” memang seakan-akan sebagai penyebutan yang keras, namun istilah itulah yang  secara gamblang dapat menggambarkan kondisi tersebut. Bahkan penyesatan isu sebenarnya banyak berseliweran di media sosial, terlebih lagi persoalan perang Palestina dan Israel. Termasuk juga timbulnya kecurigaan yang tidak seharusnya ditujukan kepada sesama muslim. Dibandingkan dengan mengeluarkan statement negatif, penguasa dan pihak keamanan seharusnya menjadi yang terdepan dalam hal bela Palestina.


Oleh karena itu perlu ada tindakan upaya dalam menjernihkan kembali posisi entitas zionis Yahudi Israel adalah penjajah, sedangkan Palestina merupakan pihak yang ‘terjajah’. Terutama menjernihkan opini buruk yang berseliweran di media. Terlebih lagi kondisi yang terjadi bahwa media saat ini dikuasai bahkan berbayar demi menyebarkan statement negara terhadap pejuang dan warga Palestina. Tentunya hal tersebut dapat terjadi tidak terlepas dari pengaruh adanya sistem tatanan hidup yang diterapkan saat ini bukanlah Islam secara keseluruhan. Sehingga kaum muslimin kehilangan pelindungnya.


Mencermati keadaan saat ini akan kita temukan bahwa  sangat berbeda kondisinya jika dibandingkan dengan negara yang menerapkan Islam secara Kaffah (menyeluruh) disebut sebagai sistem khilafah. Jauh beberapa tahun silam, Islam pernah meraih kejayaannya. Kemakmuran mampu dihadirkan di tengah-tengah masyarakat. Bahkan umat muslim dalam kondisi terdapat pelindungnya dengan menerapkan Islam secara penyeluruh. Seluruh wilayah kaum muslimin dipastikan keamanannya bahkan Palestina dalam keadaan aman pada masa kekhalifahan Umar bin Khatthab r.a. Tentu akan sangat berbeda jika melihat bagaimana sikap penguasa negeri-negeri muslim saat ini seakan acuh terhadap kondisi tersebut dan fokus pada teritori masing-masing.


Sehingga jika melihat permasalahan tersebut, satu-satunya solusi adalah Islam kembali bersatu dalam naungan satu pemimpin. Yakni dengan kembali diterapkan Islam secara menyeluruh dalam segala lini kehidupan. 


[Wallahu a’lam bis showab]

Post a Comment

Previous Post Next Post