Menjadi Relawan yang Cerdas Menuju Pilpres 2024


Oleh Khatimah

Pegiat Dakwah


Gempita pemilu tahun 2024 sudah mulai nampak di kalangan masyarakat, sebagian rakyat kembali berharap ada perubahan, partai-partai dan tim sukses kembali  bergerak demi panen mahar politik atau meraup suara rakyat, begitu pun dengan para calon penguasa yang obral seribu janji.

Pentingnya suara rakyat bagi para calon penguasa, menguak fakta lain dengan kehadiran para relawan. Para relawan ini siap pasang badan bagi setiap paslon agar meraih perhatian dan suara rakyat, keberadaannya menjadi penting di ranah masyarakat khususnya di Jawa Barat. Contohnya adalah dengan menyampaikan visi misi dari pasangan calon (Paslon) Ganjar-Mahfud untuk menjadikan Indonesia Emas di 2024. Para relawan juga mempromosikan kepada siapa saja yang mendukung Paslon tersebut akan mendapat bantuan seperti material untuk pembangunan gedung organisasi keagamaan atau pendidikan, seperti yang terjadi di Pangalengan. (iNews.id 11/11/2023)

Dalam sistem demokrasi saat ini, para relawan hanya dijadikan mesin politik demi meraih suara rakyat. Padahal akhirnya akan dilupakan, dan kembali kecewa. Para relawan yang kebanyakan dari kalangan kaum muslim ini akan kembali menelan pil pahit, karena menganggap dengan menjadi relawannya akan merubah kondisi yang ada. Yakni harapan akan datangnya pemimpin yang bisa memberi kesejahteraan bagi rakyat dan kemenangan untuk Islam juga kaum muslim, selalu meleset. Diketahui bersama sejak tahun 1945 Indonesia merdeka, pemimpin yang terpilih dari kalangan muslim, namun semakin ke sini ajaran Islam termasuk kaum muslim yang ingin belajar Islam selalu dikriminalisasi. 

Harusnya para relawan yang kebanyakan dari umat Islam memahami sosok calon pemimpin yang pantas untuk didukung atau dipromosikan kepada rakyat. Seperti pemimpin yang peduli dengan kondisi masyarakat, bertanggung jawab atas kebutuhan pokok rakyat, membangun sarana prasarana sesuai kebutuhan publik dan yang terpenting adalah menerapkan aturan dengan sistem yang sahih, yakni aturan yang berasal dari syariat. 

Kriteria sosok pemimpin tersebut tentu tidak akan lahir dari sistem yang ada seperti saat ini, yaitu demokrasi kapitalisme. Selain aturannya bersumber dari akal dan hawa nafsu manusia, akidahnya pun bukan akidah Islam tapi sekularisme. Sehingga tidak heran jika gonta gantinya pemimpin di negeri ini tak merubah keadaan menajdi lebih baik, bahkan sebaliknya. Pemahaman politik inilah yang belum terwujud dalam diri individu masyarakat saat ini, yang menyebabkan  suara mereka terus dimanfaatkan oleh para calon pemimpin. 

Pemimpin yang seharusnya diusung dan dipromosikan masyarakat adalah mereka yang siap memikul amanah dan tanggung jawab berdasarkan syariat, serta pemimpin yang siap menerapkan aturan Islam secara totalitas dalam sistem pemerintahannya. Karena Islam agama sempurna yang lahir dari Sang Maha sempurna, Islam adalah ideologi sahih yang layak diterapkan. Hanya Islam yang mampu menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam memilih pemimpin agar amanah melayani umat, melindungi dan menyejahterakan mereka. 

Tentunya berbeda pula kampanye dan dukungan terhadap pasangan calon dalam negara Islam, penyerahannya murni dari rakyat dengan kriteria yang sesuai dalam syariat Islam. Di mana contoh terbaik terdapat pada diri Rasulullah saw. beliau adalah suri tauladan dan sosok yang harus dijadikan panutan bagi umat hingga akhir zaman. Di mana beliau memiliki sifat sidiq (jujur), amanah (dipercaya) dan fathanah (cerdas) sifat-sifat seperti itulah yang harusnya menjadi landasan kriteria pemimpin.

1. Jujur jangan sampai atau sengaja melakukan dusta apalagi saat menjabat, karena setiap ucapan dan perbuatan akan ada pertanggung jawabannya.

 2. Amanah haruslah dalam diri pemimpin bersikap amanah dan tidak curang. 

3. Pemimpin yang Ahli dan Cerdas. Dimana keahliannya meliputi berbagai hal, termasuk menata kewarganegaraan yang akan membawa negara dan rakyat pada kestabilan di berbagai bidang, baik kemananan, ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. 

4. Pemimpin yang Bertanggung Jawab  merupakan sifat mendasar yang harus ada pada seorang pemimpin. Sifat amanah dan bertanggung jawab ini akan berpengaruh pada putusan yang diambilnya.

5. Pemimpin yang Mencintai dan Dicintai Rakyat. Kriteria pemimpin selanjutnya yang harus dimiliki yaitu dicintai dan mencintai rakyatnya. 

Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda:

"Sungguh seorang pemimpin terbaik adalah dia yang mencintai dan mendo'akan rakyatnya, dan yang dicintai rakyatnya juga di do'akannya." (H.R Imam Muslim) 

Sungguh sangat berbeda kondisi pemilihan di era demokrasi kapitalis dengan Islam. Islam dengan seperangkat aturannya mestinya dijadikan landasan umat untuk memilih pemimpin, bukan semata ingin terwujud kesejahteraan tapi memastikan bahwa pemimpi  yang di pilihnya tersebut akan menjalankan hukum Allah Swt. secara totalitas dalam tanah pemerintahannya. 

Wallahu a'lam bish shawwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post