Karya Anak Negeri yang Tak Diadopsi


Oleh. Maret Atik 

(Pegiat Literasi Banjarnegara)


Pembicaraan tentang nikuba, sebuah alat temuan Aryanto Misel yang diduga mampu menjadikan air sebagai bahan bakar, menghangat. Sayangnya, pemerintah terkesan kurang memperhatikan penemuan canggih ini, sebagaimana tersirat dari pernyataan Aryanto sendiri, “Saya tidak butuh mereka, saya sudah dibantai habis, tidak mau,” demikian dikutip dari cnnindonesia.com (09/07/2023).


Ternyata, negeri zamrud khatulistiwa ini tidak hanya menyimpan sejuta kekayaan alam, tetapi juga memiliki banyak sumber daya manusia yang berotak cerdas. Sebut saja dr. Warsito yang menemukan rompi anti kanker, Abdul Malik yang menemukan rokok yang diklaim bisa menyembuhkan penyakit, juga dr. Terawan yang memanfaatkan teknologi Digital Substraction Angiography (DSA) dan heparin untuk mengobati penyakit stroke. Selain itu, ada juga Surono yang menemukan bibit padi unggul dari varietas lokal. 


Sederet temuan tadi kurang mendapatkan apresiasi dari pihak penguasa, supaya temuan-temuan mereka lebih valid dan dapat dimanfaatkan secara luas. Sebagaimana dinyatakan oleh Prof. Dr. Sangkot Marzuki, ketua Akademi Ilmuwan Pengetahuan Indonesia (AIPI), “Kompleksitas kita itu, di Indonesia tidak berani mengatakan hitam itu hitam, putih itu putih.” Dilansir dari detik.com (05/04/2018).


Tarik Ulur Kepentingan

Lambannya respon penguasa terhadap berbagai penemuan yang ada, menunjukkan penguasa tidak begitu peduli dengan hajat hidup orang banyak. Karena penguasa dalam sistem hari ini, yakni sistem kapitalis, memang tidak menjadikan hajat hidup rakyat banyak sebagai prioritas. Yang menjadi prioritas adalah adanya keuntungan materi semata. Persis seperti penjual dengan pembeli. Memang seperti itulah watak dasar kapitalis. Keuntungan materi adalah segalanya.


Dalam kasus penemuan nikuba misalnya, pemerintah beralasan bahwa teknologi itu perlu dikaji ulang, perlu pembuktian secara ilmiah. Jika memang demikian, seharusnya negara memberikan fasilitas dan dukungan dana untuk melanjutkan riset nikuba tersebut, sehingga benar-benar layak untuk digunakan secara luas. Karena sudah ada pihak yang mengaku merasakan manfaat alat nikuba tersebut. maka seharusnya ini menjadi dasar untuk melakukan riset lanjutan.


Namun lagi-lagi kapitalisme selalu berhitung untung rugi. Riset itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Tentu hal ini akan dianggap beban. Belum lagi, temuan semacam ini akan mengancam bisnis BBM yang selama ini menguntungkan para kapitalis. Sebagaimana temuan-temuan pengobatan alternatif yang bisa mengancam bisnis obat-obatan. 


Islam Menghargai Para Ilmuwan

Berbeda dengan Islam yang memiliki pandangan berbeda tentang hajat hidup orang banyak. Islam memandang bahwa penguasa adalah pelayan rakyat, yang bertugas menyediakan berbagai kebutuhan rakyat. Dengan demikian, hajat hidup orang banyak adalah sesuatu yang sangat penting. Karena penguasa memiliki mindset bahwa segala kebijakan mereka akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat, maka penguasa akan berusaha sebaik-baiknya agar segala kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi.


Islam sangat menghargai para ilmuwan. Mereka akan difasilitasi oleh negara untuk melakukan riset yang nantinya bisa mendukung pemenuhan kebutuhan masyarakat. Biaya yang cukup besar tidak menjadi kendala bagi negara untuk terus melakukan riset. Karena negara memiliki sumber pemasukan APBN yang cukup banyak. 


Kebijakan pemberian fasilitas untuk riset ini diungkapkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani sebagaimana tertuang dalam kitab Daulah Islamiyah bab Rancangan Undang-Undang Dasar pasal 179. Di pasal tersebut disebutkan bahwa “Negara menyediakan perpustakaan, laboratorium dan sarana ilmu pengetahuan lainnya … sehingga lahir di tengah-tengah umat sekelompok besar mujtahidin dan para penemu”.


Kebijakan negara semacam ini tentu hanya ada dalam negara yang berdasar pada aturan Islam, bukan negara yang bersandar pada aturan kapitalis. Sehingga, para jenius tentu akan berlomba-lomba menemukan hal baru yang bermanfaat untuk umat, dan tidak akan merasa khawatir soal pembiayaan riset dan nasib kelanjutan riset mereka. Wallahu a’lam.

Post a Comment

Previous Post Next Post