> Bencana Terus Berulang, Saatnya Negeri Muhasabah Bareng - NusantaraNews

Latest News

Bencana Terus Berulang, Saatnya Negeri Muhasabah Bareng


Pengasuh Majelis Taklim

"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang lurus). (TQS. Ar-Rum [30]: 41)


Dari ayat di atas, Allah Swt. telah mengingatkan kepada kita, bahwa bencana apapun yang terjadi, itu disebabkan oleh tangan manusia sendiri. Kesadaran inilah yang wajib dimiliki oleh setiap hamba termasuk para penguasa yang mereka telah diberi amanah untuk mengurus urusan rakyat. Penguasa harus kafabel, baik dari sisi fakih tentang agama secara keseluruhan maupun dari pengetahuannya tentang kondisi wilayah yang menjadi tanggung jawabnya. Apalagi, dengan letak geografisnya, Indonesia berpotensi melahirkan banyak bencana, seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir, gunung berapi, dan lain sebagainya. 


Seperti yang baru-baru ini terjadi. Bupati Lumajang  Thoriqul Haq menetapkan tanggap darurat selama 14 hari, menyusul terjadinya banjir lahar dingin Gunung Semeru. Peristiwa ini menerjang beberapa desa di wilayahnya. Cuaca ekstrem dengan intesitas hujan tinggi yang terjadi beberapa hari mengakibatkan banjir dan tanah longsor. Bukan hanya itu, beberapa jembatan mengalami kerusakan hingga terputus total yang diakibatkan oleh terjangan keras material lahar dingin. Atas kejadian ini, ada 493 jiwa yang mengungsi, mereka tersebar di beberapa titik. (cnnindonesia.com, 08/7/2023)


Berbagai bencana seperti gempa bumi, banjir, longsor, dan lain-lain bukan hanya terjadi karena faktor alam. Tetapi, manusia lupa bahwa dibalik semua bencana yang terjadi ini ada Zat yang Maha Mengatur. Dengan bencana ini, hendaknya umat (individu, masyarakat, dan negara) muhasabah bareng dan bertafakur sejenak. Betapa banyak kemaksiatan yang dilakukan oleh penguasa negeri ini, dan kemaksiatan yang terbesar adalah tidak diterapkannya hukum-hukum Allah Swt. secara kafah dalam kehidupan. Sehingga, banyak kebijakan negara yang justru mendatangkan bencana. 


Selain itu, negara sebagai pemegang amanah untuk mengurusi rakyatnya juga telah bersikap abai. Karena pemerintah tidak melakukan mitigasi cepat ketika bencana datang. Padahal, dari tahun ke tahun bencana serupa kerap terjadi, namun pemerintah selalu gagap menghadapinya. Korban harta benda dan jiwa manusia pun tak terhindarkan lagi.


Menang benar, bencana lahar dingin Semeru ini merupakan bencana alam, tidak seorang pun manusia yang bisa menolaknya. Tetapi, dalam hal ini ada kewajiban dari penguasa untuk melakukan mitigasi dan peringatan dini yang diupayakan sebelum bencana datang.


Hal ini berbeda dengan penanganan bencana pada saat peradaban Islam masih ada. Pemimpin dalam Islam sangat besar perhatiannya terhadap rakyat yang menjadi warga negaranya. Negara akan menyediakan fasilitas tertentu untuk menjaga rakyat dari bencana. Mereka menggaji para ahli di bidangnya untuk membuat alat dan metode peringatan dini, mendirikan bangunan tahan bencana, melatih rakyat serta mengedukasi untuk tanggap darurat, dan membangun bunker cadangan logistik.


Sejarah mencatat, di masa pemerintahan Utsmani, ada seorang arsitek muslim yang bernama Sinan. Dia membangun berbagai bangunan tahan gempa termasuk masjid dengan konstruksi beton bertulang yang sangat kokoh, yang dapat membagi dan menyalurkan beban secara merata. Terbukti, masjid itu tidak hancur diguncang gempa bumi berkekuatan di atas 8 skala richter yang terjadi di Turki.


Inilah, bukti tanggung jawab seorang pemimpin di dalam Islam. Pemimpin yang memiliki kepribadian Islam yang mumpuni, mempunyai rasa takut yang besar kepada pemilik jiwanya karena dia tahu, amanah kepemimpinannya akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt. di akhirat kelak.


"Imam (khalifah) adalah raa'in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab akan pengurusan rakyatnya." (HR. Bukhari)
Saatnya, kita melakukan muhasabah bareng. Bencana yang terus mengepung bukan hanya faktor alam, tetapi pertanda bentuk peringatan dari Allah Swt, karena negeri ini banyak melakukan pelanggaran terhadap syariat-Nya. Mari, kita tolak segala aturan yang bersumber dari ideologi kapitalisme sekularisme yang rusak. Segera terapkan Islam kafah dalam seluruh aspek kehidupan agar negeri ini berkah.
Wallahu a'lam bishshawab

NusantaraNews Designed by Templateism.com Copyright © 2014

Theme images by Bim. Powered by Blogger.