Kebakaran Depo Pertamina Plumpang: Bukti Abainya Negara, Menyebabkan Rakyat Sengsara.


Oleh: Iin Nuryati 

Pada Jumat malam (03/03/2023) sekitar pukul 20:11 WIB telah terjadi kebakaran hebat di Depo milik PT Pertamina (Persero) di Plumpang, Jakarta Utara. Kebakaran tersebut selain menghanguskan sejumlah bangunan sekitar, juga memberikan kesedihan yang mendalam lantaran banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, korban kebakaran tersebut berjumlah 17 orang meninggal dunia, dan lebih dari 50 orang luka-luka, serta ratusan orang lainnya mengungsi. 

Hingga saat ini, penyebab terjadinya tragedi mengerikan tersebut masih belum menemukan titik terang, pihak berwenang sudah melakukan penyelidikan namun belum juga membuahkan hasil. Kebakarab diperkirakan karena pipa bensin di kompleks Depo Pertamina Plumpang meledak dan menyebabkan api melahap habis segala sesuatu disekitarnya, kebakaran ini tepatnya terjadi di Jalan Tanah Merah Bawah RT 12 RW 09 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. 

Warga yang menjadi korban kebakaran masih trauma dan was-was. Kebakaran di Depo Plumpang ternyata bukan kali ini saja terjadi, namun pernah terjadi sebelumnya. Sebagian warga ada yang tidak bisa pulang karena tempat mereka tinggal sudah habis dilahap si jago merah, sedangkan sebagian lainnya masih merasa takut jika harus pulang meski pun rumah mereka tidak terkena kobaran api. 

Atas insiden ini, Presiden Joko Widodo menyampaikan dua opsi sebagai bahan evaluasi atas tragedi ini, opsi tersebut yakni antara merelokasi Depo Pertamina Plumpang atau memindahkan warga dari kawasan sekitar yang sudah seharusnya menjadi buffer zone (zona penyangga). Isu mengenai zona penyangga sebelumnya pernah ada setelah Depo Pertamina Plumpang kebakaran pada tahun 2009, yang menewaskan satu pekerja. 

Dari tragedi Kebakaran Depo Pertamina Plumpang ini menjadi bukti bahwa pemerintah abai akan keselamatan rakyat, seharusnya setelah terjadi kebakaran untuk pertamakali di Depo Pertamina Plumpang sudah harus ada antisipasi dari pemerintah, bukan justru diam dan baru bergerak setelah kejadian serupa terjadi lagi. Dengan begini, bukankah semakin membuat rakyat menderita. Selain itu, terlihat jelas adanya kesalahan tata kelola kependudukan. Pemerintah tidak memikirkan tempat tinggal rakyat. Rakyat dibiarkan tinggal dalam zona bahaya selama bertahun-tahun lamanya. Keselamatan rakyat sudah menjadi tanggungjawab dari pemerintah, rakyat seharusnya menjadi prioritas utama pemerintah.

Adanya ideologi kapitalisme sekuler yang saat ini terjadi membuat hubungan antara penguasa dengan rakyat yang seharusnya penguasa bisa menjadi pelayan, pelindung, dan pengawas keselamatan rakyat. Namun, alih-alih menjadi pelayan rakyat, penguasa saat ini justru hubungannya dengan rakyat layaknya penjual dan pembeli, dimana ada untung dan rugi. Karena keinginan penguasa menarik keuntungan dari rakyat, sehingga mengakibatkan lalai terhadap rakyat. Dalam pemikiran penguasa hanya ada untung dan untung saja, tanpa memikirkan apakah rakyat selamat, sejahtera, dan aman. 

Berbanding terbalik jika dalam Islam, rakyat justru menjadi prioritas utama. Penguasa sebagai pihak yang diberikan tanggungjawab terhadap keselamatan rakyat. Maka dari itu, pengusaha akan sangat berhati-hati dalam menentukan dan membangun tempat tinggal untuk rakyat, karena pemerintah memperhatikan betul keselamatan dan lingkungan tempat tinggal rakyat. Begitu pun dengan negara Islam, dalam negara Islam akan sangat memperhatikan dan menata wilayah untuk tempat tinggal rakyat, dengan kebijakan pengelolaan tanah, seperti tanah mati, dan tanah yang tidak dikelola oleh warga wakan diambil alih oleh negara untuk dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat. Dengan adanya pengelolaan tanah, maka dapat dipastikan tidak ada lagi lahan yang kosong, karena setiap lahan akan digunakan demi kepentingan rakyat. 

Sebagai contoh kisah Umar bin Khattab dengan serang ibu yang merebus batu karena tidak memiliki makanan sama sekali untuk dimasak. Di suatu malam Umar mengajak asistenya Aslam untuk melakukan ronda keliling kota. Umar melihat sebuah pondok dengan kompor yang menyala di tengah jalanan yang sepi. Umar juga mendengar suara anak-anak yang menangis dari pondok tersebut.

Amirul Mukminin Umar bin Khattab kemudian pergi ke pondok tersebut untuk mengetahui kondisi sebenarnya. Umar melihat seorang ibu yang terlihat memasak sesuatu di tengah pondok dikelilingi anak-anak yang menangis. Umar kemudian mengetuk pintu pondok dan bertanya penyebab anak-anak tersebut menangis. Umar juga bertanya makanan yang sedang dimasak ibu tersebut untuk anak-anaknya

Ibu tersebut menjawab anak-anaknya menangis karena lapar. Di dalam panci yang dimasak sebetulnya adalah air dan batu. Sang ibu berharap anak-anaknya lelah menunggu masakan matang hingga akhirnya tertidur. Semua bahan makanan yang ada dalam rumah tersebut sudah habis, hingga dia dan anak-anaknya kelaparan selama tiga hari belakangan.

Umar bin Khattab kemudian segera ke Baitul Mal dan mengambil bahan makanan yang diperlukan ibu dan anak-anaknya. Sang khalifah membawa dan memberikan sendiri bahan makanan pada keluarga tanpa bantuan Aslam. Umar kemudian masuk ke dalam pondok dan membantu sang ibu memasak untuk anak-anaknya. Makanan tersebut kemudian diberikan pada anak-anaknya hingga tak lagi merasa lapar.

Dari kisah Umar bin Khattab tersebut terlihat bagaimana seorang penguasa benar-benar memperhatikan keselamatan nyawa rakyatnya, Ia selalu mengecek keadaan rakyatnya dengan keliling kota demi memastikan keadaan rakyatnya dalam keadaa aman. Sepertinya itu seharusnya potret seorang penguasa. Selain itu dalam Islam nyawa seorang mukmin begitu berharga, seperti tercantum dalam hadits berikut:
Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Post a Comment

Previous Post Next Post