Good Looking is Everything


Oleh : Neng Saripah S,Ag.

Tak bisa di pungkiri, Good looking menjadi salah satu hal yang saat ini sangat dikejar oleh para pemuda. Bagaimana tidak, fenomena "Good looking = Good life" membuat hal tersebut, seolah menjadi kewajiban yang harus di miliki oleh setiap orang. Terlebih banyaknya keuntungan yang diperoleh oleh seorang yang termasuk kriteria good looking, seperti; terhindar dari bullying, mudah mendapat pasangan, mudah mendapat pekerjaan, hingga mendapat pembelaan meskipun yang dilakukan merupakan suatu kesalahan.

Tak mengherankan jika saat ini muda mudi seolah berlomba untuk memiliki penampilan yang good looking. Mulai dari menata cara berpakaian mereka, menata gaya rambut, perawatan wajah dengan skincare, belajar make up, menggunakan suntik, atau memasang filler, bahkan sampai berani melakukan operasi plastik.
Tak hanya itu, bagi mereka yang tidak memiliki cukup biaya bahkan berani dan rela menggunakan cream abal - abal demi terlihat cantik, meskipun mereka tahu betapa berbahayanya penggunaan cream - cream tersebut.

Padahal sejatinya, cantik/ good-nya paras seseorang sangatlah relatif, tergantung mindset bahkan ternyata survey membuktikan bahwa cantik itu, ada yang menciptakan.

Terbukti dengan adanya perbedaan dari masa ke masa bahkan dari tiap tempat berbeda pula terkait standar kecantikan. Di Cina misalnya, pada zaman Cina kuno cantik itu adalah sebutan bagi mereka mereka yang memiliki kaki dengan ukuran kecil, sehingga mereka harus rela kakinya di balut sejak kecil sampai dewasa, agar mereka bisa memiliki julukan "kaki lotus". Berbeda halnya dengan di Myanmar, cantik menurut suku padang di Myanmar adalah ketika seorang wanita memiliki leher panjang, yang dibentuk menggunakan gelang gelang tembaga, dan ukuran 32 gelang adalah ukuran bagi wanita yang cantiknya ideal menurut mereka. Lain lagi dengan wanita di Ethiopia, cantik menurut salah satu suku disana adalah ketika seorang wanita memiliki bibir yang lebar yang sudah dibentuk sejak kecil memakai piringan yang dimasukan kedalam bibir. Sungguh miris dan tentunya menyiksa bagi pejuang kecantikan tersebut. 

Dan masih banyak lagi perbedaan lainya dari berbagai tempat dan jaman, ada yang mengatakan cantik itu harus bertelinga panjang, ada pula yang mengatakan harus bertubuh subur, lalu berubah lagi harus bertubuh sangat kurus,kemudian cantik harus bertubuh bak gitar spanyol, hal tersebut terus berulang dan berubah setiap waktu tergantung kepentingan si pencipta mindset tersebut.

Hal itu, mestinya memunculkan pertanyaan di benak kita, siapakah sebetulnya pencipta mindset tentang cantik tersebut.?
Dan Jawabanya tidak lain serta tidak bukan adalah KAPITALISME.

Ya tepat, dialah yang mengeluarkan semua ide ide tentang makna cantik versinya tersebut. Tujuannya yaitu untuk bisa menghadirkan pasar bagi para pemilik modal, agar mereka bisa terus mengembang biakan bisnis bisnis mereka, memperbanyak uang dan kekayaan mereka. Mereka berusaha dengan sekuat tenaga memasukan ide - ide mereka seperti saat ini, pada benak umat, bahwa cantik itu harus begini dan begitu. Bahkan mereka mengadakan event-event besar seperti: Miss Indonesia, bahkan Miss Universe; untuk bisa mencontohkan makna cantik versi mereka.

Mereka gembar gemborkan semua itu melalui seluruh media masa dan media sosial. Sehingga lama kelamaan apa yang menjadi ide mereka berubah menjadi pemahaman umat, bahwa cantik itu sesuai dengan apa yang mereka propagandakan. Mulailah di sini umat merasa insecure, selalu merasa kurang dari berbagai ciptaan tuhan yang telah dianugerahkan terhadap mereka.

Kemudian kaum kapitalis muncul dengan berbagai solusi yang telah mereka programkan. Mulai dari salon kecantikan, arena olahraga, berbagai jenis skincare, produk makeup, berbagai jasa filler , botoks, tanam jarum, tanam benang, tato alis, tato bibir, hingga jasa operasi pelastik. Naudzubillah.

Umat terus dilenakan dengan berbagai kesibukan mempercantik dirinya, hingga mereka lupa pada hakikat dari tujuan utama mereka diciptakan ini untuk apa. Yaitu untuk beribadah. Sebagaimana yang terdapat dalam Q.S Adz-Dzariat bahwa ;

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Disinilah diperlukan peran kita, sebagai agen agen perubahan yang mengetahui fenomena tersebut. Untuk bisa menyeru pada umat, agar kembali pada focus utama mereka yakni sesuai tujuan penciptaan manusia dalam ayat diatas.

Wallahualam bishawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post