Marak Geng Motor, Potret Buram Kehidupan Sekuler Kapitalis

Oleh: Kharimah El-khuluq

Sosial media kembali dikejutkan dengan beredarnya video yang memperlihatkan aksi kawanan geng motor. Di video yang beredar, tampak sekitar pukul 02.32 WIB. puluhan anggota geng motor tersebutu menyerang salah satu apartemen di kawasan Jakarta Selatan. Aksi mereka terekam kamera Closed Circuit Television (CCTV) pada hari Sabtu, 4/02/2023 (RBG.id, 06/02/2023).

Kemudian di Jalan Pesantren tepatnya di RT 03/16, Kelurahan Cibabat, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi pada hari Senin, 23/1/2023 sekitar pukul 02.00 WIB dini hari anggota geng motor membacok seorang mahasiswa. Saat ini polisi sudah mengamankan 2 dari 3 pelaku, sementara seorang pelaku berinisial AFA masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) alias buron.

Dari hasil pemeriksaan, para pelaku ini mengaku anggota dari geng motor Grab on Road (GBR) yang sengaja mencari korban secara acak di Jalan Pesantren, Kota Cimahi. Atas aksi beringasnya, pelaku dikenai pasal 170 ayat 2e KUHPidana dengan ancaman hukuman selama 9 tahun kurungan penjara (kompas.com, 09/02/2023).

Kembali menjamurnya geng motor membuat masyarakat resah. Betapa tidak, keamanan dan kenyamanan terusik, bahkan nyawa pun terancam melayang. Geng motor ini bukan kali pertamanya muncul melainkan sudah lama. Salah satu alibi terbentuknya geng motor yaitu adanya kecenderungan hobi yang sama beberapa orang atau kelompok dalam bermotor. Namun, seiring berjalan waktu aktivitas mereka tidak hanya pada permasalahan otomotif melainkan sudah ke arah kriminalitas.

Penyaluran hobi generasi ke arah kriminalitas ini tidak bisa dianggap sepele atau hal yang lumrah bagi pemuda. Sebab kondisi ini sudah sangat fatal, pemuda yang sejatinya adalah pendobrak peradaban yang gemilang malah menjadi monster yang mengerikan. Gagalnya membentuk pemuda yang mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, merupakan bukti cacatnya sistem pendidikan saat ini. Sistem pendidikan tidak mampu mengarahkan kepribadian generasi dalam menyalurkan potensi yang ada di dalam diri anak didik. Mereka hanya sibuk mencetak generasi yang berprestasi dalam meraih nilai akademik namun minim kepribadian yang baik.

Selain itu, maraknya perbuatan kriminalitas yang dilakukan oleh geng motor, juga menandakan rendahnya jaminan keamanan oleh negara dan ketegasan aparat dalam menjaga keamanan warga. Dimana aparat ketika menindaklanjuti pelaku kejahatan tidak memberikan hukuman yang tegas. Bahkan tidak memberikan efek jera terhadap pelaku. Hukuman yang didapatkan seolah menjadi tantangan baru bagi pelaku untuk berulah lebih kriminal lagi. Karena mereka berpikir tidak ada hukuman yang berat dalam negara ini. Tidak adanya ketegasan para aparat menangani pelaku kejahatan merupakan manifestasi dari sistem yang diterapkan saat ini.

Adapun sistem yang diterapkan saat ini adalah sistem kapitalisme dengan asas sekularismenya. Sekularisme adalah pemisahan kehidupan dengan agama. Salah satu yang diusung dalam sistem kapitalisme adalah asas kebebasan berperilaku. Jadi setiap orang bebas melakukan apa saja tanpa menjadikan agama sebagai standar perbuatannya. Perilaku atas dasar kebebasan itu walaupun merugikan orang pada akhirnya nanti tidak akan dihukumi dengan hukuman yang berat. Karena standar hukumnya juga berdasarkan standar hukum kapitalisme-sekularisme. Tentu hukuman ini tidak memberikan efek jera.

Tidak hanya pada aspek hukum, aspek dunia pendidikan yang dikejar juga adalah nilai materi sesuai dengan tujuan dari kapitalisme yaitu mencari keuntungan semata. Dunia pendidikan dikapitalisasi sehingga wajar melahirkan generasi yang berorientasi dunia semata. Generasi dididik dalam dunia pendidikan agar mampu menjadi robot industri atau dunia kerja. Jadi, yang perlu dipersiapkan oleh generasi menurut pandangan kapitalisme sekuler adalah cukup memiliki nilai akademik yang memuaskan dan keterampilan semata.

Maka dari itu, agar generasi tidak salah arah maka dibutuhkan petunjuk yang benar. Petunjuk yang benar hanya ada dalam sistem Islam. Di dalam Islam pemuda dibina agar memiliki kepribadian Islam. Kepribadian Islam tidak terbentuk begitu saja melainkan lahir dari sistem pendidikan Islam. Pendidikan dalam Islam tidak hanya memprioritaskan nilai akademik semata. Namun, nilai agama menjadi pondasi utama yang dibentuk dalam diri peserta didik. Sehingga lahir pemuda yang memiliki pemahaman Islam serta berkepribadian Islam.

Tidak hanya itu ketika pemuda melakukan kesalahan seperti halnya geng motor ini, maka akan dihukum berdasarkan ketetapan hukum syara. Karena, hukuman dalam Islam adalah jalan untuk memberikan efek jera terhadap pelaku dan sebagai pencegah bagi masyarakat agar tidak melakukan tindakan kriminal ataupun kejahatan yang serupa. Ketika penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pelaku kejahatan maka akan tercipta keamanan di dalam kehidupan, baik kehidupan sehari-hari maupun kehidupan bernegara.

Namun, keparipurnaan sistem Islam dalam upaya membentuk generasi cemerlang serta penegakan hukum secara tegas, tidak akan bernilai ketika tidak diterapkan dalam sebuah intitusi negara. Nah, negara yang mau menerapkan sistem Islam adalah suatu hal yang mendesak yang harus diadakan saat ini. Negara yang mau menerapkan Islam secara kaffah adalah Khilafah Islamiyyah.

Wallahualam Bishawwab.

Post a Comment

Previous Post Next Post