Warisan Rasulullah untuk Diikuti, Bukan Sekedar Dipelajari


Oleh Ummu Zhafran, 
Pegiat Literasi

“ _Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”_ (QS An Nisa: 65)

Pernyataan seorang pejabat publik di negeri ini lagi-lagi menuai kontroversi. Dalam suatu kesempatan ia katakan haram hukumnya mendirikan negara seperti yang dijalankan Nabi Muhammad saw. Alasannya, era telah berganti, wahyu tak lagi turun. Mengingat zaman sudah berbeda, maka sistem bernegara ala Nabi pun tak lagi relevan. (cnnindonesia, 4/4/2022)

Entah apa yang mendorong lisan sang pejabat mengucap hal di atas. Sebagai umat muslim tentu semua tahu predikat halal maupun haram selayaknya disandarkan pada dalil dan ketetapan Allah Swt. dan Rasulullah saw. Bukan berdasarkan opini dan kepentingan pribadi dan golongan manusia. Apatah lagi, saat mengatakan haram mengikuti Rasulullah, lalu apa kabar kalimat syahadat yang diucapkan berkali-kali dalam salat lima waktu? Hanya dua kalimat yang kosong tanpa makna? Miris.

Terkait ayat di atas, Imam Syafi'i dalam kitabnya Ar-Risalah  menjelaskan bahwa hukum yang disampaikan Rasulullah sama dengan hukum Allah, maka orang yang menaati Rasulullah sama dengan menaati Allah. Banyak ayat maupun hadis lainnya yang senada. Antara lain,

“Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah.” (QS An Nisa: 80)

Melalui ayat-ayat tersebut Allah menyeru manusia agar mereka mengikuti ajakan Rasulullah yang akan memutuskan perkara di antara mereka sebab hal itu juga merupakan ajakan kepada hukum Allah.  Apabila mereka menerima hukum Rasulullah maka di saat yang sama hakikatnya mereka juga menerima hukum Allah, demikian pula sebaliknya bila menolak ketetapan Rasulullah berarti membangkang terhadap syariat Allah Swt. Na’udzubillah.

Satu hal yang patut diingat pula, Nabi Muhammad saw. adalah penutup para nabi dan rasul. Tiada lagi utusan Allah setelah wafatnya beliau. Artinya tiada lagi wahyu yang turun pada umat manusia. Hanya saja Rasulullah saw. mewariskan dua hal sebagai pedoman manusia dalam menjalani kehidupannya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. 

Nabi saw. bersabda,
“Aku telah meninggalkan dua perkara. Kalian tidak akan pernah tersesat selama-lamanya jika kalian berpegang teguh pada kedua. (Kedua perkara itu) Kitabullah (al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (al-Hadis).” (HR Malik)

Wajib bagi umat muslim menyandarkan segala aktivitasnya pada dalil dari keduanya. Tentu dengan meneladani perbuatan, perkataan dan ketetapan Rasulullah saw. Tak hanya pada aspek ibadah dan akhlak saja, namun juga sosial, pergaulan, militer dan kehidupan bernegara hingga  Kiamat kelak. 

Firman Allah Swt.,
“Sungguh bagi kalian, di dalam diri Rasulullah itu, terdapat suri teladan yang baik.” (QS Al Ahzab: 33)

Inilah sebabnya setiap upaya melanggar dan membangkang pada Nabi saw.  digolongkan sebagai orang yang hakikatnya tidak beriman meski di lisan mengaku beriman seperti dalam surah An Nisa ayat 65 di atas.

Berkaca dari sejarah, tampak jelas Islam bukan hanya mengurusi urusan individu namun juga hidup bernegara. Bahkan sejak awal Rasulullah telah mengisyaratkan adanya kehidupan bernegara dengan Khalifah sebagai pemimpinnya melalui sabdanya,

“Dahulu Bani Israil diatur hidupnya oleh para nabi, setiap seorang nabi meninggal, dia digantikan oleh nabi lainnya, dan sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Dan akan ada para khalifah dan jumlah mereka akan banyak.” (HR Muslim, no 1842)

Lalu sejarah pun mencatat setelah wafatnya Nabi, mewujud  eksistensi kekhalifahan Umayyah, Abbasiyah lanjut yang terakhir, Utsmaniyah sebelum akhirnya runtuh tahun 1924 di Turki. Di bawah naungan kekuasaan Islam, umat hidup makmur dan sejahtera tanpa kecuali.

Hanya saja, penting untuk dicamkan bahwa kekuasaan Islam yang silih berganti selama kurang lebih 13 abad semata menjalankan warisan Rasulullah saw. yaitu menerapkan syariah secara kafah yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah. Bukan yang lain.  

Bandingkan dengan kini,                                                                                                                                                                                                            Islam justru diabaikan  lantas berpaling  pada ideologi dan sistem selain Islam seperti sekularisme-kapitalisme sebagai jalan hidup. Padahal meninggalkan Islam seperti yang dicontohkan Nabi saw. justru membuat masalah demi masalah tak henti merundung umat. Mulai dari pergaulan bebas, LGBT hingga penistaan agama. Dikuasainya beragam sumber daya alam  oleh swasta asing maupun lokal serta keberadaan oligarki yang melakukan praktik monopoli, penimbunan dan kartel atas kebutuhan vital di tengah masyarakat.

Sampai di sini bisa dipahami bagaimana urgennya keberadaan khilafah yang dipimpin khalifah di sisi syariat. Bahkan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani berfatwa, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-B├óri, XII/205)

Dengan demikian menyatakan haramnya bernegara ala Nabi, tidakkah sama dengan menantang Allah Swt., Zat yang Maha Menciptakan manusia, yang menurunkan syariat melalui Nabi saw.? Astaghfirullah. Wallahua’alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post