Taliban, Like or Dislike



Dua ledakan terjadi di dekat Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul, ibu kota Afghanistan, pada Kamis, 26 Agustus 2021. Dilansir dari Amaq News Agency, Ledakan  bom bunuh diri ini menewaskan sedikitnya 72 orang, termasuk 12 tentara Amerika Serikat, sementara korban luka mencapai 158 orang. 

Ledakan ini membuat proses evakuasi kian sulit. Presiden AS Joe Biden  marah besar merencanakan serangan balik. Sabtu (28/8) dini hari, Militer Amerika Serikat menyerang balik dengan  meluncurkan serangan drone ke ISIS di Afghanistan timur, kurang dari 48 jam setelah serangan bom bunuh diri di luar bandara Kabul, Kamis (26/8). 

Kecaman juga muncul dari Taliban, yang sekarang berkuasa di negara Afganistan, 
seperti diberitakan di anataranewss.com    Sedikitnya 28 anggota Taliban termasuk di antara orang-orang yang tewas dalam ledakan pada Kamis (26/8) di luar bandara di Kabul, Afghanistan.  Padahal mereka sedang diperbantukan di bandara untuk mengawal proses evakuasi.

Belakangan terungkap ISIS-k  yang bertanggung jawab atas ledakan di Bandara Kabul. ISIS-K, merupakan afiliasi ISIS di Timur Tengah. Nama kelompok ini berasal dari  wilayah yang mencakup Afghanistan dan Pakistan: Khorasan.

Belakangan diketahui, ISIS-K adalah kelompok teroris yang merupakan musuh bebuyutan Taliban yang kini menguasai Afganistan.

Menteri Angkatan Bersenjata Inggris James Heappey memperingatkan adanya laporan intelijen bahwa kelompok militan sedang merencanakan serangan terhadap orang-orang yang berkumpul di Bandara Kabul. 

Sejak Taliban mengambil alih kota itu awal bulan ini, ribuan warga sipil Afghanistan dan warga asing telah menyemut di bandara dalam upaya untuk melarikan diri dari Afghanistan menjelang batas waktu 31 Agustus.  Mereka takut pemerintahan sekarang  bakal kembali menggerus hak-hak sipil, sebagaimana pernah terjadi saat berkuasa pada 1996-2001(tirto.id, 21-08-21). 

Sudah delapan hari, yakni sejak 15 Agustus lalu, Taliban menguasai kembali kota Kabul dan negeri Afghanistan. Kini, dunia harus menerima realitas baru, yakni tidak hanya kenyataan bahwa Taliban menguasai kembali Kabul dan negeri Afghanistan, tetapi juga realitas bahwa Taliban  menjadi kekuatan politik dan militer terkuat  di Afghanistan saat ini. 

Beragam tanggapan negara dunia atas kemenangan Taliban 
. Respons AS barangkali paling disorot karena manuver Taliban ini terjadi ketika militer perlahan pergi setelah berada di sana selama 20 tahun atas nama “perang terhadap teror”. 

Di Timur Tengah, Arab Saudi berharap Taliban tetap melindungi rakyat sesuai prinsip Islam, sementara Qatar menyerukan transisi yang damai. Turki tidak terlalu mengkhawatirkan Taliban. Sementara Rusia, yang secara geopolitik berseberangan dengan AS, menilai positif kehadiran Taliban. Duta Besar Rusia untuk Afghanistan Dmitry Zhirnov menganggap situasi di Kabul “lebih baik” di bawah Taliban dibanding masa Presiden Ghani.

Dari semua tanggapan tersebut, mungkin Cina-lah yang justru tampak paling bersemangat sekaligus siap. Dua pekan sebelum Kabul dikuasai Taliban. Melansir situs resmi Kementerian Luar Negeri Cina, Taliban ingin pemerintah Cina “lebih terlibat” dalam proses rekonsiliasi dan pembangunan ekonomi di Afghanistan.

Sedangkan masyarakat Indonesia 
memandang peristiwa ini secara romantik dan emosional. Tapi ada juga  memberikan respon dengan wait and see. Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Provinsi Aceh Dr. Muhammad Yusran Hadi, MA mengatakan kemenangan Taliban  patut diapresiasi dan diacungi jempol, karena diperoleh dengan tanpa peperangan dan pertumpahan darah. Bahkan Taliban menjamin keselamatan dan keamanan tentara, polisi dan penduduk sipil yang tidak melawan Taliban. 

Kemenangan Taliban di Afghanistan untuk tidak disikapi secara kelebihan oleh kelompok yang pro dan kontra.  Persoalan di Afghanistan harus dilihat dengan dari banyak sudut agar bisa memahami persoalan politik di sana. Jangan sampai peristiwa yang terjadi di sana, justru mengakibatkan efek perpecahan bagi masyarakat Indonesia.
Waspadailah propaganda jangan menelan mentah-mentah informasi dan narasi hanya dari satu sumber saja, tetapi harus paham betul bagaimana persoalan dan konflik yang terjadi di Afganistan.

Pakar Timur Tengah yang juga pendiri Albalad.co, Faisal Assegaf, meyakini Taliban sudah berubah. Banyak fakta di lapangan bahwa jika pemerintah setempat tidak mau pergi dari wilayah yang dikuasai Taliban, mereka akan diantar ke batas provinsi. Selain itu, Faisal mengungkapkan bahwa Taliban tidak menawan, mengeksekusi, maupuan menyiksa orang-orang yang ditahan. Bahkan, Taliban juga mengizinkan 8 mantan pejabat Afghanistan lari ke Turki. (Tempo.co, 21/08/21) 

Pakar Politik Asia dan Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI) Abdul Muta'ali membeber  beberapa hal penting seputar manuver Taliban yang mengambil alih kekuasaan di Afghanistan. Salah satunya adalah fakta bahwa para militan Taliban diterima oleh mayoritas masyarakat Afghanistan. Walau pun kita lihat di media massa masyarakat Afghanistan lari ke bandara, tapi itu hanya terjadi di beberapa Provinsi. Tetapi di Provinsi lain, mereka (Taliban) diterima dan dicintai oleh masyarakat " paparannya di Apa Kabar Indonesia Petang yang yang diunggah di kanal YouTube tOneNews, Senin (16/8). 

Mia Fitriah Elkarimah
el.karimah@gmail.com

Post a Comment

Previous Post Next Post