Pandemi Tak Hilang Konflik pun Datang


Oleh: Aslama
 (Pemerhati Kebijakan publik)

Banyak peristiwa pada masa pendemi saat ini membuat kita mengurut dada. Bagaimana tidak, korban covid semakin hari semakin meningkat. Disisi lain efek dari pandemi covid ini seperti menjalar ke segala bidang, termasuk konflik sosial yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini.

Peristiwa penganiayaan yang dialami Salamat Sianipar (45), warga Desa Sianipar Bulu Silape, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, Sumatera Utara.

Pasalnya, gara-gara positif Covid-19 dan ingin melakukan isolasi mandiri di rumah justru diamuk oleh warga sekitar. Peristiwa memilukan itu terjadi pada Kamis (22/7/2021).

Berawal dipaksa isoman di dalam hutan
Keponakan korban, Jhosua mengatakan, kejadian berawal saat pamannya dinyatakan positif Covid-19 bersama dengan rekan kerjanya.

Saat itu, korban menuruti permintaan aparat desa tersebut. Tapi setelah beberapa hari menjalani isolasi di tengah hutan itu korban tidak betah dan merasa depresi.

Akhirnya korban pulang dengan harapan dapat melanjutkan isolasi mandiri di dalam rumahnya.

Warga yang mengetahui hal itu geram. Lalu korban dianiaya secara membabi buta seperti binatang. (https://regional.kompas.com/read/2021/07/24/222058578/kronologi-pasien-covid-19-dianiaya-warga-hingga-babak-belur-berawal-dipaksa?page=all)

Konflik horizontal makin banyak terjadi, baik antar anggota masyarakat, masyarakat-nakes dan pelaksana program terkait Covid. Konflik tersebut tentu ada sebabnya. Hal ini dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan masyarakat pada kebijakan negara (public distrust). Ditambah lagi pemerintah juga tidak maksimal dalam mengedukasi masyarakat

Disamping itu juga, karena lemahnya penanganan korban. Akhirnya masyarakat mengambil tindakan sendiri yang berujung konflik antar anggota masyarakat

Dalam hal ini kebijakan yang matang dan solusi yang menyelesaikan sangat dibutuhkan masyarakat. Bukan hanya sekedar mengeluarkan kebijakan tapi harusnya masyarakat juga mendapatkan hak semestinya sebagai anggota masyarakat yang harusnya dilindungi dan diayomi. 

Kebijakan tanpa solusi hanya akan menimbulkan kepanikan publik dan akhirnya mendatangkan kekacauan di tengah-tengah masyarakat. 

Fakta kekacauan di atas diakibatkan bahwa aturan hidup kita selama ini jauh dari Islam sehingga kekacauan terjadi di berbagai aspek kehidupan. Islam sebagai agama yang komplek dalam mengatur kehidupan telah ditinggalkan. 

Bicara tentang Islam, kepemimpinan adalah amanah Allah yang akan  pertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Dalam hal ini siapapun yang menyadarinya akan melaksanakan tanggung jawabnya sebaik mungkin.

Islam menetapkan bahwa penguasa atau negara adalah pengurus (rain) dan penjaga (junnah) bagi rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda,

الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR Bukhari)

Dan beliau saw. pun bersabda,

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll.)

Oleh karena itu, hubungan yang  harusnya dibangun antara penguasa dan rakyat dalam Islam adalah hubungan gembala dengan penggembalaannya. Atau seperti hubungan bapak dengan anak-anaknya. Dengan kata lain bukan antara pedagang dan pembeli seperti yang kerap terjadi saat ini.

Sehingga, penguasa dalam Islam akan selalu memastikan rakyatnya terpenuhi kesejahteraannya dan terjaga dari segala mara bahaya. Tak hanya dengan pendekatan komunal, tapi benar-benar per individual.

Semua itu bisa diwujudkan melalui penerapan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Sebab, syariat Islam bukan syariat bagi kepentingan satu golongan, melainkan jalan kebahagiaan yang dibuat Sang Maha Pencipta untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam.

Post a Comment

Previous Post Next Post