Kelangkaan Oksigen Tanggung Jawab Siapa?


Oleh Ummu Farid 
 Ibu Rumah Tangga 

Kabut hitam masih menyelimuti dunia kesehatan. Wabah masih belum berlalu. Bahkan selama bulan Juni dan Juli jumlah  warga yang terpapar Covid-19 meningkat signifikan. Mulai dari yang bergejala ringan sampai berat. Rumah sakit umumnya penuh dan tidak mampu menyediakan oksigen bagi yang bergejala berat, karena stok terbatas.

Menanggapi kondisi di atas, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Pemerintah Kabupaten Bandung, Marlan menyarankan setiap rumah sakit masing-masing  menyarankan untuk menyediakan oksigen concentrator atau generator oksigen karena  pandemi  entah sampai  kapan akan berlangsung (POJOKBANDUNG.com)

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)  menyerukan  setiap kota dan Kabupaten membentuk satgas oksigen  guna memantau kondisi dan kebutuhan oksigen di rumah sakit agar tidak mengalami keterlambatan pembagian dari distributor. 

Kebutuhan akan oksigen adalah kebutuhan vital yang tidak bisa ditunda, karena berkaitan dengan nyawa. Maka sudah seharusnya pemerintah dapat mengantisipasinya di tengah membludaknya pasien. Bisa saja dengan cara membeli dari seluruh pengusaha tabung oksigen, selanjutnya didistribusikan ke berbagai rumah sakit ataupun ke masyarakat yang sedang melakukan isolasi mandiri serta membutuhkan pasokan oksigen. Menunggu tersedianya generator oksigen pada saat pasien sudah berjatuhan tidaklah tepat. Sudah selayaknya pemerintah sebagai penanggung jawab kepemimpinan mengurusi mereka yang sakit serta memenuhi segala kebutuhannya, baik obat maupun oksigen. Jangan sampai warga kesulitan mencari yang akhirnya mengakibatkan banyak pasien meninggal.

Adanya krisis oksigen dan lambannya penanganan oleh pemerintah telah menggerakan para relawan kemanusiaan untuk membantu mencarikan tabung oksigen. Apalagi bagi kaum muslimin yang memahami  bahwa umat Islam itu bersaudara.Tentu hal ini merupakan amal saleh yang patut diapresiasi. Hanya saja sekuat apapun bantuan mereka pasti tidak akan maksimal tanpa peran negara. 

Karena negaralah yang memiliki data baik jumlah rumah sakit maupun jumlah pasien yang membutuhkan oksigen. Disamping itu negaralah yang memiliki wewenang mengatur suplai oksigen. Masyarakat sifatnya hanyalah membantu bukan penanggung jawab utama. 

Sayangnya penguasa dalam sistem kapitalisme menyerahkan penyediaan oksigen berikut distribusinya kepada para pengusaha. Rakyat dibuat kesulitan, karena tidak mudah mendapatkannya. Pemerintah berlepas tangan, sehingga dimanfaatkan para pengusaha mematok harga yang mahal sesuai hawa nafsunya, walaupun dengan hal itu menambah penderitaan orang lain. Semua tidak diperdulikannya. Yang penting menguntungkan. Penimbunan dan korupsi bansos adalah bukti nyata dari watak kapitalis tak punya hati.

Dalam sistem kapitalisme, negara tidak bekerja melayani rakyat sepenuh hati, tapi melayani pihak-pihak yang telah berjasa hingga dapat menduduki jabatannya saat ini. Mereka itulah para pemilik modal. Rakyat dipaksa harus rela mendapatkan layanan seadanya dan terpaksa menghadapi wabah tanpa riayah (pengayoman) sang pemilik amanah.

Jika kita bandingakan dengan pengayoman yang dilakukan oleh para penguasa di masa tegaknya sistem Islam, sangatlah berbeda. Masyarakat mendapat jaminan pelayanan memuaskan dan gratis terlebih di saat wabah melanda. Negara memastikan supaya  tidak ada satu nyawa pun yang melayang sia-sia tanpa diawali dengan ikhtiar maksimal, mengerahkan biaya dan upaya. 

Seorang pemimpin dalam pandangan Islam bertanggungjawab penuh atas urusan rakyatnya, termasuk kesehatan. Rasulullah saw. bersabda: 
"Pemimpin  masyarakat adalah pengurus dan dia bertanggungjawab atas rakyatnya" (HR Al-Bukhari dan Muslim) 

Sejak awal terjadinya wabah, seorang pemimpin harus segera melakukan karantina wilayah, memisahkan antara yang sehat dan yang sakit melalui upaya testing gratis. Yang terjangkit harus segera diobati sampai sembuh. Yang terdampak dibantu memenuhi segala kebutuhannya selama wabah. Sementara daerah yang tidak terkena wabah masyarakatnya diperbolehkan beraktivitas seperti biasa. Pada masa Rasulullah dan masa Khalifah Umar wabah bisa dituntaskan hanya beberapa bulan saja. 

Kesimpulannya, mewujudkan riayah maksimal bukan hanya persoalan siapa yang memimpin, akan tetapi juga tergantung dari aturan apa yang akan diterapkan pemimpin tersebut. Aturan yang berasal dari Sang Pencipta, Maha Pengatur kehidupan yaitu sistem Islam ditunjang oleh pemimpin amanah,  telah membuktikan mampu mengatasi segala permasalahan termasuk urusan kesehatan.
Wallahu Alam bisa ash shawab 

Post a Comment

Previous Post Next Post