Pelayanan Kesehatan Tanggung Jawab Siapa?

Oleh : Rengga Lutfiyanti
Mahasiswi, Member Akademi Menulis Kreatif

Sehat merupakan salah satu bentuk kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Rasulullah saw. bersabda,  “Siapa saja di antara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya; aman jiwa, jalan dan rumahnya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka ia telah diberi dunia seisinya” (HR al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, Ibn Majah dan Tirmidzi). Tapi sekarang ini kesehatan menjadi sesuatu yang mahal.

Belum lama ini muncul pernyataan yang cukup mengejutkan dari Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Terawan menegaskan bahwa layanan kesehatan yang diberikan dalam progam JKN adalah layanan kesehatan dasar dengan dana yang terbatas. Namun, nyatanya di lapangan kerap dilakukan dengan tindakan yang berlebihan sehingga membuat pembiayaan juga jadi berlebih. “ Ini namanya limited budgeting, kok diperlakukan unlimited medical service? Jelas akan jadi pengaruh yang besar, ” katanya.

Terawan juga menjelaskan bahwa selama ini pemerintah mengacu pada pasal 19 UU Nomor 40 Tahun 2004. “Dimana di situ bunyinya adalah pelayanan kesehatan dasar. Kalau dibikin unlimited medical services, pasti akan menjadi kolaps,” tuturnya (bisnis tempo, 30/11/2019). Pernyataan tersebut sungguh disayangkan, sebab pernyataan tersebut bisa saja melukai hati rakyat. Memberi kesan seolah-olah tak perlu sakit, sebab pembiayaannya tidak ditanggung. 

Mengatakan bahwa ‘limited budgeting kok diperlakukan unlimited service’ merupakan dalih bagi aktivitas berlepas tangan atas layanan kesehatan yang dibutuhkan rakyat. Karena yang diberikan hanya layanan dasar saja. Seharusnya Negara memfasilitasi pelayanan kesehatan dengan maksimal bukan malah membatasinya. Karena hakikatnya negara merupakan penanggung jawab atas hajat rakyat, termasuk dalam hal kesehatan.

Kondisi demikian terjadi disebabkan asas pelayanan kesehatan yang mengadopsi paham kapitalis. Dimana yang menjadi dasar dari asas ini adalah materi. Sehingga mereka hanya mementingkan keuntungan pribadi semata tanpa peduli pada kesejahteraan rakyat. Hal ini membuat rakyat semakin menderita. Ketika mereka sakit yang mereka khawatirkan bukan pada kesembuhan mereka, tetapi biaya yang akan mereka tanggung ketika berobat. Rakyat semakin tertekan. Padahal rakyat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak tanpa harus merasa terbebani oleh biaya kesehatan.

Berbeda halnya dengan Islam. Sejarah telah mencatat bahwa pelayanan kesehatan yang diberikan pada masa pemerintahan Islam merupakan pelayanan terbaik yang pernah ada dalam sejarah. Peradaban Islam telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam bidang kesehatan. Islam sangat memperhatikan kesehatan, karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Negara bertanggung jawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Nabi saw. bersabda, “Imam (Khalifah) laksana pengembala dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR. al-Bukhari).

Dalam sistem pemerintahan Islam, pelayanan kesehatan diberikan secara gratis dan berkualitas kepada rakyat baik kaya atau miskin tanpa diskriminasi baik agama, suku, warna kulit dan sebagainya. Dan untuk pembiayaan, itu semua diambil dari kas Baitul Mal, baik dari pos harta milik negara ataupun harta milik umum. Sehingga tidak akan membebani rakyatnya. Sebab Islam melarang negara memungut harta rakyat untuk menjalankan kewajiban negara melayani kesehatan rakyat. 

Wallahu a’lam bishshawab.

Post a Comment

Previous Post Next Post