Penulis : Yanti Jayanti
Cirebon

Sekarang kita hidup di zaman millenial. Zaman dimana arus informasi dapat tersebar dengan luas dalam hitungan detik. Dan dampak negatifnya, mudahnya budaya barat masuk ke Indonesia. Dan tidak sedikit banyak generasi millenial yang tidak bisa me-filter budaya barat yang masuk ke Indonesia.

Kini media sosial kembali di gemparkan oleh sebuah video yang menampilkan potret generasi masa kini. Sebuah potret dimana seorang muslim tidak mengenali agamanya sendiri. Di video yang berdurasi kurang lebih 7 menit itu, menampilkan tentang beberapa pelajar SMA yang tidak mengetahui rukun islam dan rukun iman. Sebuah potret yang mengiris bathin, bukan?

Bukan sebuah rahasia lagi, jika virus pemikiran kufur yang berasal dari budaya kafir barat mudah menancap dan menyebar dikalangan generasi muda muslim saat ini. Jika kita analisa, hal tersebut bisa diakibatkan dari sisi pola mendidik di rumah, sekolah, pola gaul dengan teman dan kebebasan informasi yang ada. Kenapa sisi pola didik di rumah di jadikan analisa yang pertama?. Karena rumah merupakan lingkungan pertama untuk membentuk karakter anak.

Memang, sudah tugasnya orang tua mengenalkan agama pada anak-anaknya sejak dini. Seperti yang kita ketahui peran orang tua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Namun, di zaman sekarang tidak sedikit orang tua justru membiarkan anak-anaknya jauh dari agama. Padahal dalam QS. At-tahrim ayat 6 Allah Subhanahu Wata'ala berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6).

Selain lingkungan di rumah, lingkungan di sekolah pun sangat berpengaruh besar dalam membentuk karakter anak. Karena melalui lingkungan sekolah, anak mulai mengenal pergaulan. Dan orang tua tetap memperhatikan atau memantau dengan siapa anak bergaul dan bagaimana kepribadian anak di luar rumah. Karena pergaulan tersebut itu bisa berdampak positif ataupun sebaliknya.

Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu 'Alaihi Wassalam yang artinya :

 “Hanyalah perumpamaan teman yang baik
dan teman yang buruk itu ibarat seorang
penjual minyak wangi dan seorang pandai
besi. Penjual minyak wangi bisa jadi akan
memberimu minyak wangi atau Engkau
bisa membeli minyak wangi darinya. Dan
kalaupun tidak, Engkau tetap
mendapatkan bau harum darinya.
Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan
apinya) akan mengenai (membakar)
pakaianmu. Dan kalaupun tidak, Engkau
tetap mendapatkan bau asap yang tidak
sedap .” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim
2628)

Apalagi di zaman yang disebut-sebut zaman generasi millenial ini, pergaulan bebas pada remaja di Indonesia dari hari ke hari semakin mengkhawatirkan. Terlebih dengan adanya arus internet yang cepat dan tidak dapat dibendung masyarakat. Anak-anak bisa dengan mudahnya mengakses segala sesuatu dengan cepat entah itu hal yang positif ataupun justru negatif. Salah satu contoh negatif itu adalah anak-anak bisa mengakses video porno dengan leluasa.

Dan jika itu terus dibiarkan, maka jangan kaget jika akan banyak tumbuh generasi yang melupakan agamanya dan lebih mementingan urusan duniawi. Solusi untuk mencengah itu terjadi terus me-charger diri dengan keimanan dan ke taqwaan terhadap sang khaliq. Dan untuk semua orang tua untuk menjaga anak-anaknya dari virus budaya barat yang dapat mengkikis keimanan anak. Kenalkan ilmu agama pada anak sejak dini, jangan biarkan anak-anak kita jauh dari agama.

Wallahua'lam, semoga bermanfaat.
 
Top