Nn, Manhattan ~ Joey Alexander pianis cilik asal Indonesia berhasil menyihir audiens Dizzy’s Club Coca-Cola di Manhattan, Amerika Serikat dengan jemarinya. Joey mendapat aplus sangat meriah dari para penikmat musik disana, usai melangsungkan aksi musikalitasnya bersama dua rekan dewasanya yang mengisi instrument Drum dan Bass.

Dikabarkan New York Times pada Rabu (13/5) lusa lalu, Joey yang belum genap berusia 12 tahun mengeluarkan album debutnya yang diberi judul My Favorite Things. Dalam penggarapan album perdanaya tersebut, Joey dibantu sejumlah musisi kaliber Grammy, dari Larry Grenadier (bass), Ulysses Owens Jr. (drum), juga Russell Hall (bass), Sammy Miller (drum) dan Alphonso Horne (terompet).

Pianis yang bernama lengkap Josiah Alexander Sila lahir di Denpasar, Bali pada 2003 silam. Semenjak berusia enam tahun, jemari Joey sudah akrab dengan tuts piano. Kemahiran Joey tak lepas dari peran sang ayah Denny Sila yang sering memperdengarkan alunan musik jazz koleksi si bapak.

Lebih hebatnya usia delapn tahun, Joey melakukan jam-session dengn pianis legendaries Herbie Hancock di Jakarta. Setahun berikutnya Joey memenangkan grand prize di Master-Jam Fest di Ukraina, fantastisnya Joey mengalahkan musisi dewasa yang ikut bersaing dalam kontes tersebut, sejak saat itu nama Joey makin dikenal dikalangan penikmat dan pegiat music jazz dunia.

Setahun terakhir ini Joey bersama orang tuanya menetap di Amerika. Di Amerika bakat Joey diasah di Jazz at Lincoln Center.

Dilaporkan New York Times, popularitas joey tak kalah banyak dibanding Wyton marslis, Herbie Hancock, Billy Crystal bahkan mantan Presiden AS Bill Clinton. Bahkan Majalah Downbeat yang terkenal dengan kritikannya memberikan pujian “genius” pada sang bocah. Begitu pula dengan Jazz Time yang member label “magnificent” untuk Joey.

Pasca era Indra Lesmana, pada tahun 1970-an, sebelum munculnya Joey Alexander, mungkin musisi yang jenius dan cemerlang hanya bias dihitung dengan sebelah jari tangan saja.

Intuisi Joey dalam bermusik sangat tajam bahkan lagu milik Thelonious Monk ditahun 1965 yang berjudul well, you needn’t ditahun 1965 terkenal rumit dengan enteng dibawakannya.

Selain bakat yang luar biasa, kepribadian Joey sangat mengesankan orang-orang di sekitarnya, terutama fansnya. Dikalangan fans dan musisi jazz Joey dikenal dengan sosok yang sederhana yang kerap menggunakan baju kaos.

Menurut pengakuan Larry Grenadier pencabik gitar Bass, Joey merupakan musisi yang unik, kebanyakan bocah seusianya piawai bermusik berasal dari sekolah music, namun Joey berbeda, ia kerap mengandalkan intuisinya sehingga hasilnya terdengar lebih indah. (Alang)