N3~Dalam persidangan saksi ahli toksikologi forensik Puslabfor Mabes Polri, Dr Nursamran Subandi mengatakan, tim forensik melakukan sejumlah uji coba menggunakan barang bukti sisa es kopi Vietnam yang diminum korban Wayan Mirna Salihin dan es kopi Vietnam pembanding.

Ini bertujuan, untuk mengetahui berapa kadar sianida yang diminum korban. Hasilnya, sianida yang diminum korban Mirna lebih tinggi dari dosis mematikan, ungkapnya.

Sidang Lanjutan menyangkut perkara kopi beracun ini berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam sidang lanjutan ini,  Nursamran menjelaskan, barang bukti yang diperiksa adalah satu gelas berisi sisa minuman kopi korban kurang lebih 15 ml (barang bukti/BB I), satu botol berisi sisa minuman kopi korban kurang lebih 200 ml (BB II), satu botol berisi segelas minuman kopi pembanding kurang lebih 350 ml (BB III), satu buah pipet berisi cairan lambung kurang lebih 0,1 ml (BB IV).

"Kemudian, satu toples berisi jaringan lambung dan isinya milik korban (BB V), satu buah toples berisi jaringan hati dan empedu milik korban (BB VI), dan dua buah spoit berisi urine korban volume masing-masing kurang lebih 0,1 ml (BB VII)," ujarnya di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (3/8) kemarin.

Lebih lanjut iamenguraikan, berdasarkan uji coba dengan menggunakan sedotan plastik serupa dengan yang digunakan korban saat minum kopi, diperoleh volume rata-rata untuk satu kali sedotan normal kurang lebih 20 ml.

Ia menjelaskan, 20 ml cairan kopi dengan kandungan natrium sianida yang ditemukan dalam barang bukti 14,88 g/l = 0,021 x 14,88 g/l = 0,2976 g/l = 297,6 mg natrium sianida. Artinya, kandungan natrium sianida yang diminum korban berjumlah 297,6 mg.

"Menurut referensi, dosis mematikan terendah NaCN untuk manusia adalah 2,857 mg/kg. Sehingga untuk manusia dengan bobot 60 kg, dosis mematikannya 60 kg x 2,857 mg/kg sama dengan 171,42 mg. Berdasarkan perhitungan itu, jumlah NaCN yang diminum korban lebih besar dari dosis yang mematikan," ungkapnya. Menurutnya, organ tubuh korban juga dianalisa seperti jaringan lambung dan isinya.

"Ditemukan positif sianida, itu sebesar 0,2 mg/l," katanya.

Menyoal kenapa sianida di lambung kadarnya sedikit, Nursamran menjelaskan, di lambung sianida cepat lepas karena ada asam lambung. "Kalau di gelas lepas juga, namun lambat," ucapnya.

Ihwal apa reaksi orang yang meminum sianida, Nursamran menuturkan, rasanya panas."Jangankan di lidah, ditaruh di tangan saja panas. Kalau terkena tangan bisa melepuh, panas. Bisa terasa gatal-gatal juga. Bau sianida seperti almond. Bau seperti basa. Tidak enak baunya," ujarnya. (Leon)