Oleh : Lia Amalia 
(Anggota Smart With Islam Kolaka)

Kemarahan elit politik, Ketidakpuasan dan kekhawatiran ekonomi tentang perubahan sosial yang pesat telah membuat pergolakan politik di daerah-daerah di seluruh dunia pada tahun-tahun belakangan ini.Para pemimpin anti kemapanan,Pihak dan gerakan telah muncul di kedua sisi kanan dan kiri dari spektrum politik,Dalam beberapa kasus yang menantang norma-norma mendasar dan institusi demokrasi liberal. Organisasi dari Freedom House ke Unit intelijen ekonomi untuk V-Dem telah mendokumentasikan penurunan global dalam kesehatan demokrasi.

Seperti yang telah digambarkan dalam survei Pew Research Center, Ide inti demokrasi liberal masih populer di kalangan publik global, Namun komitmen terhadap demokrasi tetap menjadi lemah. Berbagai faktor turut menyebabkan kurangnya komitmen, termasuk persepsi tentang fungsi demokrasi yang baik.Dan sebagai penemuan dari Pew Research Center Research Center, Pandangan tentang kinerja sistem demokratis ini sangat negatif di banyak negara. Di 27 negara yang disurvei, sebuah media sebesar 51% tidak puas dengan bagaimana demokrasi bekerja di negara mereka; Hanya 45% yang puas.

Penilaian tentang seberapa baik demokrasi bekerja sangat jauh di berbagai negara.Di eropa, misalnya, lebih dari enam — sepuluh swedia dan belanda puas dengan kondisi demokrasi saat ini, Meskipun kebanyakan berada di italia, spanyol dan yunani tidak puas. Untuk lebih memahami rasa puas yang banyak orang rasakan terhadap demokrasi, Kami meminta orang-orang di 27 negara belajar tentang beragam masalah ekonomi, politik, sosial dan keamanan. Hal ini menyoroti beberapa aspek penting dari frustrasi publik: Sebagian besar percaya pemilu membawa perubahan kecil, bahwa politisi korup dan kehilangan kontak dan pengadilan tidak memperlakukan orang secara adil. Di sisi lain, orang-orang lebih positif tentang bagaimana negara mereka melindungi kebebasan berekspresi, Menyediakan kesempatan ekonomi dan menjamin keselamatan publik.

Kami juga meminta responden tentang topik lain, seperti keadaan ekonomi, imigrasi, dan sikap terhadap partai-partai politik utama.Dan di eropa, kami menyertakan pertanyaan tambahan tentang imigran dan pengungsi, serta opini tentang uni eropa. Bivariate dan analisis regresi tingkat lanjut (lihat apendiks untuk rincian metodologis) menunjukkan bahwa, di antara faktor-faktor yang dipelajari ketidakpuasan terhadap demokrasi berkaitan dengan frustrasi ekonomi, status hak-hak individu, Dan juga persepsi bahwa para elit politik korup dan tidak peduli pada masyarakat rata-rata.Selain itu, di eropa, hasilnya menunjukkan bahwa ketidakpuasan terhadap demokrasi cara kerja sama dikaitkan dengan pandangan UE, Opini tentang apakah para imigran mengadopsi kebiasaan dan sikap nasional terhadap partai pois.Ini adalah salah satu temuan dari survei Pew Research Center yang diadakan di antara 30.133 orang di 27 negara dari tanggal 14 mei hingga 12 agustus 2018.

Demokrasi Tak Memberi Solusi
Fakta tersebut menunjukkan bahwa sistem demokrasi memang tidak bisa mensejahterakan dan memberikan keadilan pada rakyatnya, masyarakat internasional pun tidak puas terhadap demokrasi, sebab jika menelaah tentang demokrasi ini memang adalah sistem yang tidak mementingkan kepentingan umat namun lebih mementingkan kepentingan penguasa. Demokrasi pun merupakan sistem pemerintahan yang dianut manusia zaman dahulu untuk menjawab masalah-masalah pemerintahan. Pada saat itu, umat manusia mengalami penderitaan akibat penindasan para penguasa yang mengaku dirinya sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Sistem demokrasi menyatakan bahwa penguasa mendapatkan kekuasaannya dari manusia bukan dari Tuhan dan bahwa manusia adalah pihak yang memilih dan mengangkat seseorang menjadi penguasa sesuai kesepakatan mereka.

Dengan demikian, demokrasi berarti bahwa negara merupakan perwujudan seluruh rakyat, setiap individu atau warga negara memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya dalam menentukan masalah-masalah kenegaraan, seperti dalam hal memilih pemimpin negara serta menyusun hukum dan perundang-undangan negara.

Demokrasi dalam arti yang sesungguhnya tidak pernah dan tidak akan pernah terealisasi tidak mungkin rakyat mengurusi semua kepentingan umum, pemerintah negara serta melaksanakan keinginan publik secara bersama-sama. Dikatakan bahwa Demokrasi adalah Pemerintahan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat pernyataan ini tidak sepenuhnya tepat, rakyat tidak berkuasa secara mutlak kekuasaan atas segala kepentingan umum berada di tangan pemimpin negara atau pemerintah.

Terbukti, pemilu yang diselenggarakan di Indonesia tahun 2019 tercoreng dengan kecurangan  yang terstruktur,sistematis dan massif, penyelenggaran pemilu tersebut hanya formalitas semata, untuk menunjukkan eksistensi demokrasi, namun pada kenyataannya, demokrasi tidak sepenuhnya di terapkan. Sebab, dalam sistem demokrasi hanya yang memiliki modal yang bisa berkuasa (kapitalisme).

Pandangan Islam 
Islam mengharamkan demokrasi karena 3 alasan, pertama Karena yang merekayasa dan berdiri di belakang ide Demokrasi adalah negara-negara kafir barat Hal ini merupakan suatu bentuk agresi budaya barat ke negeri-negeri kaum muslimin. Siapa pun yang menerima ide demokrasi sesungguhnya menerima agresi budaya tersebut dan memberikan sumbangan dalam keberhasilan agresi tersebut agresi budaya itu. Khususnya menentang ide demokrasi tidak ada jalan lain kecuali menolak sepenuhnya demokrasi. Siapapun yang menyerukan dan menganjurkan penerapan ide Demokrasi adalah kroni-kroni kaum kolonialis kafir barat.

Alasan kedua Demokrasi adalah sistem yang tidak dapat diimplementasikan dengan sepenuhnya manakala suatu negara berupaya menerapkan ide demokrasi mereka seringkali harus melakukan kebohongan-kebohongan. Parlemen tidak menyusun hukum dan perundang-undangan justru pemerintah yang mengajukan rancangan undang-undang sedangkan parlemen tinggal memberikan persetujuannya, parlemen tidak memilih pemerintah tetapi pemimpin negara lah yang menyusun pemerintahan. Parlemen hanya sekedar mengesahkannya sebagai bentuk formalitas, lebih lanjut penguasa di negara-negara demokrasi bukanlah lembaga parlemen sebagai perwujudan seluruh rakyat namun sang pemimpin negara.

Kekuasaan hanya bisa dilakukan di tangan satu orang, jadi bagaimana mungkin kekuasaan pemerintahan dilakukan oleh seluruh rakyat jadi sistem demokrasi bertentangan dengan realitas pemerintahan dan kehidupan, dengan demikian sistem demokrasi merupakan pemikiran yang mustahil dan semua yang tidak mungkin diterapkan sepenuhnya dan seringkali diselubungi dengan berbagai kebohongan manipulasi dan rekayasa sehingga menyesatkan umat manusia.

Ketiga, sistem demokrasi adalah sistem buatan manusia sistem tersebut disusun oleh rakyat untuk rakyat karena manusia tidak bisa lepas dari kesalahan dan sesungguhnya hanya Allah subhanahu wa ta'ala yang terbebas dari kesalahan maka sistem dari Allah subhanahu wa ta'ala saja yang pantas dianut. Dengan demikian menganut demokrasi dan menolak sistem dari Allah subhanahu wa ta'ala merupakan suatu kesalahan fatal yang mengakibatkan bencana.

Umat harus menyadari bahwa sistem demokrasi bertentangan dengan Islam, sebab Demokrasi memberikan kewenangan kepada individu untuk menetapkan hukum, padahal dalam Islam, rakyat tidak berhak menetapkan hukum, Allah lah yang memiliki hak prerogatif untuk menetapkan hukum, sebagaimana firmannya : “menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS Al-An’am 6:57)

Alhasil, sudah selayaknya sebagai umat Islam mengambil seluruh hukum Allah, dan menerapkannya dalam kehidupan. Sebab hanya dengan menerapkan syariat umat bisa merasakan keadilan, menghalangi para penguasa untuk belaku curang dan menzhalimi rakyatnya. Maka, semua itu tidak akan terealisasikan dalam sistem demokrasi melainkan sistem kepemimpinan Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam
 
Top