Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Tragedi Berdarah, Saat Sistem Tidak Berpihak pada Fitrah

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T02:33:30Z

 




Oleh Siti Nuraeni

Ibu Pemerhati Umat


​Keluarga seharusnya menjadi pelabuhan paling aman, tempat kasih sayang tumbuh subur dan perlindungan menjadi jaminan utama. Namun, ketika berita tentang seorang anak yang tega menghabisi nyawa ibunya menyeruak, nurani kita seolah terhantam gelombang dahsyat. Fenomena ini bukan sekadar kriminalitas biasa, ia adalah jeritan dari rusaknya tatanan sosial dan kerapuhan fondasi pengasuhan di tengah arus zaman yang kian tak terkendali.

​Anatomi Problematika di Balik Kasus Medan

​Tragedi memilukan terjadi di Medan, saat seorang wanita berinisial F (42) meregang nyawa dengan 26 luka tusuk di tangan anak kandungnya sendiri, AI (12), yang masih duduk di kelas VI SD (detikSumut, 29/12/2025). Secara psikologis, anak seusia sekolah dasar berada pada fase krusial di mana kedekatan emosional dengan ibu adalah kebutuhan mutlak untuk tumbuh kembangnya. 

Kehilangan kedekatan ini adalah sebuah anomali besar yang membangkitkan pertanyaan, bagaimana mungkin seorang anak yang seharusnya mencintai, justru bertindak sebrutal itu?

​Penyebabnya bersifat multidimensi. Kita tidak bisa hanya menunjuk satu faktor saja. 

Mulai dari lemahnya pola asuh keluarga, minimnya kontrol sosial, hingga abainya negara dalam menyaring arus digital yang kian liar. Di era ini, anak-anak terpapar konten negatif tanpa filter, mendorong mereka meniru perilaku kekerasan yang merusak diri dan keluarganya sendiri. Ini adalah alarm darurat bagi fungsi pengasuhan yang kini sedang berada di titik nadir.

​Kapitalisme dan Tergerusnya Peran Ibu

​Akar persoalan ini tak lepas dari sistem kapitalisme sekuler yang mementingkan keuntungan materi di atas segalanya. Dalam sistem ini, kebebasan tanpa batas dalam ruang digital dipelihara selama mendatangkan cuan bagi oligarki, meskipun harus mengorbankan mentalitas generasi. Lebih jauh lagi, kapitalisme memaksa ibu keluar dari rumahnya karena tuntutan ekonomi yang mencekik. 

Sulitnya lapangan kerja bagi ayah memaksa ibu beralih fungsi menjadi pencari nafkah, meninggalkan tugas utamanya sebagai ummu wa rabbatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga). ​Akibatnya, anak kehilangan pengasuhan optimal dan sosok teladan di rumah. Ruang kosong di hati anak kemudian diisi oleh gawai dan lingkungan yang individualistis. 

Kontrol masyarakat melalui amar makruf nahi mungkar pun melemah karena setiap orang cenderung hanya peduli pada urusannya masing-masing. Diperparah lagi dengan abainya negara dalam menjamin kebutuhan dasar rakyat, sehingga struktur keluarga menjadi kacau—ayah kehilangan wibawa sebagai pencari nafkah, dan ibu kehilangan kelembutan sebagai pendidik.

Islam Mengembalikan Fitrah dan Keamanan Generasi

​Islam menawarkan solusi komprehensif dengan menempatkan setiap individu sesuai fitrahnya. Dalam Islam, ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, fokus mendidik mereka dengan tsaqafah Islam agar memiliki fondasi akidah yang kokoh. Sementara itu, ayah berkonsentrasi mencari nafkah secara halal dan bersinergi dalam membentuk kepribadian Islam pada anak. Agar peran ini berjalan harmonis, negara bertanggung jawab penuh dalam menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki serta menjamin kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara cuma-cuma.

​Negara juga memegang peran vital dalam mengendalikan arus informasi. Media dikelola sebagai sarana dakwah dan edukasi, di mana konten-konten yang merusak moral dan memicu kekerasan dilarang keras beredar. Dengan dukungan kontrol masyarakat yang hidup dan ketakwaan individu yang kuat, lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak akan tercipta secara alami. Kasus tragis seperti anak membunuh ibu tidak akan mendapat tempat dalam sistem yang menjunjung tinggi kemuliaan nyawa dan bakti kepada orang tua.

​Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update