Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Iran dan Lima Puluh Kota, DNA Tak Pernah Tunduk

Wednesday, March 04, 2026 | Wednesday, March 04, 2026 WIB

Oleh: Ahlul Badrito Resha
Wakil Bupati Lima Puluh Kota


Ada sesuatu yang menarik ketika kita bicara soal DNA suatu bangsa atau daerah. Bukan sekadar genetik, tetapi jiwa kolektif yang membentuk cara sebuah komunitas bertahan, berjuang, merespons tantangan, dan terus mencari makna keberadaannya. 

Jika kita lihat konflik besar yang sedang terjadi di Timur Tengah saat ini, khususnya konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, kita bisa menangkap sebuah narasi besar tentang DNA nasional Iran. 

Iran mempertontonkan sebuah karakter yang tak mudah tunduk di bawah tekanan kekuatan luar. Pemain tunggal paling berani di kawasan Timur Tengah. Sebuah watak petarung yang teruji oleh sejarah panjang peradaban Persia dan negara modernnya. Dalam momentum kontemporer menunjukkan keteguhan menghadapi sekutu besar Amerika Serikat dan Israel.

Sebuah narasi bahwa bangsa itu rela bertahan bahkan ketika menghadapi gempuran kekuatan global yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.  

Begitu juga dengan Lima Puluh Kota. Kita sering berbicara tentang identitasnya sebagai sebuah daerah yang punya akar sejarah dalam perjuangan nasional. Lima Puluh Kota rahimnya pemikir seperti Tan Malaka yang gagasannya tak hanya menggetarkan akal tetapi mengguncang struktur kita sebagai bangsa. Lima Puluh Kota adalah tempat di mana Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pernah berdiri untuk memastikan nyawa sebuah republik tetap berdetak. Lima Puluh kota juga tempat dimana episode Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia mencetak karakter Pancasilais masyarakat yang tak mudah menurut ketika nilai dan haknya dipertaruhkan. 

Sejarah-sejarah ini bukan sekadar cerita masa lalu akan tetapi menjadi bagian dari DNA kolektif yang menyatakan bahwa Lima Puluh Kota tahu bagaimana bertahan, bagaimana melawan, bagaimana mengambil peran yang bukan sekadar menjadi penonton perkembangan zaman.

Namun begitu, ada satir yang tidak boleh kita lewatkan. Disaat DNA sejarah kita tegas tertulis dalam perjuangan, dan sementara banyak putra putri Lima Puluh Kota yang menjadi profesor dan doktor yang namanya dipanggil oleh dunia akademik lokal, nasional, dan internasional, realitas hari ini menunjukkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita berada di peringkat 16 dari 19 kabupaten/kota di Sumatera Barat. 

Bagaimana bisa suatu komunitas yang punya sejarah kepahlawanan dan intelektualitas yang melimpah gagal memetakan cerita itu menjadi kesejahteraan yang nyata? 

Ini seperti bangsa yang tahu bagaimana berperang tetapi lupa bagaimana menyusun kesejahteraan sipil. Ini bukan sekadar statistik tetapi adalah ironi yang perlu dikaji dengan serius.

Kerja keras dunia agro yang menopang sekitar 30% PDRB bukan sekadar angka ekonomi. Ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat Lima Puluh Kota tak pernah sungkan pada peluhnya sendiri. Sawah, ternak, kolam, kebun, dan hutan bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga saksi bagaimana generasi demi generasi menafsirkan definisi kerja keras. 

Mereka bangun pagi, bekerja siang, pulang sore, dan lagi mengulang keesokan harinya dengan harapan tetap hidup dan berkembang. Tapi sekali lagi muncul satir kecil “tanah ini bekerja keras, tetapi kenapa kualitas hidupnya belum melompat signifikan?” 

Mungkin karena kita terlalu sering menjual bahan mentah, bukan nilai tambah. Kita terlalu bangga pada jumlah produksi, tetapi kurang percaya diri merangkai produksi itu menjadi kekuatan pasar yang mampu membalikkan nasib.

Ketika bangsa sebesar Iran memperlihatkan kepada dunia bagaimana sebuah negara kecil di Timur Tengah bisa menantang kekuatan besar dunia dan tetap mempertahankan identitasnya dalam konflik panjang yang bahkan melibatkan Amerika Serikat dan Israel, kita di Lima Puluh Kota juga harus belajar dari paradigma itu. 

DNA sejarah dan karakter tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia harus menjadi peta jalan untuk masa depan. Peta jalan yang senantiasa menjaga bagaimana kita menggabungkan keberanian dengan kecerdasan, bagaimana kita menyelaraskan kerja keras dengan strategi, dan bagaimana kita menjadikan sejarah bukan sebagai semacam batu nisan yang dipuja, tetapi sebagai bahan bakar yang mendorong lompatan besar.

Dengan segala kelebihan dan ironi yang kita miliki, harapan terbesar adalah bahwa generasi yang sekarang tumbuh tidak hanya mewarisi cerita kepahlawanan, tetapi menerjemahkannya ke dalam kebijakan yang membumi. Tidak hanya bangga pada gelar akademik, tetapi mengkonversinya menjadi inovasi sosial dan ekonomi. Tidak sekadar bekerja keras di ladang, tetapi menghasilkan nilai tambah yang membuat kesejahteraan rakyat terus naik. 

DNA itu sendiri adalah sesuatu yang  otentik. Lima Puluh Kota harus mampu mengeja ulang dirinya dalam bentuk yang lebih kuat, lebih kreatif, dan lebih pantas di masa depan.

Agar Lima Puluh Kota tidak terus menjadi anomali dimana besar dalam sejarah tetapi kecil dalam statistik, maka yang dibutuhkan bukan sekadar semangat melainkan arsitektur implementasi yang konkret, terukur, dan berani. 

DNA kepahlawanan, intelektualitas, dan kerja keras agro harus diterjemahkan menjadi lima gerakan nyata yang saling bertaut.

Pertama, keberanian kebijakan (policy courage)

Jika dahulu keberanian diwujudkan dalam perlawanan fisik dan sikap politik, hari ini ia harus hadir dalam keputusan yang mungkin tidak populer tetapi strategis. Misalnya: fokus anggaran secara disiplin pada tiga penentu IPM yaitu pendidikan, kesehatan, dan daya beli. Kebijakan tidal lagi hanya untuk menyenangkan semua pihak, tetapi mengonsolidasikan sumber daya pada program yang benar-benar berdampak. Beasiswa afirmatif berbasis prestasi dan kemiskinan harus terintegrasi dengan ikatan pengabdian daerah. 

Puskesmas diperkuat bukan hanya fisiknya, tetapi kualitas layanan dan digitalisasi rekam medisnya. Intervensi kemiskinan tidak boleh lagi berbentuk bantuan konsumtif semata, melainkan berbasis produktivitas keluarga. 

Kedua, intelektualitas yang membumi

Ratusan profesor dan doktor asal Lima Puluh Kota adalah aset strategis. Sudah saatnya dibentuk Lima Puluh Kota Academic & Policy Council. Sebuah forum permanen para akademisi perantau untuk memberi masukan berbasis riset terhadap kebijakan daerah. Setiap OPD wajib memiliki policy brief tahunan yang disusun berbasis data, bukan asumsi. 

Nagari didorong menjadi laboratorium inovasi. Smart farming, koperasi digital, inkubasi UMKM berbasis produk turunan agro. Jangan lagi sekadar menjual gabah atau ternak hidup. Bertambah dengan pengolahan beras premium bermerek daerah, daging olahan, susu pasteurisasi lokal, hingga produk perikanan kemasan. Hilirisasi bukan jargon provinsi atau pusat saja, tetapi ia harus hidup di nagari.

Ketiga, transformasi agro menuju nilai tambah

Karena 30% PDRB bertumpu pada sektor ini, maka lompatan IPM sangat bergantung pada modernisasi agro. Bentuk klaster ekonomi berbasis komoditas unggulan per kecamatan. Siapkan off-taker dan kemitraan pasar sejak awal, bukan setelah panen. Kembangkan BUMD atau holding koperasi sebagai agregator distribusi dan branding. Manfaatkan teknologi untuk irigasi presisi, bibit unggul, asuransi pertanian, hingga marketplace digital. Petani dan peternak harus naik kelas dari produsen menjadi pelaku bisnis.

Keempat, reformasi tata kelola dan budaya kinerja

Kepahlawanan hari ini adalah integritas. Sistem evaluasi kinerja berbasis indikator outcome (bukan sekadar serapan anggaran) harus ditegakkan. Setiap program harus jelas dampaknya pada IPM. Transparansi anggaran, dashboard publik berbasis data _real time_, dan _reward dan punishment_ yang tegas akan menciptakan birokrasi yang bermental “pejuang”, bukan sekadar “pegawai”.

Kelima, gerakan sosial optimisme kolektif.

Narasi besar tentang DNA Lima Puluh Kota perlu terus digaungkan di sekolah, di nagari, di ruang publik. Perlu gaung bahwa daerah ini tidak ditakdirkan untuk papan bawah. Psikologi kolektif itu penting. Daerah yang percaya diri akan bergerak lebih cepat daripada daerah yang sibuk meragukan dirinya sendiri.

Akhirnya agar tidak menjadi anomali maka Lima Puluh Kota harus melakukan lompatan terencana dimana terangkai di dalamnya : mengikat sejarah sebagai energi moral, mengerahkan intelektualitas sebagai mesin strategi, dan memodernisasi agro sebagai fondasi ekonomi. 

Jika itu dilakukan konsisten lima hingga sepuluh tahun ke depan, maka peringkat 16 bukan lagi cermin masa kini, melainkan catatan masa lalu. 

DNA besar itu tidak pernah hilang, ia hanya menunggu untuk diaktifkan dengan keberanian generasi hari ini. (****)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update