Oleh ummu Fatih (Aktivis Muslimah)
Perayaan Bulan Rajab dan peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tahun 2026 kembali menghiasi kehidupan umat Islam di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Seperti yang dilaporkan oleh Liputan6.com, tahun ini banyak pihak mengangkat tema "Pelajaran Berharga untuk Kehidupan Modern dan Spiritual", yang menunjukkan upaya menghubungkan makna peristiwa bersejarah ini dengan tantangan zaman sekarang. Sementara itu, detik.com mencatat adanya lebih dari 60 tema perayaan yang disiapkan secara khusus untuk berbagai kalangan—mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, dari kegiatan masjid hingga pengajian kelompok kecil. Bahkan, untuk menarik minat khalayak luas terutama generasi muda, Tirto.ID juga menyajikan pilihan teks ceramah dengan gaya ringan, lucu, namun tetap menyisipkan pesan mendalam. Di sisi lain, Malang Pikiran Rakyat mengulas sebanyak 35 ide lomba dengan nilai islami yang dapat diadaptasi untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA—di antaranya adalah lomba pidato, membuat poster digital, menulis esai, dan bahkan perlombaan menyanyi nasyid dengan tema Isra Mi'raj.
Meskipun berbagai kegiatan perayaan tersebut sangat positif dan menunjukkan semangat keislaman yang tinggi di tengah masyarakat, perlu kita pahami bahwa makna Isra Mi'raj bukan hanya sebatas ritual atau ajang perlombaan semata. Berdasarkan fakta sejarah yang telah terbukti, peristiwa Isra Mi'raj adalah perjalanan kenabian yang tidak hanya membawa berita turunnya perintah shalat sebagai ibadah mahdah, melainkan juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan dakwah Nabi shallallahu alaihi wasallam. Tidak lama setelah peristiwa ini, momen Bai'at Aqabah 2 terjadi—di mana kaum Anshar memberikan kesetiaan kepada Nabi untuk membangun negara Islam yang berdasarkan hukum langit. Hal ini menjadikan Isra Mi'raj bukan sekadar momentum spiritual semata, melainkan juga gerbang menuju perubahan politik dan ideologis bagi umat Islam yang sebelumnya hidup terpecah belah di bawah kekuasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama.
Sayangnya, pasca runtuhnya Khilafah pada tahun 1924—yang berarti selama lebih dari 105 tahun terakhir—umat Islam belum mampu menerapkan syariat Islam secara kafah di seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini, hikmah mendalam dari Isra Mi'raj kini seringkali disempitkan hanya pada dimensi ibadah shalat sebagai bentuk penghambaan semata. Padahal, dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa larangan memerangi imam selama masih menegakkan shalat memiliki makna yang jauh lebih luas: frasa "menegakkan shalat" dalam konteks sejarah adalah kinayah (perumpamaan atau isyarat) yang merujuk pada menegakkan hukum Allah SWT secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Saat ini, sistem sekuler demokrasi telah diterapkan secara global sebagai dasar tatanan negara dan masyarakat, yang pada hakikatnya adalah bentuk penentangan terhadap kedaulatan hukum langit yang datang langsung dari Allah SWT. Konsekuensinya, ditinggalkannya syariat Islam sebagai dasar kehidupan telah membawa berbagai bentuk bencana yang melanda umat dan dunia: bencana politik berupa konflik berlarut-larut di berbagai wilayah Muslim, krisis ekonomi struktural akibat dominasi sistem kapitalisme yang mementingkan keuntungan pribadi daripada kesejahteraan bersama, kerusakan sosial dan kemanusiaan seperti pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi pada umat Muslim di berbagai belahan dunia—baik di Rohingya, Uyghur, India, Rusia, maupun Filipina Selatan—serta bencana alam yang semakin parah akibat ketidakadilan dalam pengelolaan sumber daya alam dan eksploitasi yang tidak terkendali. Runtuhnya Khilafah bukan hanya kehilangan simbol kemerdekaan umat Islam, melainkan juga menjadi titik awal kemunduran secara menyeluruh dan munculnya sistem kapitalisme global yang penuh dengan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan.
Oleh karena itu, momentum Isra Mi'raj tahun 2026 harus tidak hanya menjadi momen perayaan dan perlombaan semata, melainkan juga sebagai pijakan penting untuk membumikan kembali hukum Allah SWT di bumi. Berikut adalah dalil-dalil Alquran dan Hadis yang mendukung konstruksi Islam yang disampaikan:
1. Mencabut Sistem Sekuler Kapitalisme dan Menegakkan Syariat Islam Kafah
- Alquran: Surat An-Nisa' ayat 135 menyatakan, "Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang-orang yang selalu menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri, atau ibu bapakmu, atau kaum kerabatmu. Jika dia kaya atau miskin, maka Allah lebih mengetahui kedudukannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memalingkan wajahmu (daripada kebenaran) atau kamu tidak memberi kesaksian, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." Ayat ini menekankan pentingnya menegakkan keadilan berdasarkan hukum Allah, bukan sistem buatan manusia yang dapat mengutamakan kepentingan sebagian pihak saja.
- Hadis: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Hukum adalah pondasi agama, dan agama adalah pelindung negara, dan negara adalah keselamatan kaum muslimin, dan kaum muslimin adalah kekhalifahan Allah di bumi." (Riwayat Ahmad). Sabda ini menunjukkan bahwa hukum Allah adalah dasar yang tidak terpisahkan dari kehidupan bernegara dan kemaslahatan umat.
2. Menyatukan Umat Islam dan Membebaskan Palestina
- Alquran: Surat Ali 'Imran ayat 103 berbunyi, "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepada kamu ketika kamu dahulu adalah orang-orang yang berbeda pendapat kemudian Allah menyatukan hatimu, sehingga dengan nikmat Allah itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang neraka, kemudian Allah menyelamatkan kamu dari situ. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk." Ayat ini mengajak umat Islam untuk bersatu dan tidak berpecah belah.
- Alquran: Surat Al-Isra ayat 1 menyatakan, "Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." Ayat ini menunjukkan bahwa Palestina dan Masjidil Aqsa adalah tanah yang diberkahi oleh Allah, sehingga memiliki nilai yang sangat penting bagi umat Islam.
- Hadis: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi sampai kalian memerangi orang-orang Yahudi, hingga batu-batu yang di belakangnya terdapat seorang Yahudi akan berkata, 'Wahai Muslim, di sini ada seorang Yahudi di belakangku, bunuhlah dia'." (HR. Bukhari). Sabda ini mengindikasikan pentingnya mempertahankan tanah suci dari kekuasaan yang tidak berhak.
3. Peran Tentara Muslim dalam Membebaskan Tanah Suci
- Alquran: Surat Al-Anfal ayat 60 menyatakan, "Siapapun yang ingin membalas dendam karena telah dizalimi, maka sesungguhnya Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk berbuat demikian. Tetapi jika dia telah menyelesaikan damai, maka hendaklah kamu berbuat baik dan berlaku adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil." Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam diperbolehkan untuk membela diri dan membebaskan tanah suci jika dizalimi, namun harus tetap berusaha untuk perdamaian jika memungkinkan.
- Hadis: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, maka dia seperti orang yang selalu beribadah di rumahnya hingga dia kembali (dari medan perang)." (HR. Muslim). Sabda ini memberikan penghargaan kepada mereka yang berperang untuk membela agama dan tanah suci.
4. Peran Partai Islam Ideologis dan Menegakkan Khilafah
- Alquran: Surat Ali 'Imran ayat 104 menyatakan, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung." Ayat ini mengajak umat Islam untuk membentuk kelompok atau organisasi yang bertugas untuk menyeru kepada kebaikan dan menegakkan ajaran Islam.
- Alquran: Surat Sad ayat 26 menyatakan, "Wahai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi, maka berilah keputusan di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan." Ayat ini menunjukkan bahwa khalifah adalah pemimpin yang ditunjuk oleh Allah untuk mengatur kehidupan masyarakat dengan adil berdasarkan hukum-Nya.
- Hadis: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, "Umatku tidak akan bersatu pada kesesatan, sehingga Allah mengeluarkan untuk mereka seorang pemimpin yang akan memberi mereka keadilan." (HR. Abu Dawud). Sabda ini menunjukkan bahwa khilafah adalah bentuk pemerintahan yang akan membawa keadilan bagi umat Islam.
Dengan berdasarkan dalil-dalil tersebut, umat Islam sebagai penerus warisan para Khulafaurrasyidin, cucu-cucu Al Mu'tasim,cucu shalahuddin Al Ayyubi,cucu Al Fatih,cucu Khalifah Salim III,cucu Abdul Hamid,cucu Khalifah, pasti memiliki potensi dan kemampuan untuk mengembalikan kemuliaan Islam yang pernah menyinari dunia dengan keadilan dan kemakmuran. Partai Islam yang berlandaskan ideologi yang benar harus terus berjuang dengan sungguh-sungguh, siang dan malam, untuk memimpin dan membimbing umat agar dapat melanjutkan kehidupan yang sesuai dengan ajaran Islam yang komprehensif. Menegakkan Khilafah Islam bukan hanya pilihan, melainkan perjuangan pokok yang sangat agung, penting, dan vital bagi kelangsungan hidup dan kehormatan umat Islam. Oleh karena itu, umat harus segera menyadari pentingnya hal ini dan menyambut dengan penuh kesadaran serta komitmen untuk mendukung perjuangan menegakkan Khilafah yang akan menjadi penyelamat bagi umat dan dunia dari berbagai kesusahan yang sedang terjadi

No comments:
Post a Comment