Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Penguasa Anti Kritik, Wujud Asli Demokrasi Kapitalistik

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T02:11:33Z

 


Oleh Sumiyah Umi Hanifah

Pemerhati Kebijakan Publik dan Member AMK

Ketika suara kritis dibungkam, maka kebenaran yang akan berkata dengan lantang. Suara rakyat akan terus berteriak untuk menguak tabir kepalsuan. Kritik terhadap penguasa sejatinya adalah hal yang biasa, karena kritik tidak mungkin bisa dipisahkan dari sebuah kepemimpinan. Jadi, mengapa harus ada "drama?"

Dilansir dari mediaindonesia.com, pada Rabu, 31/12/2025 menyebutkan, telah terjadi gelombang teror terhadap para pelaku konten kreator dan para aktivis, yang berani mengkritik pemerintah, khususnya terkait dengan kebijakan dalam menangani bencana Sumatra. Aksi teror tersebut dilakukan dengan berbagai bentuk dan modus, mulai dari: intimidasi, ancaman fisik, vandalisme, doxing, peretasan digital, dll.

DJ Donny atau Raimond Donny Adam, seorang konten kreator Tiktok dan musisi elektronik, termasuk salah satu korban teror tersebut. Sebelum kejadian dirinya mengunggah konten yang menyoroti respon pemerintah atas bencana Sumatra. Dalam rekaman cctv yang viral di media sosial, tampak jelas memperlihatkan ada dua orang bertopeng yang beraksi di depan rumahnya sebelum melempar molotov dan kemudian mereka melarikan diri. Peristiwa teror ini terjadi pada Rabu, 31/12/2025.

Selain DJ Donny, masih banyak lagi korban teror serupa, di antaranya: Sherly Annavita, seorang influencer, kreator konten politik-sosial, ia mendapat serangan teror berupa: surat ancaman, vandalisme, hingga rumahnya dilempari telur. Ada juga aktivis Iqbal Damanik, Manajer Iklim dan Energi Greenpeace, yang mendapat kiriman bangkai ayam dengan disertai ancaman. Teror berupa intimidasi dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya juga dialami oleh para konten kreator lainnya, seperti: Yana Carlos, Pitengz, Axel Cristian, dll.

Maraknya teror terhadap para aktivis dan konten kreator ini mendapatkan kecaman luas dari berbagai pihak. Publik menilai aksi intimidasi tersebut merupakan ancaman nyata terhadap kebebasan berekpresi dan berpendapat. Yang mana, kebebasan berpendapat merupakan salah satu asas dalam sistem demokrasi. Konon, sistem demokrasi memiliki empat kebebasan yang selalu digaungkan oleh para pemujanya, yakni: kebebasan berpendapat, kebebasan kepemilikan, kebebasan beragama, dan kebebasan berperilaku.

Namun pada faktanya, kebebasan dalam sistem demokrasi merupakan kebebasan semu, alias kebebasan bersyarat. Sebagai contoh, jika ada kebebasan berpendapat yang tidak mengganggu kepentingan penguasa, maka kebebasan tersebut akan dibiarkan saja. Akan tetapi, jika ada pendapat atau kritik yang dianggap mengganggu kepentingan penguasa dan kroni-kroninya, maka sudah pasti sang pengkritik akan diteror, diintimidasi, bahkan ditakut-takuti dengan berbagai cara agar menghentikan aksinya. Parahnya lagi, pembungkaman suara-suara kritis seringkali berjalan rapi, sementara pelaku teror dengan mudah lolos dari jerat hukum.

Dengan demikian, aksi teror terhadap para aktivis dan konten kreator ini sejatinya merupakan bentuk kekerasan negara untuk membungkam suara rakyat. Slogan demokrasi "Vox Populi Vox Dei" yang bermakna, suara rakyat adalah suara Tuhan", ternyata hanya omong kosong belaka. Aksi teror ini bertujuan untuk menciptakan rasa takut masyarakat kepada rezim yang berkuasa.

Padahal, seharusnya negara dengan legowo mau menerima kritik dan masukan dari rakyatnya. Apalagi kritik tersebut adalah kritik sosial yang membangun.

Masyarakat sudah cerdas, mereka dapat menilai sendiri bahwa negara saat ini menerapkan demokrasi otoriter. Sebuah sistem pemerintahan yang sangat merugikan rakyat, karena menganggap rakyat hanya sebagai beban negara. Padahal, rakyat adalah amanah yang wajib diurus oleh para pemangku kekuasaan.

Kondisi ini sangat berbeda dengan pemerintahan di dalam Distem Islam. Sebab, penguasa dalam sistem sahih ini memosisikan diri sebagai junnah (pelindung) rakyat, yang memiliki kewajiban mengurusi rakyat, bukan malah meneror atau menakut-nakuti rakyat.

Ajaran Islam menempatkan kekuasaan di bawah hukum Allah, bukan dari mulut para pejabat.

Ajaran Islam sangat menghargai kritik, bahkan mewajibkan para pemeluknya untuk melaksanakan dakwah, yakni aktivitas "amar makruf nahi mungkar", baik antar individu, kelompok masyarakat, maupun pemerintah/ penguasa.

Sabda Rasulullah saw.,

"Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa zalim" (H.R. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Tentu kita pernah mendengar bagaimana sikap para pemimpin Islam/khalifah dalam menerima kritik dari rakyatnya. Mereka adalah para sahabat yang dikenal adil dan bijak, namun tetap tidak luput dari kritik. Sebut saja, Khalifah Abu Bakar as-Sidiq, yang sering meminta kritik dan nasihat dari para sahabatnya, terutama ketika beliau memimpin pasukan untuk memerangi orang-orang murtad setelah wafatnya Nabi saw.. Seorang sahabat mengkritik kebijakan beliau, dengan mengatakan bahwa perintah tersebut terlalu berat. Maka, Abu Bakar as-Sidiq menerima kritik tersebut dengan lapang dada dan beliau kemudian berusaha mengedepankan prinsip keadilan dalam memimpin.

Dengan adanya aktivitas "amar makruf nahi mungkar" ini, maka dipastikan akan menjadikan hubungan antara rakyat dan penguasa menjadi semakin harmonis. Sebab, sejatinya kritik jika ditanggapi dengan hati yang lapang akan menjadi kontrol sosial yang efektif bagi keberlangsungan sebuah kepemimpinan. Keharmonisan antara penguasa dan rakyat ini hanya dapat diwujudkan dalam negara yang menerapkan syariat Islam secara menyeluruh sebagai asas kehidupan, bukan sistem sekuler seperti demokrasi, atau sistem lainnya.

Sebaliknya, penguasa Anti kritik merupakan implementasi wujud dari kepemimpinan demokrasi kapitalistik, yang sudah terbukti gagal dalam menciptakan rasa aman dan gagal pula dalam mengayomi dan melindungi rakyatnya. Saatnya, dunia kembali kepada sistem Islam yang penuh keberkahan.

Wallahualam bissawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update