Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Panen Bencana di Akhir Tahun, Tanggung Jawab Siapa?

Monday, January 05, 2026 | Monday, January 05, 2026 WIB Last Updated 2026-01-05T01:04:58Z

 



Oleh Martina Eka Trilova 

Aktivis Muslimah


Kita tahu dan kita rasakan, bahwa akhir tahun negeri ini mempunyai banyak masalah, termasuk yang terbaru adalah bencana alam. Di tahun 2025 ditutup dengan bencana alam di mana-mana. Saat ini menggambarkan luka bangsa karena terjadi kerusakan merata hampir di semua daerah. Salah satu daerah yang terdampak bencana adalah Sumatra dan yang terbaru Kalimantan. 

Banjir dan longsor di Sumatera di sebabkan kombinasi cuaca ekstrem (curah hujan sangat tinggi) akibat siklon tropis dan dinamika atmosfer, serta kerusakan lingkungan (deforestasi) yang mengurangi daya serap tanah, terutama di kawasan hulu DAS, ditambah faktor topografi curam dan kondisi geologi yang membuat air mengalir deras. Aktivitas manusia seperti penebangan liar dan alih fungsi lahan memperparah kerentanan wilayah ini. 

Pangkal Kerusakan dan Bencana adalah Sekularisme

Bencana alam dan ekologi sampai saat ini masih terjadi lalu datang silih berganti. Sebulan terakhir adalah bencana banjir dan longsor disejumlah daerah. Bencana kali ini jelas merupakan "teguran keras " yang ke sekian kali atas relasi yang timpang antara manusia dan alam. Selain faktor iklim, sangat jelas di karenakan keserakahan manusia dalam bentuk penggundulan hutan secara semena-mena. Akibatnya, dalam 10 tahun terakhir ini puluhan juta hektar hutan habis dibabat. Entah untuk keperluan tambang, pembukaan perkebunan sawit.

Semua ini belum yang dibabat selama era Orde Baru dan sepanjang era reformasi. Yang pastinya telah terjadi eksploitasi berlebihan. Pengelolaan yang diabaikan serta keserakahan yang dilegalkan melalui kebijakan kapitalistik yang menguntungkan segelintir oligarki dan penguasa. 

Di tengah derita rakyat yang kehilangan rumah dan penghidupan, bencana tidak hanya peristiwa ekologis. Seringkali akibat aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan meluas dan berjangka panjang seperti banjir, longsor, penurunan keanekaragaman hayati dll. Ribuan korban bencana Sumatra hanyalah salah satu contohnya. Up date korban banjir Sumatra 1.140 orang meninggal, 163 warga masih hilang (Kompas.com, 28/12/2025).

Ideologi kapitalisme-sekuler yang diterapkan di negeri ini nyata telah menjadikan hukum-hukum Allah di singkirkan dalam pengaturan segala urusan kehidupan. Inilah pangkal kerusakan. 

Teladan Khalifah Umar Menangani Banjir

Dengan demikian cukuplah bangsa ini, terutama kaum muslim agar segera menyadari bahwa hanya sistem Islam terbaik yang telah memberikan contoh yang nyata. Pergantian pemimpin yang setiap 5 tahun sekali tak memberikan solusi yang nyata malah memperburuk. Yang seharusnya kaum muslim paham bahwa hanya sistem Islam yang berorientasi dunia dan akhirat yang menyelamatkan.

Padahal Allah telah menegaskan bahwa sistem hukum jahiliyah buatan manusia tidak layak diterapkan. Dan hanya hukum Allah yang layak dan wajib di terapkan. Terdapat di dalam Al-Quran surah Al-Maidah ayat 50 (Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (hukum) Allah bagi kaum yang yakin?).

Secara umum, pendekatan penanggulangan bencana pada masa khilafah di dasarkan pada prinsip-prinsip berikut:

Tanggung Jawab Negara: Khalifah (imam) di pandang sebagai "raa'in" (pengurus rakyat) yang bertanggung jawab penuh atas kesejahteraan dan perlindungan warganya, terutama saat krisis.

Dana darurat: Ketersediaan dana di Baitul Mal memungkinkan respons cepat tanpa kekurangan dana.

Solidaritas sosial: Adanya anjuran kuat untuk bertaubat, bersedekah, dan saling membantu (melalui zakat dan infak) mendorong solidaritas di antara umat Islam.

Mitigasi dan kesiapsiagaan: Meskipun istilah modern manajemen bencana tidak di kenal, tindakan pencegahan seperti pembangunan infrastruktur tahan bencana (misalnya, bangunan tahan gempa, penanaman pohon bakau) secara historis telah dilakukan di berbagai daerah. 

Teladan Khalifah Umar bin Khattab dalam menangani banjir besar yang di namakan banjir Ummu Nahsyal yang di lakukan adalah tidak berhenti penanganan darurat saja di lakukan langkah strategis yang bersifat preventif membangun sistem perlindungan. Dengan cara membangun tanggul di bagian hulu dan di bagian yang lebih rendah dibangun juga tanggul/bendungan sebagai pelindung lapisan ke 2.

Banjir Ummu Nahsyal adalah peristiwa banjir besar yang bersejarah yang pernah melanda kota Makkah pada masa ke Khalifahan Umar bin Al-Khattab. Banjir ini sangat dasyat, menyebabkan Maqam Ibrahim terseret dari tempat asalnya hingga ke lembah Makkah bagian bawah. Khalifah Umar kemudian mengembalikan Maqam Ibrahim ke posisinya semula dan membuat fondasi khusus untuk mengamankannya. Dinamakan "Ummu Nahsyal" karena dasyatnya banjir tersebut.

Inilah cara penanggulangan bencana di dalam sistem Islam.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update