Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

'Pandji' dan Panji Tiap Zaman, Akan Selalu Ada

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T02:48:21Z

 



Oleh Rahmawati Ayu Kartini 

Pemerhati Sosial


Komika Pandji Pragiwaksono, sedang dalam sorotan. Kata-katanya dalam acara stand up komedi 'Mens Rea', dianggap menimbulkan kegaduhan. Uniknya, setelah ada pelaporan ke Polda Metro Jaya, Pandji justru banjir dukungan dari netizen. Laporan terbaru mengatasnamakan perwakilan Angkatan Muda Nahdlatul Ulama serta Aliansi Muda Muhammadiyah terhadap Pandji atas dugaan penghasutan dan penistaan agama. Menurut pelapor (Rizki), Pandji telah secara sepihak menganggap NU dan Muhammadiyah terlibat dalam politik praktis. "Seolah-olah NU dan Muhammadiyah mendapatkan tambang karena imbalan telah memberikan suaranya terhadap kontestasi pemilu yang kemarin," katanya.

Pro kontra pun bergulir. Indro Warkop menilai, pelaporan terhadap Pandji menunjukkan kemunduran cara berpikir masyarakat. Karena perbedaan pendapat mestinya tidak dibawa ke ranah hukum. Senada dengan Indro Warkop, Guru Besar Komunikasi dan Media, Universitas Airlangga (Unair), Prof. Rachmah Ida, M.Comms, Ph.D menyebut konten tersebut hanyalah berupa kritikan, bukan termasuk penghinaan. Bahkan anggota DPR dari PKS berkata, "Kritik itu seperti vitamin bagi demokrasi. Terkadang rasanya pahit, tidak selalu menyenangkan, tetapi justru dibutuhkan agar demokrasi tetap sehat dan tidak kehilangan arah," ujar Muhammad Kholid lewat keterangan tertulisnya. (Kompas.com, 12/01/2026)

Standar ganda kebebasan berpendapat?

Sangat disayangkan di negeri muslim terbesar di dunia ini, kebebasan berpendapat (mengkritik) dibatasi. Namun, mengapa jika pendapat itu menyerang agama Islam, dibiarkan?

Masih segar dalam ingatan, ketika Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi menghina Islam dengan pernyataan "agama adalah musuh terbesar Pancasila", melarang cadar untuk mahasiswa dan jilbab untuk anggota Paskibraka. Pernyataan ini menimbulkan reaksi keras dan kritik dari berbagai pihak, termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan organisasi kemasyarakatan Islam lainnya. Namun, anehnya tidak ada pelaporan untuk menindaknya. 

Inilah standar  ganda kebebasan berpendapat dalam negara demokrasi. Bukan hanya terjadi di Indonesia saja, bahkan di negara asal demokrasi (Amerika Serikat), pun terjadi paradoks yang diskriminatif terhadap umat Islam. Jika pendapat itu terkait dengan kebebasan bertingkah laku akan didukung, tapi jika terkait pelaksanaan syariat Islam akan ditekan.

Ini menunjukkan sistem demokrasi liberal tidak manusiawi, karena meniscayakan ketidakadilan dan memicu perselisihan. Tentu saja sistem ini tidak akan bisa bertahan lama karena bertentangan dengan fitrah manusia.

Panji-Panji tiap zaman 

Menariknya, kritik yang dilakukan Pandji Pragiwaksono, memang seharusnya dilakukan umat Islam. Ini adalah bagian dari hukum syari'at untuk melakukan muhasabah terhadap jalannya pemerintahan. Inilah yang dinamakan dakwah (amar makruf nahi mungkar).

Jika dakwah ini tidak ditegakkan, umat ini akan diancam dengan azab yang pedih. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. berikut: “Demi Zat Yang jiwaku ada dalam  genggaman tangan-Nya, sungguh kalian benar-benar diperintahkan melakukan amar makruf nahi mungkar atau hampir-hampir Allah menimpakan atas kalian siksa dari-Nya, kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan doa kalian tidak dikabulkan.” (HR At-Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Apa yang dilakukan Pandji Pragiwaksono-yang mungkin masih banyak belajar tentang Islam- mestinya memantik kesadaran pemuda Islam lainnya untuk lebih bersemangat lagi menyampaikan dakwah. Pandji yang baru 'kemarin sore' saja sudah berani menyampaikan kebenaran, mengapa yang sudah lama takut?

Tiap-tiap zaman, selalu ada para pemuda yang dipilih Allah untuk menegakkan kebenaran. Selalu ada 'Panji' dalam zamannya masing-masing. Pemuda-pemuda seperti itulah yang sanggup memikul beban dakwah dan siap untuk berkorban di jalan Allah.

Pemuda-pemuda seperti ini pula yang sanggup menyisihkan malam dan siangnya untuk kepentingan dakwah, sehingga risalah Islam akan dengan cepat tersebar ke seluruh dunia.

Ada pemuda-pemuda Hawariyun, Ashabul Kahfi, Ashabul Ukhdud, para sahabat nabi, Shalahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Pitung, Ustadz Abdul Somad, Ustadz Felix Siauw, Pandji, dst. Mereka inilah pemuda-pemuda yang rela korbankan diri demi tegaknya agama Allah. Bagaimana dengan kita?

Sudah janji Allah, Islam akan kembali menguasai dunia ini. Namun, siapakah yang akan menegakkannya  kalau bukan pemuda-pemuda Islam yang melakukannya? Inilah misi yang menjadi tanggung jawab generasi muda Islam di masa kini. Hanya pemuda-pemuda Islamlah yang mampu menyukseskan rencana tersebut. 

Merekalah yang akan menyadarkan umat, mendorong umat berjuang dan tidak diam saja terhadap kezaliman, membina umat agar sabar memikul beban dakwah ini. Saatnya muncul Panji-Panji zaman ini yang berani  membangkitkan kesadaran umat.

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update