Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Nasib Palestina Menderita Terus, Kapan Berakhir?

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T01:46:12Z

Oleh: Isti Ummu Zhiya

Penderitaan rakyat Palestina seolah tak bertepi. Setiap hari dunia disuguhi kabar serangan, pembunuhan, perampasan tanah, dan pengusiran paksa yang dilakukan oleh rezim Israel. Ironisnya, tragedi kemanusiaan ini terus berlangsung di hadapan mata dunia internasional yang mengaku menjunjung tinggi hak asasi manusia, namun gagal menghentikan kezaliman yang nyata.

Penjajahan yang Terus Berlangsung

Agresi Israel terhadap Palestina tidak pernah benar-benar berhenti. Di Gaza, korban tewas akibat serangan Israel telah mencapai puluhan ribu jiwa, mayoritas adalah perempuan dan anak-anak. Selain pembunuhan massal, Israel juga terus melakukan pencaplokan wilayah melalui ekspansi permukiman ilegal di Tepi Barat yang memecahkan rekor pada tahun 2025.Tidak hanya itu, Israel secara sepihak melarang 37 organisasi kemanusiaan untuk beroperasi di Palestina  (antaranews.com,31/12/2025). 

Kebijakan ini semakin memperparah krisis kemanusiaan, menutup akses bantuan makanan, kesehatan, dan kebutuhan dasar bagi warga Gaza yang telah lama hidup dalam blokade. Bahkan dalam skema gencatan senjata yang digadang-gadang dunia internasional, Israel tercatat melakukan ratusan pelanggaran dan terus menghambat tahap lanjutan kesepakatan. Berbagai negara Barat menyatakan “keprihatinan”, lembaga internasional mengeluarkan kecaman, dan tokoh-tokoh agama menyerukan pembukaan jalur bantuan. Namun fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya penderitaan Palestina justru semakin memburuk.

 Selama Israel Eksis, Palestina Tak Akan Merdeka

Realitas ini menegaskan bahwa penderitaan rakyat Palestina niscaya akan terus berlangsung selama negara Israel tetap eksis, baik diakui maupun tidak oleh dunia. Sejak awal berdirinya, Israel bukan sekadar entitas negara biasa, melainkan proyek kolonial yang dibangun di atas perampasan tanah dan darah rakyat Palestina.

Israel tidak pernah menyembunyikan ambisinya untuk mewujudkan Israel Raya, sekaligus memperluas pengaruh politik dan ekonomi global dengan segala cara, termasuk kekerasan, manipulasi opini, dan dukungan penuh dari kekuatan besar seperti Amerika Serikat. 

Maka, membiarkan Israel tetap berdiri sama artinya dengan membiarkan penderitaan Palestina berlangsung tanpa akhir.

Berbagai tawaran penyelesaian konflik yang dipimpin Amerika Serikat mulai dari solusi dua negara hingga skema gencatan senjata—terbukti hanya ilusi. Alih-alih membebaskan Palestina, skema tersebut justru memosisikan rakyat Palestina dalam jebakan penderitaan baru: wilayah terfragmentasi, kedaulatan semu, dan penjajahan yang dilegalkan secara politik.

Lebih jauh, sikap dunia Islam sendiri menjadi faktor krusial. Penguasa negeri-negeri Muslim banyak yang memilih diam, berkompromi, bahkan menormalisasi hubungan dengan Israel. Di tengah pengkhianatan ini, Palestina dibiarkan berjuang sendiri menghadapi mesin perang yang didukung kekuatan global.

Mengutuk Israel dan berharap belas kasih penjajah agar membuka jalur bantuan kemanusiaan jelas bukan solusi. Bantuan kemanusiaan penting, tetapi ia tidak akan pernah menghentikan penjajahan.

Khilafah sebagai Jalan Pembebasan Hakiki

Islam memandang Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan masalah akidah dan penjajahan atas tanah kaum Muslimin. Karena itu, penyelesaiannya tidak bisa parsial atau diplomatik semata, tetapi harus bersifat ideologis dan sistemik

Pertama, pengkhianatan penguasa Muslim harus dihentikan. Umat Islam harus disadarkan bahwa selama mereka terpecah dalam negara-negara nasional yang lemah dan tunduk pada kepentingan Barat, Palestina akan terus menjadi korban. 


Kedua, umat Islam perlu diyakinkan bahwa penderitaan Palestina baru akan berakhir dengan hadirnya negara adidaya Khilafah yang berfungsi sebagai junnah (perisai). Rasulullah Saw bersabda:

“Sesungguhnya imam (khalifah) itu adalah perisai; orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung dengannya.” (HR. Muslim).


Khilafah bukan konsep utopis, melainkan institusi politik Islam yang secara historis terbukti menjaga kehormatan umat dan membebaskan wilayah-wilayah yang dijajah. Dengan kekuatan politik, militer, dan persatuan umat, Khilafah akan mampu menghentikan agresi Israel dan membebaskan Palestina secara menyeluruh.


Ketiga, perjuangan menegakkan Khilafah Islam harus terus didorong dan dikuatkan di tengah umat dan dunia internasional sebagai solusi hakiki, bukan ekstremisme. Inilah jalan syar’i untuk mengakhiri penjajahan, bukan sekadar mengelolanya.


Keempat, umat Islam harus terus diingatkan bahwa Palestina adalah tanah milik umat Islam, tanah wakaf kaum Muslimin, yang haram diserahkan kepada penjajah. Membela Palestina bukan pilihan emosional, melainkan kewajiban syar’i.


Inilah jalan Islam yang selama ini ditinggalkan, sementara umat dipaksa berharap pada solusi yang berulang kali terbukti gagal. Setelah puluhan tahun penjajahan Israel atas Palestina, berbagai solusi politik internasional terbukti gagal menghentikan penindasan. Perundingan damai, resolusi PBB, hingga normalisasi hubungan justru kian menjauhkan Palestina dari kemerdekaan sejati.

Pertanyaan “kapan penderitaan Palestina berakhir?” sejatinya sudah memiliki jawaban. Selama Israel dibiarkan eksis dan umat Islam terus terpecah tanpa kepemimpinan politik Islam, penderitaan itu tidak akan pernah usai.

Sudah saatnya umat berhenti berharap pada solusi palsu dan mulai memperjuangkan solusi hakiki. Palestina tidak membutuhkan simpati sesaat, tetapi pembebasan total. Dan pembebasan itu hanya akan terwujud ketika umat Islam kembali bersatu dalam naungan Khilafah Islamiyah sebagai pelindung, pembela, dan penjaga kehormatan umat di seluruh dunia.


Wallahua'lambishowwab. . 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update