Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

“Muslimah: Careers, Choices, and Faith”

Wednesday, January 14, 2026 | Wednesday, January 14, 2026 WIB Last Updated 2026-01-14T15:49:36Z



By : Tsani Tsabita Farouq


Belakangan ini ruang publik terutama media sosial dipenuhi perdebatan tentang jalan hidup perempuan muslim. Nikah muda kerap dipromosikan sebagai pilihan hidup yang paling ideal, sementara pendidikan tinggi dan karier perempuan mulai dianggap kurang relevan. Bahkan, muncul narasi bahwa kuliah adalah “scam”, dan bekerja atau berkarier dianggap tidak sesuai dengan fitrah perempuan dalam Islam. Narasi ini muncul dari figur publik muda dengan kondisi ekonomi dan sosial yang relatif stabil, lalu dikonsumsi secara luas tanpa selalu diiringi pemahaman tentang kesiapan mental, finansial, dan realitas mayoritas perempuan muslim lainnya. 

Masalahnya bukan pada pilihan menikah muda itu sendiri. Islam tidak pernah melarang pernikahan di usia muda selama syarat dan tanggung jawabnya terpenuhi. Yang menjadi persoalan adalah ketika pengalaman personal yang lahir dari kondisi privilege tertentu digeneralisasi seolah menjadi standar kebenaran universal. Seakan-akan perempuan yang memilih kuliah, membangun karier, atau menunda pernikahan sedang menyimpang dari nilai Islam.

Padahal, Islam tidak pernah mempertentangkan iman dengan ilmu, atau pernikahan dengan produktivitas. Menikah adalah ibadah, tetapi bukan satu-satunya jalan hidup yang sah. Menuntut ilmu adalah kewajiban, tanpa pengecualian gender. Dan fitrah perempuan dalam Islam tidak pernah dimaknai sebagai ketidakberdayaan, apalagi pembatasan ruang tumbuh.

Ketika kuliah disebut sebagai “scam” dan karier perempuan dianggap melanggar fitrah, makna Islam justru dipersempit. Agama yang seharusnya memberi ruang dan membebaskan malah dipakai untuk membenarkan pembatasan, padahal Islam datang untuk menegakkan keadilan, termasuk dalam menghargai pilihan hidup perempuan.

Sering kali, narasi seperti ini lupa pada satu kenyataan bahwa tidak semua perempuan hidup dengan kondisi yang sama. Bagi banyak muslimah, sekolah dan bekerja bukan soal ambisi, melainkan ikhtiar bertahan hidup, menjaga martabat, dan tetap berkontribusi. Karena itu, Islam mengingatkan bahwa setiap kata adalah amanah, apalagi ketika disampaikan ke banyak orang dan bisa memengaruhi pilihan hidup mereka.

Allah Berfirman : “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Dari ayat tersebut, terlihat bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Fitrah perlu dikembalikan pada maknanya yang proporsional sebagai potensi dasar untuk beriman, berpikir, dan beramal, bukan sebagai label pembatas. Pilihan hidup seperti menikah, kuliah, atau berkarier adalah tanggung jawab personal, bukan ukuran kesalehan. Yang dinilai Allah bukan status sosial, melainkan ketakwaan. Karena itu, memahami Islam secara utuh menjadi penting, agar dakwah benar-benar membawa kebaikan, bukan kebingungan.

Sejarah Islam sendiri telah memberi teladan yang sangat jelas. Khadijah binti Khuwailid r.a. adalah pengusaha sukses, mandiri secara ekonomi, sekaligus istri yang mulia. Kariernya tidak mengurangi keimanannya justru menopang dakwah Rasulullah ﷺ. Aisyah r.a. dikenal sebagai perempuan berilmu, periwayat hadis, dan rujukan intelektual umat, tanpa pernah dianggap keluar dari fitrah. Asma’ binti Abu Bakar r.a. tampil sebagai sosok tangguh yang berperan strategis, baik dalam ranah domestik maupun sosial. Teladan ini menegaskan satu hal penting: Islam tidak pernah memusuhi karier, pilihan, atau peran publik perempuan. Yang Islam tentang adalah keadilan, tanggung jawab, dan kemuliaan akhlak bukan penyeragaman jalan hidup.

Muslimah, careers, choices, and faith bukanlah kontradiksi. Perempuan muslim berhak tumbuh, belajar, berkontribusi, dan memilih jalan hidupnya dengan sadar. Selama semua itu dijalani dalam koridor iman dan tanggung jawab, Islam tidak berdiri sebagai penghalang melainkan sebagai kekuatan yang memberdayakan.

Wallahu A'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update