Oleh : Kursiyah Azis ( Aktivis Muslimah)
Program Makan Bergizi (MBG) telah setahun digulirkan dengan gegap gempita. Pemerintah menaruh harapan besar pada program ini sebagai salah satu senjata utama menekan angka stunting yang telah lama menjadi masalah kronis bangsa. Anggaran pun mengalir deras, lalu dapur-dapur produksi didirikan di segala sudut kota dan daerah kemudian distribusi makanan ke anak-anak sekolah berjalan tertib. Namun satu pertanyaan mendasar mengemuka: mengapa stunting tetap bertahan?
Sebagaimana dilansir dari News ANTARA.Com (8/01/2026)- Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan tetap dijalankan meskipun libur sekolah atau selama Ramadhan kedepan. Program tersebut digadang-gadang akan menyasar ibu hamil dan menyusui serta anak di bawah usia lima tahun atau balita. Hal tersebut disampaikan oleh Dadan Hindayana selaku kepala BGN saat peninjauan SDN 01 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara. Pihaknya menyebut bahwa MBG bertujuan untuk menekan stunting sehingga selain siswa di sekolah-sekolah, program itu direncanakan akan menyasar para ibu hamil, menyusui dan balita.
Namun realitas di lapangan menunjukkan bahwa persoalan stunting tidak sesederhana urusan makan siang di sekolah. Data demi data memperlihatkan penurunan yang tidak signifikan, bahkan di beberapa wilayah stagnan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa MBG, meski penting, belum menyentuh akar masalah stunting secara menyeluruh.
*Stunting Bukan Sekadar Soal Makanan*
Stunting adalah problem struktural. Ia berkaitan erat dengan kemiskinan, sanitasi buruk, akses air bersih, pendidikan ibu, layanan kesehatan ibu dan anak, hingga ketahanan keluarga secara ekonomi. Program MBG yang fokus pada anak usia sekolah justru terkesan datang dengan sangat terlambat, sebab stunting paling menentukan terjadi pada 1.000 hari pertama kehidupan, sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, belum masuk usia sekolah.
Itu artinya, ketika seorang anak sudah duduk di bangku sekolah dan menerima manfaat MBG, kerusakan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis sering kali sudah terjadi dan sulit diperbaiki. Inilah ironi besar: anggaran berjalan, tetapi sasaran kunci terlewatkan.
*Masalah Tata Kelola dan Orientasi Program*
Selain soal sasaran, persoalan lain muncul dari tata kelola. Program berskala nasional dengan anggaran jumbo tersebut rawan menjadi proyek administratif. Fokus bergeser pada penyerapan anggaran, laporan kegiatan, dan pencitraan keberhasilan, bukan pada dampak jangka panjang bagi kualitas generasi yang notabenenya ia di gadang-gadang sebagai alasan utama di adakan MBG tersebut. Fakta ini telah tampak ketika banyak kasus murid keracunan MBG namun para penyelenggara lepas tanggung jawab.
Belum lagi ketimpangan distribusi. Wilayah dengan tingkat stunting tertinggi sering kali justru menghadapi keterbatasan infrastruktur, tenaga kesehatan, dan pengawasan gizi. Program seragam diterapkan pada kondisi daerah yang sangat beragam, sehingga efektivitasnya menjadi timpang.
*Stunting dan Sistem Ekonomi Kapitalis*
Lebih dalam lagi, stunting tak bisa dilepaskan dari watak asli sistem ekonomi kapitalis. Dimana sistem ini senantiasa menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar rakyat sebagai komoditas. Terbukti bahwa pangan bergizi masih mahal bagi keluarga miskin, lapangan kerja yang sulit, dan penghasilan sering kali tak cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu dan anak secara berkelanjutan.
Dalam kondisi seperti ini, MBG berfungsi layaknya penyangga sementara, bukan solusi tuntas. Ia menambal sebagian lubang, tetapi membiarkan lubang utama terbuka lebar. Sistem inilah yang melahirkan kemiskinan dan kerawanan gizi tetap bercokol bebas di tubuh generasi.
Olehnya itu maka, sudah saatnya kita melakukan evaluasi secara menyeluruh. Setahun MBG seharusnya menjadi momentum evaluasi jujur, bukan sekadar perayaan keberlanjutan program. Negara perlu berani mengakui bahwa stunting tidak bisa diberantas dengan pendekatan parsial. Dibutuhkan kebijakan yang menyentuh hulu, yakni pemenuhan gizi ibu hamil, jaminan pangan murah dan bergizi, layanan kesehatan gratis dan berkualitas, serta perbaikan kondisi ekonomi keluarga.
Karena tanpa itu semua, MBG berisiko menjadi program rutin tahunan yang hanya menghabiskan anggaran banyak, namun gagal total melahirkan generasi yang benar-benar sehat dan kuat.
*Sistem Islam: Negara sebagai Penjamin Gizi Rakyat*
Dalam perspektif Islam, negara memiliki tanggung jawab langsung sebagai ra’in (pengurus) urusan rakyat, termasuk pemenuhan kebutuhan pokok seperti pangan dan kesehatan. Negara tidak boleh menyerahkan urusan gizi anak pada mekanisme pasar atau sekadar program tambalan.
Islam mewajibkan negara menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu. Mulai dari ketersediaannya makanan bergizi, dan layanan kesehatan, hingga kesejahteraan keluarga secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan sistem ekonomi yang adil, pengelolaan sumber daya untuk kemaslahatan umat, serta kebijakan yang berpihak pada keluarga, stunting tidak ditangani dari hilir, tetapi dicegah sejak hulu.
Setahun MBG, semestinya telah memberi pelajaran penting bagi kita bahwasanya stunting tidak akan tumbang hanya dengan anggaran besar, tetapi dengan perubahan paradigma dan sistem yang menempatkan keselamatan generasi sebagai prioritas utama.
Sehingga dengan demikian maka sudah saatnya kita menerapkan sistem islam sebagai pengatur kehidupan, agar seluruh persoalan dapat tersolusi dengan cepat dan tepat sasaran. Wallahu alam.

No comments:
Post a Comment