Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Maraknya Kasus Konflik Guru dan Murid: Potret Kacaunya Pendidikan Sistem Sekuler

Wednesday, January 28, 2026 | Wednesday, January 28, 2026 WIB Last Updated 2026-01-28T12:29:12Z



Oleh. Intan Ummu Nara


Ruang pendidikan Indonesia kembali diguncang oleh peristiwa yang mencederai nurani. Sejumlah murid dilaporkan melakukan pengeroyokan terhadap guru, diduga sebagai reaksi atas ucapan sang guru yang dianggap merendahkan martabat mereka. Kasus semacam ini bukan yang pertama. Sebelumnya, publik juga disuguhi aksi mogok siswa, kekerasan verbal maupun fisik di sekolah, hingga gelombang perundungan terhadap guru di media sosial.


Rentetan peristiwa ini seharusnya menyadarkan kita bahwa persoalan pendidikan hari ini bukan sekadar soal disiplin murid atau pengendalian emosi guru. Ada masalah yang jauh lebih mendasar dan sistemik. Jika relasi guru dan murid—yang sejatinya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan—berubah menjadi konflik terbuka, maka ada yang keliru dalam cara pendidikan dirancang dan dijalankan.



Pendidikan yang Kehilangan Makna


Dalam praktiknya, pendidikan saat ini lebih sering dinilai dari capaian-capaian teknis: nilai akademik, kelulusan, peringkat sekolah, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Sekolah diperlakukan layaknya mesin produksi, sementara guru direduksi menjadi pelaksana kurikulum dan administrasi. Pendidikan pun kehilangan dimensi pembentukan karakter yang sejati.


Ketika sistem pendidikan tunduk pada logika kapitalistik, relasi guru dan murid pun bergeser menjadi relasi transaksional. Guru diposisikan sebagai penyedia jasa, murid sebagai konsumen. Dalam situasi seperti ini, wibawa moral guru melemah, sementara murid kehilangan kesadaran akan adab dan penghormatan terhadap ilmu.


Di saat yang sama, guru dibebani tugas administratif berlebihan, kesejahteraan yang sering kali tidak memadai, serta ancaman hukum yang membayangi setiap tindakan pendisiplinan. Tidak sedikit guru akhirnya terjebak pada dua sikap ekstrem: bersikap keras demi menegakkan aturan, atau memilih bersikap acuh untuk menghindari konflik. Keduanya sama-sama menjauhkan pendidikan dari hakikatnya.



Sekularisasi dan Krisis Adab


Akar persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari dominasi paradigma pendidikan sekuler. Dalam sistem ini, agama dipisahkan dari kehidupan, termasuk dari pendidikan. Nilai-nilai spiritual tidak lagi menjadi fondasi berpikir dan bertindak, melainkan sekadar pelengkap formal dalam kurikulum.


Akibatnya, tujuan belajar pun berubah. Ilmu tidak lagi dipahami sebagai sarana mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki diri, melainkan alat meraih status sosial dan pengakuan duniawi. Ketika orientasi ini menguat, adab terhadap guru dan ilmu menjadi sesuatu yang dianggap tidak relevan.


Syekh Taqiyuddin an-Nabhani menjelaskan bahwa perilaku manusia merupakan buah dari cara pandang yang dibentuk oleh sistem pendidikan dan lingkungan ideologisnya. Maka, ketika pendidikan dibangun tanpa landasan nilai yang kokoh, perilaku menyimpang—baik dari murid maupun guru—menjadi konsekuensi yang sulit dihindari. Kekerasan di sekolah bukanlah anomali, melainkan gejala dari krisis yang lebih dalam: krisis adab.



Islam dan Fondasi Pendidikan Beradab


Dalam Islam, pendidikan tidak pernah dilepaskan dari akidah. Ilmu, iman, dan amal merupakan satu kesatuan. Para ulama klasik bahkan menegaskan bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu. Sebab, ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan dan kerusakan.


Posisi guru dalam Islam sangat dimuliakan. Rasulullah ﷺ menyebut ulama sebagai pewaris para nabi, menandakan bahwa profesi pendidik bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah besar. Karena itu, tindakan merendahkan murid oleh guru maupun perilaku murid yang melampaui batas terhadap guru sama-sama bertentangan dengan nilai Islam.


Relasi guru dan murid dalam tradisi pendidikan Islam dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang. Murid dididik untuk menghargai ilmu dan orang yang menyampaikannya, sementara guru dituntut menjaga akhlak, kesabaran, dan tanggung jawab moralnya.



Solusi yang Bersifat Menyeluruh


Mengatasi krisis pendidikan tidak cukup dengan memperketat tata tertib atau menambah slogan pendidikan karakter. Islam menawarkan solusi yang bersifat menyeluruh dan mendasar. 

Pertama, pendidikan harus dikembalikan pada tujuan utamanya: membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. 

Kedua, akidah Islam perlu dijadikan landasan berpikir dalam seluruh proses pendidikan, bukan sekadar mata pelajaran tambahan.

Ketiga, guru harus dimuliakan secara moral dan dijamin kesejahteraannya agar mampu menjalankan peran sebagai pendidik sejati. Keempat, negara memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan sistem pendidikan berjalan sesuai nilai-nilai yang benar, bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja.


Sejarah mencatat bahwa pendidikan berbasis tauhid pernah melahirkan peradaban besar. Pada masa itu, lembaga-lembaga pendidikan Islam tidak hanya melahirkan ilmuwan unggul, tetapi juga manusia-manusia beradab yang mampu memikul tanggung jawab peradaban.



Kesimpulan


Kasus murid menyerang guru atau guru merendahkan murid adalah peringatan keras bahwa pendidikan kita sedang kehilangan arah. Selama sistem pendidikan masih berdiri di atas paradigma sekuler, berbagai upaya perbaikan hanya akan menyentuh permukaan.

Sudah saatnya umat berani meninjau kembali fondasi pendidikan dan mengembalikannya pada nilai-nilai Islam yang menjadikan akidah sebagai dasar, adab sebagai ruh, dan ilmu sebagai sarana membangun peradaban. Tanpa perubahan mendasar ini, konflik di dunia pendidikan akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.


Wallāhu a‘lam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update