Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

“Ketika Dunia Tersesat, Islam sebagai Cahaya Kepemimpinan Global”

Thursday, January 15, 2026 | Thursday, January 15, 2026 WIB Last Updated 2026-01-15T07:09:01Z



Oleh Khatimah

Pegiat Dakwah


“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107) Dalil tersebut membuktikan kasih sayang Allah terhadap mahluk-Nya. Allah Swt. mengutus manusia mulia yaitu Nabi Muhammad saw. menjadi Rasul dan pemimpin dunia secara global, dengan membawa kebaikan dan perlindungan bagi semua makhluk, baik yang menerima Islam maupun yang belum. 


Namun kini dunia telah banyak berubah. Tatanan global tidak lagi berdiri di atas nilai keadilan dan rahmat, melainkan berada di bawah dominasi Amerika Serikat beserta ideologi kapitalisme yang diusungnya. Ideologi ini menempatkan kepentingan ekonomi, kekuasaan, dan keuntungan materi sebagai tujuan utama, sehingga mengabaikan nilai-nilai moral dan kemanusiaan. 


Dampaknya, banyak negeri muslim terjebak dalam bentuk penjajahan baru, tidak lagi melalui penjajahan secara fisik, tetapi lewat kontrol politik, ekonomi, budaya, dan informasi. Umat Islam dibuat lemah secara struktural, menderita akibat konflik dan ketimpangan, serta perlahan dijauhkan dari identitas dan nilai Islam melalui arus sekularisasi yang masif. Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis dunia saat ini bukan sekadar krisis kekuasaan, tetapi krisis kepemimpinan global yang kehilangan orientasi rahmat dan keadilan.


Belum lagi kini umat dihadapkan dengan berbagai bencana ekologis yang melanda dunia. Hal tersebut menunjukkan konsekuensi langsung dari keserakahan kepemimpinan kapitalisme global. Alam diperlakukan semata-mata sebagai komoditas ekonomi yang boleh dieksploitasi tanpa batas demi pertumbuhan dan keuntungan segelintir pihak. Hutan ditebang, laut dirusak, tanah dieksploitasi, dan sumber daya alam dikeruk tanpa mempertimbangkan keseimbangan dan keberlangsungan hidup. 


Akibatnya, dunia menghadapi krisis iklim, bencana alam yang semakin sering dan ekstrem, serta rusaknya ekosistem yang mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Semua ini menunjukkan kegagalan kepemimpinan global kapitalistik yang kehilangan tanggung jawab moral, karena tidak amanahnya menjaga bumi sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.


Semua terjadi karena saat ini Amerika Serikat sebagai penggawa kapitalisme yang bermain dalam mengendalikan dunia. Kini Amerika Serikat semakin menunjukkan arogan dominasi kekuatannya di panggung dunia, dengan serangkaian ancaman dan tindakan militer yang menimbulkan ketegangan internasional, terutama terhadap Venezuela. 


Dalam beberapa bulan terakhir, AS telah meningkatkan tekanan militer di kawasan Karibia, melakukan serangan udara terhadap kapal-kapal yang diklaim sebagai jaringan narkotik dan menerapkan blokade terhadap kapal tanker minyak Venezuela. Hal ini menuai kritik luas karena dianggap melanggar hukum internasional dan kedaulatan negara lain. Operasi militer besar ini bahkan berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dalam sebuah aksi yang dipandang oleh banyak negara sebagai pelanggaran terhadap norma internasional dan prinsip non-intervensi. 


Berbagai negara dan organisasi internasional menyerukan restrain dan penghormatan terhadap hukum internasional, sedangkan Venezuela dan sekutu regional menyebut tindakan AS sebagai ancaman terhadap perdamaian dan kedaulatan negara berdaulat. Kondisi ini mencerminkan putusan (preseden) berbahaya di mana kekuatan militer dipakai untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi, bukan solusi damai yang menghormati hak bangsa lain. Inilah yang terjadi ketika dunia dikuasai oleh sistem kapitalisme sekuler.


Sungguh ideologi kapitalisme sekuler telah merusak sendi-sendi kehidupan umat Islam secara menyeluruh mulai dari:


Aspek akidah, umat dipisahkan dari agamanya (sekularisme) sehingga menganggap agama hanya dalam urusan ibadah dan private saja.


Aspek muamalah dan akhlak di mana nilai halal haram diganti standarnya dengan untung, rugi dan kebebasan tanpa batas, yang melahirkan individualisme, hedonisme, dan krisis moral.

 

Pada tataran ekonomi kapitalisme menciptakan ketimpangan, eksploitasi, dan ketergantungan melalui sistem ribawi dan penguasaan sumber daya alam oleh segelintir oligarki pemilik modal.


Dalam politik maupun sosial budaya di mana kedaulatan syariat tergerus oleh kepentingan kekuasaan dan tekanan global, juga sekularisasi.


Bahkan dunia pendidikan pun tidak luput dari kerusakan ideologi kepitalisme ini. Tujuan awal dari pendidikan adalah membentuk insan beriman dan berakhlak mulia. Namun kini digantikan oleh orientasi pasar dan karier semata, demi mendapat cuan, jabatan dan karier yang bagus. Nilai-nilai mulia bahwa menuntut Ilmu itu adalah sebuah kewajiban kini sudah berubah menjadi ajang perlombaan untuk menaikkan strata sosial saja. Keseluruhan dampak ini menunjukkan bahwa kapitalisme sekuler bukan hanya gagal membawa keadilan, tetapi juga secara sistemik melemahkan jati diri dan peradaban umat Islam.


Umat dibuat lemah dari berbagai arah. Selain itu, AS pun melakukan pengambilan paksa atau pencaplokan wilayah demi menguasai sumber daya alam dan menguasai negeri tersebut agar tunduk dibawah Amerika Serikat. Mereka sama sekali tidak peduli tatanan hukum internasional dan kecaman masyarakat dunia.


Sudah saatnya umat kembali pada ideologi yang sahih dan kaffah, yaitu ideologi Islam dan meninggalkan ideologi kapitalisme yang hanya memberi kemudaratan.

 

Ideologi Islam inilah yang sesungguhnya menjadi modal utama kebangkitan umat, karena ia tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur urusan politik, ekonomi, sosial, dan hubungan internasional. Dengan tegaknya negara Islam (khilafah) yang menerapkan sistem yang berlandaskan wahyu dan membawa rahmat serta keadilan, umat Islam memiliki kekuatan ideologis dan strategis untuk bangkit dari keterpurukan dan melawan hegemoni Amerika Serikat beserta ideologi kapitalismenya. 


Sistem Islam berfungsi sebagai pelindung umat, pemersatu kekuatan kaum muslim, serta penyeimbang dominasi global yang zalim, sehingga dunia tidak lagi dikuasai oleh arogansi kekuatan semata, melainkan oleh keadilan dan kemaslahatan bagi seluruh manusia.


Hal tersebut hanya akan terwujud apabila umat menjadikan kepemimpinan Islam (khilafah) sebagai satu-satunya cara untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang penuh rahmat dan keadilan. Kepemimpinan Islam yang setiap aturannya bersumber dari Al-Qur'an dan as-sunnah bukan sekadar alternatif semata, melainkan dijadikan solusi hakiki atas krisis global yang lahir dari ideologi sekuler dan kapitalistik. 


Dengan sistem Islam, kekuasaan diarahkan sebagai amanah, bukan alat penindasan; hukum ditegakkan demi keadilan, bukan kepentingan elite; dan hubungan antarbangsa dibangun di atas prinsip rahmat, bukan dominasi. 


Hanya dengan kembalinya sistem Islam (khilafah) yang dipimpin oleh khalifah, kehidupan dunia akan dapat ditata kembali sesuai fitrah manusia, tidak hanya melindungi umat Islam, tapi juga melindungi seluruh manusia dari kezaliman, kemunkaran, kemaksiatan, dan berbagai kerusakan atau bencana. Sehingga menghadirkan keamanan, kesejahteraan, dan kemaslahatan bagi seluruh alam.


Sebagaimana yang telah Allah janjikan kepada setiap penduduk bumi dalam Al-Qur'an surat Al-A'raf: 96, "Jikalau sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami itu), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya."


Wallahua'lam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update