Oleh. Yulia Ummu Haritsah
(Pendidik Generasi dan Pegiat Literasi Islami)
Ketika guru tak lagi menjadi panutan dan murid kehilangan kesopanan, apa yang bisa diharapkan dari dunia pendidikan hari ini?
Dikutip dari laman Kompas.com yang melansir berita dari Sumatra Barat, sebuah SMK menjadi viral setelah seorang guru mengacungkan sebilah celurit kepada murid. Peristiwa ini terjadi setelah sang guru dikeroyok oleh beberapa muridnya. Menurut pengakuan salah seorang murid, guru tersebut kerap melontarkan kata-kata kasar, penghinaan, bahkan melakukan pemukulan terhadap murid. Akumulasi kekesalan itulah yang akhirnya memicu para murid mengeroyok sang guru.
Guru yang seharusnya menjadi teladan—digugu dan ditiru—kini justru berhadap-hadapan sebagai lawan dengan anak didiknya. Di manakah marwah seorang guru? Dan di mana pula sikap takzim murid terhadap sosok penebar ilmu?
Dari kasus ini terlihat jelas adanya kemunduran etika dan adab antara pendidik dan peserta didik dalam dunia pendidikan saat ini. Ini bukan masalah sepele, melainkan problem serius yang harus segera diperbaiki. Proses belajar mengajar yang seharusnya berlangsung hangat dan penuh keteladanan justru berubah menjadi suasana penuh ketegangan, bahkan berujung pada kekerasan. Inilah buah dari sistem pendidikan sekuler-kapitalis yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Dalam sistem pendidikan berbasis Islam, tujuan pendidikan bukan sekadar mencetak manusia yang cerdas dalam sains dan teknologi, tetapi juga membentuk pribadi yang beradab, berakhlak mulia, dan bersosial sesuai nilai Islam. Sebagaimana Rasulullah saw. diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia.
Guru diposisikan sebagai panutan yang dihormati dan dicontoh. Proses pengajaran dilandasi kasih sayang dan keteladanan, sehingga tercipta keharmonisan antara guru dan murid. Murid pun akan menghormati serta memuliakan gurunya, dan hubungan keduanya dibangun atas dasar saling menyayangi.
Selain itu, peran negara sangatlah penting dalam mencetak generasi berakhlak mulia. Negara wajib menyusun kurikulum yang berlandaskan Islam, di mana setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam. Sebab, hanya Islam yang mampu menanamkan keteguhan iman bahwa setiap perbuatan dan tingkah laku manusia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.
Oleh karena itu, segera terapkan sistem kehidupan Islam agar kehidupan ini mendapatkan kasih sayang-Nya, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.
Wallahu a'lam bishawab.

No comments:
Post a Comment