Oleh: Nayla Adzkiya Amin
Sudah beberapa waktu yang lalu atau bahkan hingga saat ini Jakarta dan kota di sekitarnya terendam banjir. Satu banjir di wilayah belum selesai tetapi wilayah lain sudah kembali mulai, entah sampai kapan ini semua usai.
Polemik seperti ini cukup membuat Jakarta lumpuh, terganggunya akses perkantoran, rute transportasi umum, hingga kerugian akibat rumah yang tak lagi layak huni. Jika masalah sudah seperti ini, hujan atau tatanan kota yang perlu diperbaiki? Ini salah curah hujan tinggi atau egois manusia yang sudah tidak terkendali?
"BPDB saat ini mencatat terdapat sebanyak 52 RT dan 17 ruas jalan yang tergenang" (29/01/2026). Masalah ini bukan hanya sekali dialami warga Jakarta, ini adalah masalah menahun yang entah sampai kapan usai. Lantas jika kejadian buruk ini dialami setiap tahun kita masih terus abai dan kembali lagi dan lagi menyalahkan curah hujan yang tinggi? Faktanya adalah curah hujan yang tinggi sungguh tidak dapat dihindari, tapi seharusnya bukankah kita dapat belajar dari kondisi?
Tata ruang yang kurang memadai menjadi masalah utama saat ini, memberikan ruang untuk air mengalir dan irigasi adalah hal sulit. Lantas jika sudah terjadi seperti ini, kemana air akan mengalir selain pada pemukiman rendah milik warga?
Solusi yang diberikan pemerintah saat ini adalah modifikasi cuaca. Menurut Pramono Anung, Gubernur Jakarta pada 28 Januari 2026 mengatakan bahwa “Kalau hari ini tadi pagi jam 07.00 pagi tidak kita naikkan OMC-nya, pasti cuacanya berbeda dengan apa yang kita rasakan pada saat ini,”
Melakukan modifikasi cuaca kali ini bukanlah yang pertama kali dilakukan oleh pemerintah. Hasil yang dihasilkan tentu saja instan, tanpa perlu banyak waktu masalah yang dihadapi sudah usai. Tapi apakah benar-benar usai, atau justru solusi seperti ini harus berulang?
Saat ini kita menemukan fakta bahwa banyak sekali bangunan dan pembangunan yang ada di kota tidak mempertimbangkan ruang air, pasalnya Jakarta dan wilayah di sekitarnya merupakan dataran rendah, tentu saja air mengalir dari dataran tinggi ke dataran yang rendah. Tentu saja sebagai kota yang berada di dataran rendah pemerintah kembali harus memperhatikan sistem irigasi air dan akan bermuara di mana air berakhir. Jika tidak diperhatikan, maka kejadian seperti ini akan terus berulang.
Dalam Islam, pembangunan masif tanpa memikirkan dampak pada lingkungan tentu saja tidak akan terwujud. Islam tidak memikirkan keuntungan materealistik saja seperti saat ini, namun banyak hak-hak manusia yang tentu saja wajib dipenuhi.
Tata ruang yang akan dibentuk pada saat Islam hadir adalah dengan memikirkan semua kelayakan hidup makhluk hidup, bukan hanya manusia saja. Dengan pertimbangan yang matang, tentu saja Islam selalu ingin setiap pembangunan untuk mewujudkan rahmat bagi seluruh alam, bukan bencana apalagi kebanjiran.
Wallahu 'alam bish shawab

No comments:
Post a Comment