Oleh : Inge Oktavia Nordiani (Pemerhati Sosial)
Baldatun thayyibatun warabbun ghafur artinya negeri yang baik dan subur serta (Tuhanmu) adalah yang Maha Pengampun. Sebuah kalimat dalam Al -Qur'an (TQS as-Saba' : 15) yang menunjukkan gambaran kondisi suatu negeri yang diimpikan setiap waktu oleh penduduknya. Namun hal tersebut tampak masih jauh panggang dari api untuk bangsa Indonesia. Kondisi mencekam akibat bencana di beberapa daerah di Sumatra sampai hari ini tidak dikategorikan sebagai Bencana Nasional. Padahal kondisi sebenarnya di sana sangat representatif untuk status Bencana Nasional.
Narasi yang bergulir, yaitu Indonesia Gelap bukanlah tanpa pondasi. Tahun 2025 seharusnya menjadi babak baru sebuah perubahan seiring dengan bergantinya seorang pemimpin. Tetapi rupanya Indonesia masih dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Dalam sebuah wawancara, Prof. R Siti Zuhro, Profesor Riset BRIN ketika ditanya secara politik, apa indikator Indonesia selama 2025 dikatakan gelap? Beliau menjawab, indikator utama Indonesia gelap dalam politik mencakup krisis kepercayaan publik, ketidakpuasan terhadap kebijakan pemerintah (seperti efisiensi anggaran yang dianggap merugikan rakyat, kebijakan ekonomi, dan hukum), maraknya politik uang, hoaks, serta kesenjangan antara elit dan rakyat.
Kompleksnya permasalahan yang masih terjadi di negeri ini tidak terlepas dari pilihan rujukan sistem yang diterapkan. Bukan masalah sosok penguasa yang telah terbukti silih berganti, namun tidak signifikan di dalam sebuah perubahan.
Cendekiawan muslim, M. Ismail Yusanto berpandangan dari perspektif Islam bahwa berbagai persoalan yang melanda negeri ini merupakan pasar atau kerusakan yang ditimbulkan karena tindakan manusia sendiri. Sebagaimana yang tertuang di dalam Al-Qur'an Surat ar-Rum ayat 41.
Selama ini di tengah-tengah masyarakat terbukti hidup dalam lingkungan aturan sekularisme. Hal itulah yang mengantarkan pada kerusakan yang terjadi dengan segala kompleksitasnya. Akankah 2026 Indonesia lebih gelap? Ya, bila tidak sampai menyentuh akar persoalan yang seharusnya.
Hampir di seluruh lini kehidupan masih tertoreh goresan-goresan luka akibat kebijakan yang sekuler kapitalistik. Dari sisi ekonomi sebagian besar penduduk tidak jauh dari garis kemiskinan. Kelas menengahpun berkurang. Kondisi sosialpun tampak jauh dari kata cerah. Angka kriminalitas dan kekerasan gender masih meninggi. Banyak rumah tangga yang terjebak pinjaman online, bahkan judi online menyasar seluruh kalangan.
Dari sisi politik dan demokrasi ruang sipil semakin sempit. Aktivis kelompok masyarakat sipil hingga kalangan kritis menghadapi tekanan. Mereka sudah tidak lagi leluasa berekspresi. Hukum terasa tajam ke bawah tumpul ke atas. Belum lagi utang negara kita yang tampak mustahil untuk dihentikan. Oleh karena itu, tidak keliru jika sebagian kalangan berpendapat jika akar masalahnya adalah sistem, maka solusinyapun harus menyentuh sistem.
Tentu kita sebagai bangsa tidak menginginkan Indonesia terus berlarut-larut dalam kegelapan. Kegelapan harus dihapuskan dengan nyala cahaya yang terang-benderang. Tampaknya kita sebagai manusia sudah terlalu lama jauh dari tuntunan yang datang dari Pemberi cahaya.
Umat harus berjuang demi perubahan. Sesungguhnya Allah SWT telah menurunkan sebuah risalah melalui Nabi Muhammad SAW sebuah pedoman Al-Qur'an sebagai jalan hidup. Islam hadir sebagai solusi peradaban bukan sekedar semboyan. Dalam Islam kekuasaan bukan komoditas politik tetapi sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Dalam bidang ekonomi, Islam membangun sistem yang menolak dominasi kapitalis dan menghapus pemusatan kekayaan pada segelintir orang. Islam juga memiliki konsep keadilan sosial yang bukan sekedar jargon. Zakat, distribusi kekayaan, larangan riba, aturan kepemilikan, penegasan peran negara dalam menjamin kebutuhan rakyat.
Semuanya bukanlah teori kosong. Apabila berkaca pada fakta sejarah tidak dapat dipungkiri bahwa Islam pernah memimpin dunia. Islam pernah membangun peradaban maju stabil dan adil. Oleh karena itu, kembali pada Islam adalah satu-satunya jalan kebangkitan. Pasalnya, kita menyerahkan pengaturan dari dangkalnya pemikiran manusia pada pengaturan mulia Sang Pencipta.[]

No comments:
Post a Comment