Oleh Santika
Pemerhati Remaja
Peristiwa pembunuhan seorang ibu oleh anak
perempuannya yang terjadi di Medan Pada Rabu (10/12/2025) sekitar pukul 04.00
WIB, AL anak perempuan korban terbangun
dan mengambil pisau untuk melukai korban yang notabene adalah ibu kandungnya
sendiri yang sedang tertidur. Akibatnya korban menderita 26 tusukan. Setelah
ditelusuri motif yang melatar belakangi terjadinya kasus ini adalah karena AL
merasa sakit hati oleh ibunya yang telah menghapus game online miliknya. Game
sudah menjadi dbagian dari hidup AL. AL adalah anak yang gemar bermain game
online dan juga melihat tontonan anime yang berbau kekerasan dengan menggunakan
pisau. Sehingga menjadi inspirasi kasus pembunuhan ibunya sendiri. Sumber:
kompas.com, (29/12/2025)
Belum
usai satu kasus yang dilakukan oleh remaja, muncul kembali kasus teror pemboman
di 10 sekolah di kota Depok, yakni SMA Arrahman, SMA
Al Mawaddah, SMA 4 Depok, SMA PGRI 1, SMA Bintara Depok, Budi Bakti, SMA Cakra
Buana, SMA 7 Sawangan, SMA Nururrahman, dan SMAN 6 Depok menerima ancaman teror
bom pada Selasa (23/12). Ternyata setelah melakukan pendalaman oleh
polisi setempat pelakunya adalah Tersangka berinisial
HRR berusia 23 tahun dan berstatus sebagai mahasiswa. Ia dijerat dengan UU ITE
dan KUHP. Sementara motif yang menjadi latar belakang melakukan teror karena
sakit hati lamarannya ditolak mantan kekasihnya yang berinisial K. cnnindonesia.com, (26/12/2025)
Berbagai kasus yang dilakukan oleh remaja mulai dari kasus pembunuhan terhadap ibu kandungnya sendiri, teror bom, bullying sampai kasus bundir memperlihatkan lemahnya mental anak anak remaja Salah satunya di akibatkan oleh game online yang sedang digandrungi dan menjadi fomo dikalangan remaja. Game online manjadi bagian jati diri remaja dengan dunianya. Akhirnya segala yang dilakukan di game online mereka ikuti tanpa ada filter yang jelas. Tentunya hal ini lambat laun memengaruhi jiwa dan mental kaum remaja.
Data terbaru dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJI) pada tahun 2023 mencatat peningkatan signifikan pengguna internet di Indonesia, yang mencapai 215 juta orang. Namun di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) juga mengungkap bahwa indeks keahlian dalam teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia masih terbilang rendah. Rentang usia pengguna yang kecanduan game online cukup luas, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Data BPS tahun 2023 menunjukkan bahwa sekitar 46,2 persen anak-anak dan remaja usia nol hingga 18 tahun mengalami kecanduan game online. Sedangkan 38,5 persen dari usia 18-25 tahun dan 15,3 persen di atas 25 tahun. (ybkb.or.id). Melihat data tersebut dapat dikatakan remaja Indonesia darurat game online.
Flatform digital di era kapitalisme sekularisme sangatlah tidak netral. Di dalamnya banyak sekali nilai-nilai yang merusak moral generasi, yang dikemas cantik dalam sebuah game yang menarik perhatian dan membuat kecanduan. Semua itu tentunya dilakukan dalam rangka meraup keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan apakah hal itu bisa merusak mental kaum remaja ataupun tidak.
Generasi yang seharusnya menjadi generasi emas justru berbalik arah menjadi generasi cemas. Diperparah ketidak mampuan negara dalam melindungi generasi dari dampak buruk games online. Negara seolah abai dan menutup mata.
Remaja adalah aset bangsa yang seharusnya dijaga dan dijauhkan dari kontaminasi hal-hal buruk terutama akibat dari games online. Dalam Islam remaja adalah generasi penerus yang akan melanjutkan estafet perjuangan. Maka dari itu sistem Islam akan melindunginya dengan sebaik-baiknya perlindungan. Negara akan Turun tangan dalam penjagaan aset generasi ini. Karena itu merupakan kewajiban. Dalam sistem Islam digitalisasi akan manjadi wasilah bagi kemajuan generasi dan akan senantiasa mengawasi kemajuannya. Tentunya hegemoni digital di era kapitalisme akan dilawan oleh hegemoni digital dalam sistem Islam.
Tidak cukup hanya dengan negara saja, tapi semua elemen akan serta merta bahu membahu dalam penjagaan generasi, mulai dari ketaqwaan individu, keluarga, masyarakat tentunya dan juga oleh negara sebagai pemangku kekuasaan yang akan menerapkan berbagai kebijakan yang akan menyokong generasi emas.
Mulai dari kebijakan dalam hal pergaulan, sosial, ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hukum dan lain sebagainya. Tentunya dengan diterapkannya sistem Islam kelak generasi akan terjaga dari berbagai pengaruh negatif. Wallahualam bisshawab.

No comments:
Post a Comment