Oleh : Ruji'in ( Relawan Opini Andoolo, Sulawesi Tenggara)
Tehnologi merupakan algoritma digital yang berkembang pesat dan mengalami kemajuan yang tinggi di era modern ini. Kecanggihan algoritma ini telah memberi kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses segala sesuatu. Namun kegunaan pada digital tersebut disalahgunakan oleh masyarakat kususnya generasi saat ini. Tehnologi ibarat pisau bermata dua. Dapat dimanfaatkan dengan misi yang tepat dan juga berbahaya jika dimanfaatkan dengan cara pandang yang salah. Algoritma terkadang memicu penggunanya pada prilaku yang amoral seperti kekerasan, bullying, pembunuhan hingga ancaman bom yang dilakukan oleh remaja.
Seperti dilansir Medan, Kompas. Com - Polrestabes Medan mengungkap kronologi dugaan pembunuhan seorang ibu oleh anaknya yang berusia 12 tahun, di kota Medan. Kapolrestabes Medan Kombes Calvin Simanjuntak menyampaikan sebelum kejadian, korban bersama dua anaknya tidur dalam satu kamar dilantai satu. "Adiknya mengambil pisau, membuka bajunya dan melukai korban", pada senin (29/12/2025).
Jakarta, CNN Indonesia - Pihak kepolisian telah menetapkan seorang tersangka dalam kasus dugaan teror bom terhadap sepuluh sekolah di kota Depok, Jawa Barat. " Akibat dari pengancaman yang dilakukan oleh tersangka menimbulkan rasa takut, keresahan pada lingkungan sekolah-sekolah yang menerima pengancaman tersebut". Kata Reskrim Polres Metro Depok Kompol Made Gede Oka Utami mengutip Detik, jumat (26/12/2025).
Masyarakat Indonesia menjadi pecandu berat game online dari anak-anak hingga orang dewasa. Padahal penggunanya dapat terpapar berbagai kasus kekerasan akibat terinspirasi game online. Seperti bullying, pembunuhan, bunuh diri dan lainnya. Problem yang terjadi seperti ini seharusnya menjadi perhatian bagi pihak penguasa. Apa lagi dunia digital yang mengandung kekerasan begitu bebas dan mudah diakses sehingga berpengaruh pada emosi dan kesehatan mental ketika salah digunakan.
Generasi saat ini disebut juga digital native bukan lagi lahir dibuku tebal tetapi ditengah layar. Dan hidup dizaman yang serba instan dan cepat, dari scroll media cepat, informasi deras, hiburan tak pernah berhenti, bahkan cepat juga dalam pindah prinsip. Mereka sangat rentan dengan informasi yang menyesatkan dimedia sosial. Saat ini bisa dikatakan sangat akrab dengan keseharian mereka. Informasi yang tersaji didalamnya tanpa sadar akan mempengaruhi pemikiran mereka.
Saat ini ruang digital tanpa sadar telah dikendalikan oleh kapitalisme global untuk meraup keuntungan tanpa memperdulikan kerusakan generasi karena kapitalisme global melihat ruang digital sebagai ladang keuntungan bukan ranah pendidikan dan pembinaan moral generasi. Generasi muda tanpa sadar telah menjadi objek bisnis para kapitalis. Mereka menyajikan modal besar dengan data pengguna, waktu yang dihabiskan diplatform dan paket transaksi digital. Tanpa disadari mereka telah disuguhi konten yang melalaikan, menghanyutkan dan menjerat emosi termasuk kekerasan. Algoritma bekerja bukan untuk menyelamatkan iman dan akhlak tapi untuk mengikat perhatian agar tercipta konsumen. Sehingga generasi tidak dinilai dari taqwanya atau kontribusi terhadap umat tetapi dari followersnya dan seberapa besar dirinya dipasar digital. Tanpa disadari inilah penjajahan gaya baru yang merusak generasi. Bukan ditampilkan dengan senjata tapi dengan konten dan candu layar. Ketika nilai diatur oleh kapitalisme maka kebebasan tanpa batas yang menjadi standarnya. Ruang digital yang berasal dari sistem yang cacat ini telah mencetak tatanan keluarga yang rapuh, masyarakat yang tidak terkontrol dan negara yang gagal menjalankan peran perlindungan secara optimal. Akibatnya kedaulatan digital hingga kini masih jauh dari harapan.
Islam datang sebagai mabda atau ideologi hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia termasuk tehnologi dan media. Islam sangat memuliakan potensi generasi dan juga menegaskan tehnologi harus tunduk pada akidah bukan yang tunduk pada algoritma. Generasi bukan diciptakan untuk target pasar digital tetapi menjadi pengemban risalah dan memberi arah bagi perubahan peradaban. Allah SWT menitipkan misi besar dibenak umat yaitu membentuk generasi pelopor perubahan, generasi yang dekat dengan robb nya dan tahu arah hidupnya serta mampu mengaplikasikan ilmu agamanya untuk perubahan umat. Demikianlah Islam yang tidak menutup diri dalam memanfaatkan kecanggihan tehnologi namun mempunyai pengaturan dan pengawasan dalam arus digitalisasi supaya tidak terbawa dampak negatif dari algoritma.
Waallahu'alam Bish-shawab.

No comments:
Post a Comment