Oleh: drh. Siska Pratiwi
Aktivis Dakwah dan Praktisi Dokter Hewan
Generasi hari ini khususnya kalangan gen-Z dikenal sebagai _digital native_ . Yakni generasi yang lahir di era kecanggihan teknologi dan keberlimpahan informasi. Generasi yang telah menghuni era digital bahkan sebelum duduk di bangku pendidikan formal. Kemajuan teknologi digital memang menjadi temuan besar yang membawa manusia abad ini pada masa dimana komunikasi dan diseminasi/penyebaran informasi tidak lagi terhalang batas teritori. Namun bak pisau bermata dua, era digitalisasi tidak hanya membawa pengaruh yang positif bagi generasi. Ada bayang-bayang besar dari pengaruh negatif yang mengancam identitas dan mentalitasnya.
Teknologi dan platform digital saat ini tidaklah bebas nilai ataupun netral, melainkan sarat akan nilai dan norma yang berpotensi memengaruhi psikologi penggunanya dalam menemukan jati diri. "Arsitektur" dunia digital memanfaatkan data dan informasi pengguna, serta algoritma yang dirancang sedemikian rupa untuk mengaruskan informasi yang disetujui dan dianggap layak sesuai nilai yang diadopsi pihak pemilik/penyedia platform tersebut. Tak heran, kerap kali terjadi pembatasan terhadap konten/tayangan yang menurut pihak pemilik platform digital bertentangan dengan kebijakan mereka, padahal konten/tayangan tersebut berkenaan dengan suara aktivisme, perjuangan global, suasana politik dan lain-lain. Sebagai contoh, dalam aktivisme pro palestina lewat platform digital beberapa tahun terakhir, banyak konten yang menyuarakan Palestina dan menampakkan kejinya zionis penjajah justru dibatasi sampai mengalami _takedown_ /penghapusan konten sepihak.
Dari sisi neurosains, platform digital bekerja dengan memanipulasi kerja otak lewat konten _short_ yang ringan, lucu, atau sesuai pelacakan algoritma yang diminati pengguna, ditambah fitur interaksi di dalamnya. Hal ini memicu _dopamin shoot_ /pelepasan dopamin sehingga pengguna mengalami _scrolling compulsive_ beranda media sosial hingga tersadar sudah menghabiskan banyak waktu dalam genggaman gawai (Kanal Pengetahuan Psikologi UGM, 25/6/2025). Overstimulasi dopamin berdampak pada individu yang menjadi sulit untuk fokus, menunda pekerjaan, hingga muncul rasa cemas dan takut tertinggal informasi atau tren kekinian alias FOMO ( _fear of missing out_ ). Konsumsi konten digital yang _unfaedah_ dan berulang juga beresiko menurunkan daya pikir kritis dan daya ingat yang lebih dikenal sebagai fenomena _brain rot_ (pembusukan otak) (Muslimahnews.net, 21/12/2025).
Pengaruh media sosial juga memunculkan fenomena _echo chamber_ dan polarisasi sosial. Algoritma bekerja dengan memperkuat _confirmation bias_ , yakni kecenderungan otak untuk lebih menerima informasi yang sejalan dengan keyakinan yang sudah dimiliki. Akibatnya, otak terbiasa dengan pola berpikir yang instan dan cepat, tanpa perlu menghabiskan banyak waktu untuk memproses suatu informasi dengan lebih mendalam. Dalam hal ini, algoritma dan viralitas menjadi standar baru yang menyetir dan membentuk arah, tujuan, gaya hidup, hingga kepribadian penggunanya. Ditambah, sistem bisnis dunia digital yang didasari paradigma kapitalis hari ini, telah mengubah pengguna platform yang semula murni pengguna menjadi target pasar promosi tren seperti _food, fun, and fashion_ (3F). Dibalik kemudahannya, arus digital dan media sosial berpotensi menimbulkan depresi mental, _anxiety_ , hingga _body dismorpya_ lewat konten _flexing_ , tindakan _cybercrime_ dan _cyberbullying_ .
Bagaimana Islam menuntun kita bertahan menghadapi tentangan era digital yang memberi tekanan pada identitas dan mental?
Prof. Fahmi Amhar, salah seorang Profesor Peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI, pada forum Ngobrol Ideologis yang diadakan oleh Komunitas Literasi Islam (KLI) mengatakan,
_“Islam tanpa teknologi akan terjajah dan teknologi tanpa Islam akan menjajah”_
Pernyataan ini dapat menjadi gambaran kondisi generasi muslim di era digitalisasi yang kian masif. Adanya teknologi dan segenap platform media sosial yang seharusnya memudahkan, nyatanya bisa menjerumuskan dan mengikis identitas serta mentalitas generasi muda. Sehingga, penting bagi seorang muslim untuk memiliki resiliensi/ketahanan dalam menyikapi pemanfaatan era digitalisasi ini. Syakhsiyah atau kepribadian islam yang dibangun atas landasan pola pikir ( _'aqliyah_ ) dan pola sikap ( _nafsiyah_ ) menurut yang digariskan oleh Islam akan menjadi pegangan yang ideal dalam menghadapi tantangan dunia digital. Sehingga, generasi dapat menjadi pengguna yang bijak menyaring informasi dan justru memanfaatkan media sosial untuk menyuarakan kebenaran dan kebaikan, bukan justru tenggelam dalam kesia-siaan.
_WalLahu a'lam bi ash-shawab_

No comments:
Post a Comment