Oleh. Sri Rahayu Lesmanawaty (Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
“Dan hendaklah orang-orang takut kepada Allah, bila seandainya mereka meninggalkan anak-anaknya, yang dalam keadaan lemah, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan mengucapkan perkataan yang benar”. (an-Nisa’: 9).
Pemuda Dan Realita Saat Ini
Saat ini peran pemuda terdistorsi. Orientasi hidup yang diarahkan pada kehidupan yang materialistis, sekuler dan liberal menjadikan pemuda berlomba-lomba mengejar kebahagian tanpa mengindahkan aturan agama. Pemuda menjadi labil, tidak memiliki standar jelas dalam pengambilan keputusan. Meningkatnya kasus bunuh diri, penggunaan narkoba, seks bebas dan beragam tindak kriminal menghiasi ritme kehidupan pemuda. Mereka bertanya, namun bukan pada orang atau sesuatu yang tepat. Mesin digital dipercaya sebagai penyolusi walau harus mati atau mematikan. Mati rasa, mati hati.
Pemuda Pengukir Peradaban
Indonesia sebagai negara dengan pemeluk Islam terbesar di dunia dan juga terdiri dari bermacam-macam agama lainnya, tentunya bisa dikatakan sebagai negeri yang religius. Dengan kondisi masyarakat yang ditopang dengan keyakinan agama, diharapkan mampu melahirkan generasi yang berkuallitas, terdidik oleh keyakinan dan aturan yang benar.
Seiring dengan itu tentunya ukiran yang ditoreh pun menghasilkan wujud perubahan kepada peradaban yang cemerlang. Seharusnya.
Dengan predikat yang melekat sebagai agent of change dan juga social control, para pemuda memiliki potensi yang begitu besar, pemikiran yang matang, kepekaan terhadap lingkungan sekitar tinggi, bersemangat dan berani dalam membela kebenaran, harusnya pemuda disegani dan diharapkan oleh umat sebagai pembawa perubahan sebagai pengukir peradaban cemerlang.
Namun apa mau dikata, pemuda sengaja disibukkan dengan perkara-perkara dunia. Lupa pada tujuan hidup mereka yang sebenarnya sebagai seorang Muslim yang mampu berperan sebagai agen perubahan hakiki.
Melalui sistem pendidikan sekuler paham dan ide kebebasan, pluralisme, moderasi, HAM, antiradikalisme yang justru bertentangan dengan Islam bahkan untuk menyerang Islam, pemuda dialihpandangkan pada ukuran dunia saja. Belum lagi arus liberaliasi melalui 5F (fun, food, fashion, film, faith) dan 1S (sing) yang juga begitu deras diaruskan, semakin melenakan para pemuda pada kemewahan dunia, kesenangan semata. Peran pengukir peradaban cemerlang menjadi terabaikan.
Pemuda dalam Islam
Sebagai calon pemimpin di masa yang akan datang pemuda dalam Islam sangat diperhatikan dan diperhitungkan. Kepribadiannya dibentuk sesuai Islam dan aspirasinya didengarkan sebagai wujud panggilan iman untuk ber-amar makruf nahi munkar. Pendidikan keyakinan kepada Allah SWT dengan akidah yang ditanamkan sejak awal di dalam keluarga, disertai masyarakat sebagai lingkungan tempat belajar pemuda secara langsung dalam kebiasaan amar makruf nahi munkar, juga negara yang membentuk lingkungan yang baik bagi perkembangan pemuda dengan menyusun kurikulum yang mengantarkan pada tercapainya kepribadian Islam dengan bekal tsaqafah Islam ataupun ilmu di bidang sains dan teknologi sebagai pengembangan potensi dan keintelektualan para pemuda, membuat persiapan pemuda menjadi pemimpin terbaik adalah niscaya.
Dalam Islam para pemuda akan memainkan peran mereka untuk berbuat sebaik-baiknya demi kemaslahatan umat dan kemuliaan Islam. Mereka menunjukkan jati diri sesuai suri tauladan yang sesungguhnya. Role model terbaik, Rasulullah Muhammad Saw..
Fenomena hari ini, konsekuensi dari korelasi antara kegagalan pemahaman Islam yang belum memadai menjadikan pendidikan yang ada dikuatkan dengan memahami agama agar sesuai dengan semangat Islam, dan pemuda pun mampu mewarisi kepemimpinan yang diluruskan agama, tanpa jiwa korup tanpa kezaliman.
Oleh karena itu dalam kondisi bangsa yang karut marut, membina generasi muda dan mendidik mereka dengan Islam adalah suatu keniscayaan. Inilah antara lain tugas besar dari para pemimpin agar dapat mewariskan kepemimpinan yang lurus dan meluruskan, selurus para pemimpin Islam pada masanya.
Wallaahu a'laam bisshawaab.

No comments:
Post a Comment