Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Lemahnya Generasi Akibat Konten Digitalisasi

Wednesday, December 03, 2025 | Wednesday, December 03, 2025 WIB Last Updated 2025-12-03T05:27:55Z

 


Oleh : Nuri (Pegiat Literasi)


Di zaman sekarang, rasanya hampir semua kalangan masyarakat mengakses media sosial atau ruang digital baik itu orang dewasa, remaja bahkan anak kecil sekali pun. Media sosial (Medsos) telah berhasil menjadi candu sehingga banyak orang lebih memilih menghabiskan waktunya di Medsos dibandingkan dengan keluarganya. Selain itu para ahli teknologi juga berlomba-lomba membuat platform atau aplikasi digital sehingga kebanyakan orang lebih memilih bekerja di ruang digital seperti konten kreator. 


Sebenarnya menjadi konten kreator tidak salah, asalkan konten yang dihasilkan bisa memberikan manfaat positif bagi orang lain. Akan tetapi yang terjadi sekarang, banyak para konten kreator (influencer) malah memberikan contoh yang negatif, asalkan bisa tranding walaupun konten yang dihasilkan tidak ada faedahnya. Belum lagi tontonan atau film-film seperti pornografi, LGBT, dan tindakan kekerasan yang mulai diwajarkan padahal ini sangat berbahaya karena dapat mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku. Sebagaimana yang terjadi di Jakarta pada 11 November kemarin, seorang pelajar SMA melakukan aksi teror di sekolah menggunakan bom rakitan dan melukai 96 siswa yang sedang melaksanakan ibadah shalat di mesjid sekolah.


Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri menerangkan bahwa dari hasil analisis ponsel dan aktivitas di internet diketahui bahwa pelaku tertarik atau menyukai konten kekerasan dan hal-hal yang ekstrem. (ccnindonesia.com/30/11/2025) 


Berita di atas menunjukkan bahwa Medsos menjadi salah satu wadah penyebaran konten berbahaya yang kerap sekali disalahgunakan, apalagi dengan algoritma yang sering kali menampilkan konten yang serupa berdasarkan riwayat pencarian membuat pengguna tanpa sadar terpapar ide yang berbahaya. 


 *Sistem Kapitalis Melemahkan Generasi* 


Hal ini terjadi karena negara menerapkan Sistem Kapitalis yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat dan menjadikan materi sebagai tolak ukur kebahagiaan, jadi selama konten yang diuanggah ke media digital tidak melanggar kepentingan umum maka negara akan membiarkan saja tanpa melihat dari segi kemanfaatannya. Selain itu di tangan para penguasa Medsos dimanfaatkan untuk ladang mencari keuntungan, sebagaimana yang disampaikan oleh Praktisi Pendidikan Vita Yulia Indrasari. 


“Selama ada permintaan, maka ada pasar. Tidak ada batasan halal haram, maka wajar selama suatu negara menganut kapitalisme liberalisme, konten media terkait pornografi, pornoaksi, kekerasan, berita bohong, dan gaya hidup akan senantiasa ada bahkan menjamur,” ujar Vita. (MuslimahNews.com/1/12/2025) 


Para influencer akan senantiasa membuat atau menyebarkan konten positif atau negatif dengan tujuan mendapatkan uang. Padahal tanpa disadari media sosial adalah pintu dari segala tindakan kekerasan, yang di mana telah menjadikan masyarakat kecanduan sehingga pola pikir, tingkah laku akan mencerminkan apa yang dilihat, dan didengar. Selain itu, maraknya konten-konten yang memperlihatkan gaya hidup yang mewah membuat generasi muda fomo atau ikut-ikutan walaupun terkendala ekonomi tetapi dipaksakan sehingga banyak yang depresi, terlilit utang pinjol, riba, judi dan lainnya. 


Begitulah Sistem Kapitalis dengan segala kerussakannya. Negara tidak mampu mengatasi atau mengontrol konten-konten negatif yang bisa merusak generasi, alhasil negara telah melahirkan generasi muda yang split personality, rapuh, dan sekuler (jauh dari agama).


 *Sistem Islam Melahirkan Generasi Kuat* 


Berbeda dengan itu, dalam sistem pemerintahan IsIam (Khilafah), negara bertugas sebagai perisai atau pelindung umat, sehingga negara yang akan bertanggung jawab penuh terhadap urusan umat. Khilafah memegang teguh syariat sebagai aturan yang mengatur dan menjadikan tolak ukur umat dalam beraktivitas, seperti tiga pilar yang senantiasa menjaga penerapannya, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan juga kontrol negara yang konsisten menerapkan syariat.


Setiap individu akan dibekali dengan pendidikan akidah yang takut akan Tuhan sehingga generasi yang tercipta adalah generasi yang berakhlak dengan psikologi yang tangguh yang memanfaatkan media sosial atau ruang digital sebagai sarana menyebarkan agama Allah Swt dan negara sebagai pengontrol Medsos sehingga generasi bisa terhindar dari kemudharatan.  


Begitu pula dengan masyarakat yang bertugas sebagai pengingat. Dalam Islam manusia ditugaskan untuk saling mengingatkan ketika beramar maaruf nahi mungkar, sehingga dengan bermasyarakat yang taat akan syariat akan menjadi kontrol jika ada yang berbuat keburukan. Sehingga jelaslah jika idealnya negari muslim harus mengganti sistemnya dengan menerapkan sistem Islam yaitu Khilafah. Dengan begitu semua masalah bisa teratasi dengan baik, hal ini terbukti karena Islam pernah memimpin peradaban emas dunia selama 13 abad. Wallahu’alam bishowab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update